Osteoporosis Bisa Dilawan dengan Ikan Teri dan Bayam, Ini Penjelasan Perwatusi

Editor Dokter Rieva Ermawan, spesialis ortopedi dan traumatologi, pembicara dalam workshop penanganan nyeri punggung./visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SOLO –  Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi), mencanangkan gerakan melawan osteoporosis untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan pengeroposan tulang di usia lanjut.

Gerakan yang melibatkan semua lapisan masyarakat termasuk kalangan milenial berusia relatif muda, bertujuan agar gangguan osteoporosis yang berdampak pada mobilitas dan produktivitas dapat dicegah sedini mungkin dengan cara mudah dan sederhana.

Ketua Perwatusi Surakarta, Sri Sunarsih Moerbono, di sela pencanangan gerakan yang dipusatkan di kompleks perumahan UNS Jati, Kabupaten Karanganyar, Selasa (2/8/2022), mengungkapkan kepada VISI.NEWS, saat ini kepedulian masyarakat terhadap gangguan osteoporosis, khususnya di wilayah Surakarta, masih sangat rendah.

“Penderita gangguan pengeroposan tulang atau osteoporosis dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Gangguan osteoporosis ada yang disebut syaraf kejepit, yang menjadikan penderitanya kesulitan bergerak. Gerakan ini untuk membangkitkan kesadaran, gangguan itu bisa dicegah sejak dini,” ujarnya.

Sri Sunarsih Moerbono yang akrab disapa Asih, menyatakan, berdasarkan data persentase penderita gangguan osteoporosis yang terbanyak adalah wanita. Di antara penyebabnya, kaum wanita mengalami gangguan pertumbuhan zat kalsium pembentuk tulang, sejak proses hamil, melahirkan dan menyusui.

“Di kalangan wanita, setiap tiga orang terdapat seorang yang mengalami osteoporosis. Sedangkan di kalangan pria, persentasenya setiap 5 orang terdapat seorang yang osteoporosis. Melalui gerakan daerah melawan osteoporosis ini, Perwatusi berupaya agar penderita osteoporosis terus berkurang,” jelas Asih.

Treatment untuk mencegah terjadinya osteoporosis, menurut Ketua Perwatusi itu, sebenarnya sangat mudah dengan banyak latihan, biayanya tidak perlu mahal, dan dengan cara sederhana.

“Kalau kita terbiasa latihan olahraga ringan dan berjemur tiap hari sudah bisa mencegah osteoporosis. Karena vitamin D saat berjemur menguatkan pertumbuhan tulang. Selain itu juga membiasakan diri mengonsumsi makanan dengan kandungan kalsium tinggi, seperti ikan teri atau sayuran bayam dan semacamnya. Semua itu sangat sederhana dan tidak mahal,” tandasnya.

Baca Juga :  Tak Lulus pada Gelombang Pertama PPDB, Siswa Bisa Mendaftar Kembali di Gelombang Kedua

Setelah berlalunya masa pandemi, sambungnya, dia berharap kebiasaan menjaga kesehatan khususnya agar tidak terkena osteoporosis perlu dijaga. Dia menekankan, saat ini merupakan momentum untuk kembali menggalakkan pencegahan osteoporosis melalui gerakan serempak di semua lapisan masyarakat.

“Data pasti angka penderita gangguan osteoporosis memang belum ada. Tetapi yang pasti jumlah penderita selalu bertambah. Gerakan melawan osteoporosis penting karena selama dua tahun masa pandemi kegiatan Perwatusi melakukan pencegahan osteoporosis vakum,” ungkap Sri Sunarsih Moerbono lagi.

Ketua Perwatusi menyatakan prihatin, karena kesadaran masyarakat terhadap bahaya osteoporosis, terutama di kalangan warga pedesaan masih sangat rendah. Dia melihat,  banyak masyarakat menganggap enteng gangguan osteoporosis yang sebenarnya merupakan silent killer.

“Osteoporosis tidak memberikan gejala apa pun bagi penderitanya.  Tiba-tiba akan terjadi patah tulang akibat pengeroposan tulang sejak usia muda. Ini fatal sekali,” tegasnya.

Dalam pencanangan gerakan melawan osteoporosis tersebut, juga digelar workshop penanganan terkini nyeri punggung bawah pada lansia, dengan pembicara dokter Rieva Ermawan, spesialis ortopedi dan traumatologi, RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso.

Di depan lebih dari 100 peserta workshop beragam usia, dokter Rieva menyebutkan, gangguan osteoporosis paling sering terjadi di pergelangan tangan dan tulang pinggul, yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai penyakit biasa.

“Tulang kan merupakan penyangga tubuh. Usia yang paling berisiko terkena osteoporosis adalah lansia di atas 50 tahun. Kalau mengetahui ada gejala itu, hendaknya dilakukan pencegahan secara rutin, seperti senam osteoporosis tiga kali seminggu selama 30 menit. Jangan sampai terlambat. Jika ada yang menganggap gejala itu gangguan biasa bisa fatal,” tuturnya, sambil memberikan contoh gerakan senam sederhana untuk mencegah osteoporosis. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Bakal Dihadiri Pemimpin Kota Dunia, Kota Bandung Siap Gelar Urban 20

Sel Agu 2 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Kota Bandung akan menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Ketahanan Pangan bertajuk Urban 20, 3-4 Agustus mendatang. Urban 20 merupakan pertemuan para pemimpin kota dunia untuk membahas isu-isu perkotaan, termasuk isu ketahanan pangan. Acara ini sebagai bagian dari agenda Presidensi G20 Indonesia. Kepala Dinas Ketahanan […]