Para Pemenang Penghargaan Piala Eropa 2020

Editor Aleksander Ceferin dan Gianluigi Donnarumma./twitter/via bolaskor.com/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Piala Eropa 2020 telah berakhir setelah satu bulan berlangsung. Timnas Italia keluar sebagai juara dan meraih titel Piala Eropa kedua setelah terakhir memenanginya pada 1968. Pada edisi terkini mereka mengalahkan Inggris.

Bermain di Wembley tak membuat Italia gentar, Senin (12/7/2021) dini hari WIB, Gli Azzurri membalas ketertinggalan dari gol Luke Shaw di awal laga dengan gol penyama kedudukan Leonardo Bonucci di babak kedua.

Sedari awal laga juga Italia mengatur tempo permainan dengan penguasaan bola mencapai 66 persen: 19 percobaan tendangan dan enam tepat sasaran. Sementara Inggris bertahan dan mengandalkan serangan balik dengan 34 persen penguasaan bola.

“Tidak mungkin bahkan untuk hanya mempertimbangkan ini pada satu tahapan, tetapi pemain-pemain luar biasa. Saya tidak punya kata-kata untuk mereka, ini adalah grup yang luar biasa,” tutur Roberto Mancini, pelatih Italia.

“Ini adalah pertandingan yang sulit yang dibuat jauh lebih sulit setelah gol awal mereka. Selain itu di awal-awal laga kami mendominasi pertandingan.”

“Anda harus memiliki sedikit keberuntungan dalam adu penalti. Saya merasa sedikit kasihan pada Inggris, karena mereka juga menjalani turnamen yang hebat. Tim telah berkembang pesat dan saya pikir kami dapat berkembang lebih jauh. Kami sangat senang untuk semua orang Italia. Saya tidak punya kata-kata untuk para pemain ini!”

Seperti biasa setelah turnamen berakhir hal lain yang dinanti publik adalah pemenang penghargaan yang tersedia di Piala Eropa 2020.

Pemain Muda Terbaik hingga Top Skorer

Pada kategori Pemain Terbaik Piala Eropa dimenangi oleh kiper berusia 22 tahun Italia, Gianluigi Donnarumma. Usianya boleh saja muda tapi ketenangan dan pengalamannya tidak perlu diragukan lagi dan eks kiper AC Milan itu jadi kekuatan Italia di bawah mistar gawang.

Baca Juga :  Dengan Prokes Ketat, Peringatan Peristiwa Bandung Lautan Api Kembali akan di Gelar

Donnarumma jadi kiper pertama yang memenangi penghargaan itu. Dia membantu Italia mencatatkan clean sheets selama fase grup, lalu rekornya pecah kala melawan Austria di 16 besar dan itu jadi gol pertama setelah lebih dari 1.000 menit clean sheets.

Ketenangan dan kualitas Donnarumma menyelamatkan Italia pada drama adu penalti di semifinal melawan Spanyol, serta melawan Inggris di final. Donnarumma memenanginya setelah pada 2016 penghargaan itu diterima Antoine Griezmann, striker Prancis.

Lalu untuk kategori Pemain Muda Terbaik ada gelandang berusia 18 tahun Spanyol, Pedri. Di usia yang masih sangat muda pemain Barcelona bermain bak pemain senior dengan ketenangannya mengontrol bola, punya visi bermain dan operan bola bagus.

“Apa yang telah dilakukan Pedri di turnamen, di usia 18 tahun, tak pernah dilakukan sebelumnya. Bahkan Andres Iniesta tak melakukannya; itu unik, luar biasa,” ucap Luis Enrique, pelatih Spanyol memuji Pedri.

Kala melawan Italia di semifinal, Pedri menyelesaikan 65 operan dari percobaan 66 operan selama 120 menit bermain. Penghargaan itu sebelumnya dimenangi Renato Sanches, gelandang Portugal.

Terakhir, penghargaan top skorer dimenangi oleh megabintang Portugal Cristiano Ronaldo. Superstar yang bermain di Juventus mencetak lima gol dan catatan itu sama dengan striker Republik Ceko, Patrik Schick.

Akan tapi Ronaldo memiliki satu assist sementara Schick tidak. Tak ayal Ronaldo memenanginya di atas Schick dan juga mantan rekan setimnya di Real Madrid, Karim Benzema dengan catatan empat gol. @fen/sumber: bolaskor.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

81 Ribu Orang Minta Final Euro 2020 Italia vs Inggris Diulang

Sel Jul 13 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Banyak cara suporter mengutarakan kekecewaan termasuk dengan coba membuat petisi yang menginginkan laga Italia vs Inggris di final Euro 2020 (Euro 2021) diulang. Dalam petisi yang dituangkan di laman change.org tersebut, pembuat petisi menyoroti ketidakadilan wasit terhadap Italia. Salah satunya adalah momen ketika Giorgio Chiellini menarik Bukayo […]