Search
Close this search box.

Nilai Ajaran Rasulullah SAW akan Tetap Abadi

Ilustrasi./visi.news/Pinterest.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Pernyataan musisi dan tokoh publik Rhoma Irama yang menyebut kemungkinan hilangnya organisasi besar seperti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memantik diskusi luas di ruang publik. Ia menekankan bahwa sebagaimana Islam pernah berjaya lalu hilang secara politik di Andalusia, sebuah organisasi keagamaan pun bisa mengalami kemunduran atau bahkan lenyap. Namun, menurutnya, ajaran Rasulullah SAW tidak akan pernah hilang.

Secara historis, Islam di Andalusia memang menjadi contoh kuat bagaimana sebuah peradaban besar bisa runtuh. Selama hampir delapan abad, Islam berkembang pesat di wilayah Spanyol modern, melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan, filsafat, dan budaya. Namun pada akhir abad ke-15, kekuasaan politik Islam berakhir. Meski demikian, nilai-nilai keilmuan dan etika yang diwariskan tetap memengaruhi peradaban dunia hingga kini.

Pengamat sejarah Islam, Dr. Ahmad Munif, menyatakan bahwa hilangnya institusi atau kekuasaan tidak identik dengan hilangnya ajaran. “Sejarah menunjukkan bahwa struktur bisa runtuh, tetapi nilai yang bersifat universal akan terus hidup dan diwariskan lintas zaman,” ujarnya dalam sebuah diskusi kebudayaan Islam.

Dalam konteks Indonesia, PBNU sebagai organisasi Islam terbesar memiliki peran strategis dalam pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Namun para ahli menilai bahwa keberlangsungan organisasi mana pun sangat bergantung pada kemampuan menjaga relevansi, etika kepemimpinan, dan kesetiaan pada nilai dasar ajaran Islam, bukan semata pada kekuatan struktur.

Rhoma Irama menegaskan bahwa ajaran Rasulullah SAW bersifat abadi karena berlandaskan misi utama kenabian. Ia mengutip hadis terkenal, “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak” yang berarti Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Pesan ini, menurutnya, melampaui batas organisasi, golongan, dan simbol formal keagamaan.

Pakar akhlak Islam dulu Prof Zakiah Daradjat, dalam bukunya menjelaskan bahwa inti ajaran Islam memang terletak pada pembentukan karakter. “Akhlak mulia adalah fondasi utama. Bahkan seseorang bisa mencerminkan nilai Islam meskipun tidak secara eksplisit membawa identitas atau simbol keagamaan,” jelasnya.

Baca Juga :  Klarifikasi Menkes Redam Kekhawatiran Publik Usai Pasien ‘Super Flu’ Meninggal di Bandung

Ia menambahkan bahwa tantangan umat Islam saat ini adalah kecenderungan fanatisme sempit. Banyak umat, menurutnya, lebih diajarkan untuk loyal pada tafsir kelompok atau mazhab tertentu, bahkan pada kelompok masyarakat yang mengaku sebagai keturunan nabi, bukan pada visi besar Rasulullah SAW tentang keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan.

Data survei sosial keagamaan dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan meningkatnya kelelahan publik terhadap konflik internal berbasis identitas keagamaan. Hal ini memperkuat pandangan bahwa masyarakat semakin merindukan teladan Islam yang substantif, tercermin dalam perilaku dan akhlak, bukan sekadar label.

Para ahli sepakat bahwa organisasi Islam, termasuk PBNU, akan tetap relevan selama mampu menjadikan visi kerasulan sebagai poros perjuangan. Namun jika terjebak dalam konflik kekuasaan dan kehilangan keteladanan moral, sejarah menunjukkan bahwa organisasi bisa melemah. Sebaliknya, ajaran Rasulullah SAW tentang kemuliaan akhlak diyakini akan terus hidup dan abadi sepanjang zaman.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :