New Normal, MUI: Umat Islam Wajib Salat Jumat di Kawasan Terkendali

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh./dok pribadi.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Umat Islam sudah diwajibkan salat Jumat di kawasan terkendali. Apalagi saat ini Pemerintah melalui juru bicara Covid-19 telah menjelaskan adanya new normal Covid-19.

Menindaklanjuti hal itu, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh menegaskan, pada kawasan yang sudah terkendali, umat Islam memiliki kewajiban untuk melaksanakan salat Jumat.

“Dengan kondisi ini, berarti sudah tidak ada lagi uzur syar’i yang menggugurkan kewajiban Jumat. Dan karenanya, berdasarkan kondisi faktual yang dijelaskan ahli yang kompeten dan kredibel, umat Islam yang berada di kawasan yang sudah terkendali wajib melaksanakan salat Jumat. Pemerintah wajib menjamin pelaksanaannya”, ujar Niam dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5), seperti dilansir detik.com.

Terlebih, tambah dia, kawasan yang sama sekali tidak ada penularan dan terkendali sejak awal. Terdapat 110 kabupaten dan kota terdiri dari 87 wilayah daratan dan 23 wilayah kepulauan yang belum ada kasus positif Covid-19.

Hal ini menurut Niam, sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 yang menyatakan, “Dalam kondisi penyebaran Covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan salat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak, seperti jemaah salat lima waktu/rawatib, salat tarawih dan Id di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19”.

Pemerintah, lanjut dosen pascasarjana UIN Jakarta ini wajib memfasilitasi pelaksanaan ibadah umat Islam di kawasan yang sudah terkendali.

Hal ini ditandai adanya pelonggaran aktivitas sosial yang berdampak kerumunan, melalui relaksasi.

Untuk pelaksanannya, Niam mengingatkan umat Islam agar tetap menjaga kesehatan, berperilaku hidup bersih dan sehat, membawa sajadah sendiri, dan melaksanakan protokol kesehatan agar tetap dapat mewujudkan kesehatan dan mencegah terjadinya penularan.

Dalam konteks new normal, Niam menyampaikan ada beberapa kondisi yang bisa diadaptasi. “Setidaknya ada tiga kondisi dalam adaptasi terhadap situasi baru ini. Pertama, melakukan dengan new normal secara permanen seperti PHBS, zakat berbasis daring, sedekah. Ada yang masih dalam kondisi kesementaraan, seperti jaga jarak saat ibadah. Ada yang balik ke lama seperti tata cara pelaksanaan kewajiban ibadah mahdlah,” tutur akademisi UIN Jakarta ini.

New normal menurut Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan Covid-19, Ahmad Yurianto, adalah hidup sesuai protokol kesehatan untuk mencegah virus corona (Covid-19). Karena itu, jaga jarak hingga menggunakan masker akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun hidup dengan normal yang baru ini tak ada kaitannya dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dia menegaskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak pernah memerintahkan untuk melonggarkan PSBB. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Prof. Afif Muhammad: "Kalau Tak Ada Internet Kita akan Bengong"

Jum Mei 29 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Segala sesuatu itu pasti ada manfaat dan sisi mudaratnya, kata Prof. Afif Muhammad dalam tausiahnya terhadap civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung yang menggelar Halalbihalal 1441 H melalui telekonferensi aplikasi zoom dan disiarkan secara langsung pada kanal Youtube Humas UIN SGD Bandung, […]