VISI.NEWS | BEIJING – Dengan latar belakang bekas tungku peleburan dan peninggalan industri di Shougang Park, Beijing bagian barat, Pameran Perdagangan Jasa Internasional Tiongkok 2025 (China International Fair for Trade in Services/CIFTIS) resmi dibuka pada Rabu, menegaskan komitmen pada pasar terbuka dan inovasi digital.
Tahun ini menandai pertama kalinya seluruh pameran digelar di Shougang Park, sebuah kawasan warisan industri seluas 3 kilometer persegi sekaligus salah satu venue Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Dengan tema “Merangkul Teknologi Cerdas, Memberdayakan Perdagangan Jasa”, fokus acara ini menggema jauh melampaui batas Tiongkok.
Skala CIFTIS 2025 sangat besar, melibatkan 85 negara dan organisasi internasional — termasuk Australia, Jerman, serta Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia. Hampir 2.000 perusahaan ikut berpameran di lokasi, termasuk hampir 500 perusahaan Fortune Global 500 dan pelaku industri terkemuka seperti Walmart, AstraZeneca, dan KPMG. Peserta pameran datang dari 26 dari 30 negara dan wilayah teratas dunia dalam perdagangan jasa.
Transformasi ekonomi global, di mana sektor jasa kini menjadi tulang punggung pertumbuhan, menjadi sorotan utama dalam pidato dan diskusi pada KTT Perdagangan Jasa Global yang digelar Rabu, diselenggarakan bersama oleh Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Kementerian Perdagangan Tiongkok, serta Pemerintah Kota Beijing.
“Jasa bukan lagi aktor pendukung dalam perdagangan global. Ia adalah penggerak pertumbuhan,” kata Johanna Hill, Wakil Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Ia menekankan bahwa sektor jasa menyumbang dua pertiga perekonomian global, setengah dari total lapangan kerja, serta 40 persen arus perdagangan dalam nilai tambah.
Sejalan dengan Hill, Pedro Manuel Moreno, Wakil Sekretaris Jenderal UNCTAD, menyebut jasa sebagai “pusat transformasi ekonomi global.” Ia memaparkan angka mencolok — ekspor jasa tumbuh dua kali lebih cepat dibanding ekspor barang dalam satu dekade terakhir, naik dari 22 persen dari total ekspor dunia pada 2014 menjadi 27 persen pada 2024. Jasa juga menyerap lebih dari separuh investasi asing langsung global.
Tiongkok memanfaatkan platform ini untuk menegaskan kembali komitmennya pada keterbukaan. Dalam pidato kunci, Wakil Perdana Menteri Tiongkok Ding Xuexiang menyampaikan bahwa skala perdagangan jasa Tiongkok “mencapai terobosan baru pada 2024, untuk pertama kalinya melampaui 1 triliun dolar AS.” Ia mengaitkan hal ini dengan pembukaan kelembagaan sektor jasa Tiongkok, termasuk penerapan daftar negatif nasional untuk perdagangan jasa lintas batas, perluasan akses pasar di sektor telekomunikasi dan kesehatan, fasilitasi perdagangan jasa, serta kebijakan bebas visa.
Data resmi menunjukkan nilai total perdagangan jasa Tiongkok naik 8 persen secara tahunan menjadi 3,9 triliun yuan (sekitar 548,82 miliar dolar AS) pada paruh pertama 2025 — mencatat rekor sejarah.
Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao menyoroti bagaimana lokasi penyelenggaraan, Shougang Park, memadukan warisan industri dengan warisan Olimpiade Musim Dingin untuk mendorong interaksi antara pameran, konferensi, bisnis, pariwisata, budaya, dan olahraga.
Isu kolaborasi internasional kembali menjadi topik utama pada hari pembukaan.
Australia tampil sebagai Negara Kehormatan pada CIFTIS 2025. “Ini adalah platform penting bagi kami untuk membangun hubungan antara dunia usaha Australia dan Tiongkok,” ujar Duta Besar Australia untuk Tiongkok, Scott Dewar. Ia menekankan kehadiran 60 perusahaan Australia pada pameran tahun ini — mencakup sektor pendidikan, pariwisata, keuangan, kesehatan, arsitektur, serta makanan dan minuman.
Sentimen serupa disampaikan langsung di arena pameran. “Australia dan Tiongkok telah lama berkolaborasi di sektor pendidikan, yang merupakan bidang kunci dalam perdagangan jasa,” kata Christopher Hogg, Manajer Pengembangan Bisnis Global di Chisholm Institute of TAFE, penyedia pelatihan vokasi dan pendidikan tinggi asal Australia.
Henning Kristoffersen, penasihat komersial Kedutaan Besar Norwegia di Beijing, yang hadir untuk ketiga kalinya, menyoroti peluang bisnis konkret. “Konsumen Tiongkok sangat peduli kesehatan. Dan untuk produk yang kami miliki di Norwegia, ini sangat bagus,” ujarnya, menyebut suplemen Omega-3 dan minyak ikan sebagai contoh. “Perusahaan kami punya peluang besar untuk memamerkan produk dan bertemu calon mitra Tiongkok.”
Lebih dari sekadar pertemuan diplomatik dan bisnis, pameran ini juga menjadi ajang peluncuran inovasi. Sebanyak 113 perusahaan akan memperkenalkan 198 produk dan pencapaian baru pada edisi 2025 — meliputi bidang kecerdasan buatan, kesehatan, logistik pintar, serta integrasi bisnis dengan pariwisata, budaya, olahraga, dan kesehatan.
Selain agenda inti berupa 13 forum tematik, 82 forum khusus, dan 81 pertemuan bisnis promosi — tersedia lebih dari 40 kegiatan pendukung mulai dari pertunjukan budaya, pasar pop-up hingga acara olahraga, bertujuan mendorong konsumsi dan memperkaya pengalaman pameran.
“Saya merasa terinspirasi dengan konten yang akan kita lihat, termasuk teknologi inovatif dan digitalisasi,” kata Crystal Edn, Direktur Eksekutif Layanan Anggota di World Trade Centers Association, yang untuk pertama kalinya menghadiri CIFTIS.
Acara ini akan berlangsung selama lima hari hingga 14 September — dengan tiga hari pertama diperuntukkan bagi pengunjung profesional dan dua hari terakhir terbuka untuk umum.
@uli