Pak Amas pun Selalu Rindu “TO” Jika Bertandang ke Kota Tasik

Ceu Dadah, salah seorang pedagang nasi TO saat melayani pembeli di warungnya, Minggu (28/6)./visi.news/dok.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Pak Amas sekeluarga, kalau sedang berkunjung ke Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tak lupa selalu meluangkan waktu untuk bersahabat dengan TO yang selalu dirindukannya.

Penduduk Pasirkoja, Kelurahan Babakantarogong, Kecamatan Bojongloakaler, Kota Bandung, itu menuturkan kesan saat merasakan sensasi TO. Ya, TO alias tutug oncom Tasikmalaya.

Kudapan kuliner yang satu ini seakan sudah menjadi ciri khas dan tak dapat dipisahkan dari nama “Kota Santri” Tasikmalaya.

Jika berkunjung atau datang ke “Kota Santri” dan tidak merasakan atau mencicipi nasi tutug oncom, terasa ada yang janggal atau kurang, seperti yang dirasakan Pak Amas sekeluarga.

“Jika keluarga datang ke Tasik sekadar silaturahmi dengan saudara yang berada di kota ini, pasti rindu nasi tutug oncom dan keluarga pribumi pun kerap menawari kami,” ungkapnya kepada VISI.NEWS baru-baru ini.

Dijelaskan Pak Amas , memang ada perbedaan rasa antara nasi tutug oncom buatan “Kota Santri” dan buatan “Kota Kembang” Bandung.

“Sensasi rasa inilah yang membuat saya bersama keluarga kalau bertandang ke Tasik, pasti menyantap tutug oncom di malam hari,” imbuh Pak Amas.

Perbedaan yang dirasakan, tambahnya, dalam penyajian serta menu lauk pauk serta rasa oncomnya sendiri.

“Terutama sambel goangnya yang benar-benar bikin ‘seuhah’,” tandasnya.

Sementara itu, Ceu Dadah salah seorang pedagang nasi tutug oncom di Kampung Babakan, Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Kota Tasikmalaya, menuturkan, menyantap nasi tutug oncom yang pas memang di malam hari.

“Saena mah wengi nuang tutug oncom teh. Da karaosna benten. Margi cuacana tiis ongkoh deui seueur nu begadang, pasti lalapar,” kata Ceu Dadah dalam logat Sunda.
Tak banyak berbeda dengan nasi tutug oncom lainnya, namun yang membawa kenikmatan adalah suasana saat menyantapnya.

“Janten pami nuangna pas waktu oge pas tempat, tangtos karaos nikmat,” tutur Ceu Dadah lagi masih dalam logat Sunda.

Peluang usaha

Sensasi inilah yang dirasakan dan membawa berkah bagi para pedagang nasi tutug oncom. Dalam arti, membuka peluang untuk berjualan nasi tutug oncom haruslah menguasai selera konsumen.

Kenapa harus malam hari?

Seperti yang diketahui, malam hari adalah suasana yang tidak disibukkan dengan setumpuk pekerjaan atau dijauhkan dengan sederet agenda kunjungan dan lain sebagainya.

Malam hari adalah suasana tenang. Kalaupun dihadapkan pada pekerjaan, itu tidak berarti sesibuk saat siang hari. Bahkan malam hari kerap diidentikkan dengan begadang, sambil ngobrol “ngaler ngidul” bersama keluarga, kolega, atau rekan sekampung dan yang lainnya.

Suasana berkumpul dengan keluarga pun kadang terasa lebih harmonis, yaitu di malam hari. Di saat inilah sensai kudapan tutug oncom akan menemani dengan rasa yang luar biasa.

Modal yang enteng

Dari penuturan Ceu Dadah, awal berjualan nasi tutug oncom atas dasar mengisi kejenuhan karena suaminya pergi merantau ke luar pulau untuk bekerja mencari nafkah. Bahkan pulangnya pun terjadwal, yakni satu tahun sekali.

“Ngawitan icalan mah nya kitu tea, tambi kesel. Saalit balanja beas ge sakilo, oncom we sababaraha gebleg sareng bumbu sanesna,” kata Ceu Dadah sambil tersenyum dalam logat Sunda.

Nasi tutug oncom Ceu Dadah dengan menu lauk pauk yang sederhana, seperti bala -bala, goreng tempe, goreng tahu dan gehu serta sambel juga mentimun dan leunca mulai dikenal konsumen, khususnya penikmat kudapan yang satu ini.

“Alhamdulillah ayeuna tos nambihan ti ngawitan sakilo ayeuna tos 3 kilo beas. Rencangna ge sami nambihan, utamina adonan bala-bala sareng goreng tempe,” tuturnya.

Omzetnya dalam satu hari, mulai buka pukul 18.15 hingga 01.00 WIB dini hari bisa mencapai kurang lebih Rp 500.000.

“Nya lumayan we kangge bantos bantos kaperyogian sadidinten,” tuturnya lagi.

Kepiawaian Ceu Dadah dalam mengolah nasi tutug oncom didapatnya dari keseharian atau otodidak.

“Mung nu pasti mah abdi ningal pun biang kapungkur sok ngadamel. Nya dicobian. Hasilna alhamdulillah kaangge,” tandasnya.

Ciri khas yang membawa nikmat nasi tutug oncom adalah sambel. Sambel ada beberapa jenis yang disajikan. Mulai sambel goang, sambel terasi, sambel tomat hingga sambel oncom itu sendiri.

Pada umumnya penyajian sambel yang sering diminati adalah sambel goang. Karena jenis sambel ini “seuhah”-nya lebih terasa bila dibanding dengan jenis sambel yang lainnya.

Sementara lauk pauk yang menemani nasi tutug oncom ditentukan selera. Pada umumnya terdiri dari goreng tempe, goreng tahu, bala-bala, gehu serta beragam goreng ikan asin. Untuk jenis sayurannya ada tiga jenis, yakni leunca, mentimun, dan terong muda atau terong galatik.@ budi s. ombik

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Update Corona 30 Juni: 56.385 Positif, 24.806 Sembuh, 2.876 Meninggal

Sel Jun 30 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Jumlah kumulatif kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia hingga Selasa (30/6) mencapai 56.385 orang. Dari jumlah tersebut, pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 24.806 orang dan 2.876 orang lainnya meninggal dunia. “Kita mendapatkan kasus konfirmasi positif hari ini 1.293 orang sehingga total konfirmasi menjadi 56.385 orang,” kata Juru Bicara […]