Pandemi Covid-19 Tak Pengaruhi Harga Sayur Mayur di Tasikmalaya

Editor Utan melakukan perawatan rutin tanaman mentimunnya. /visi.news/budi s ombik
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Harga sayur mayur di pasar lokal Kota Tasikmalaya saat pandemi Covid-19, belum mengalami kenaikan harga yang berarti.

Seperti jenis sayuran mentimun. Di kalangan petani lonjakan harga jual dari hasil panen dirasakan masih normal, kisaran Rp. 3.000 hingga Rp. 3.500 per kilo gramnya.

Hal itu diakui Utan (63) seorang petani ketimun dan kacang kacangan warga Kampung Nyantong, Kelurahan Kahuripan Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Meski harga di pasar masih relatif stabil, permintaan mentimun dan kacang kacangan dari pedagang ke petani, tidak berubah.

“Bahkan diantara pedagang pasar ada yang datang langsung ke kebun,” kata Utan saat ditemui di kebun mentimun Jl. Cibogor, Cisalak Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Minggu (12/9/2021).

Mentimun yang di tanam di lahan seluas 87 tumbak, dalam sekali panen bisa menghasilkan 3,5 kwintal.

“Kalau panen mentimun kan kontinyu. Maksudnya dalam satu minggu bisa empat kali,” tambahnya.

Masa Panen

Disebutkan, masa tanam mentimun ke panen hanya memerlukan waktu 35 hari. Untuk selanjutnya panen bisa dilakukan “selang satu hari”

“Jadi kalau sudah panen pertama selanjutnya bisa di panen kembali, dengan jarak waktu satu hari,” jelasnya.

Lama masa panen mentimun ditentukan oleh pupuk. Pupuk kandang seperti kotoran domba, ayam, kelinci dan marmot akan memberi kesuburan pohon juga mempercepat panen.

Di sisi lain, kekuatan tanaman mentimun mampu bertahan tiga bulan.

“Lepas tiga bulan kita ganti dengan tanaman serupa yang baru,”cetusnya.

Sementara lahan yang digunakan untuk penanaman sayuran, bukan lahan hak milik melainkan lahan sewa.

Pembayarannya pun di tentukan masa panen padi selama enam bulan sekali, dengan harga sewa bervariasi dan ditentukan luas lahan.

Baca Juga :  Polisi Ringkus Sembilan Begal Sepeda Motor di Bekasi

“Untuk lahan yang ditanami mentimun saya sewa dengan harga Rp. 500 ribu per satu kali panen padi,” tuturnya lagi.

Berbeda dengan lahan yang digunakan penanaman kacang kacangan. Lahan ini di sewa dengan harga Rp 600, dengan hitungan sama.

“Perbedaannya adalah luas lahan yang ditanami. Untuk mentimun 87 tumbak. Sedangkan yang ditanami kacang kacangan lebih luas dari itu,”
pungkasnya.

Untuk saat ini, kacang kacangan belum bisa di panen karena usianya masih muda dari usia tanam. @bik

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Untuk Efisiensi, FSGI Dukung Penghentian Dana BOS Bagi Sekolah dengan Murid Kurang dari 60 Orang

Sen Sep 13 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendukung penghentian dana bantuan operasional sekolah (BOS) bagi sekolah dengan jumlah peserta didik di bawah 60 orang. Sekretaris Jenderal FSGI, Heru Purnomo mengatakan, dukungan terhadap kebijakan ini untuk efisiensi anggaran dan mengoptimalisasi pemerataan sumber daya manusia. “Jumlah peserta didik yang rendah membuat […]