Para Petani Menjerit, Tambak Udang Pantai Cipatujah Diserang Hama “Ngapas/Mio”

Editor Tambak udang Vaname milik Ajat./visi.news/budi s ombik
Silahkan bagikan

VISI.NEWS.COM – Para petani tambak udang Vaname di pesisir Pantai Selatan, mulai Pantai Cipatujah hingga pesisir Pantai Cikalong Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tengah menjerit.

Pasalnya benur/bibit udang Vaname yang ditebar dalam tambak di serang penyakit “Ngapas/Mio”. Hal itu berpengaruh terhadap hasil panen karena berujung kematian atau panen belum pada waktunya.

Hal itu dikatakan oleh petani tambak udang Vaname asal pesisir Pantai Cikalong, Ajat. Tambak udang milikinya diserang penyakit serupa hingga harus mengosongkan sebagian tambaknya.

Yang dimaksud dengan penyakit “Ngapas atau Mio” pada udang, kata Ajat, adalah di sekujur tubuh udang dipenuhi mirip kapas.

“Ini akan berujung pada kematian. Atau dilakukan panen sebelum waktunya,” ungkap prianya.

Penyebab munculnya penyakit Kapas atau Mio, tambahnya, di antaranya karena kondisi perairan tambak yang kurang menguntungkan.

“Meski kita melakukan perawatan secara rutin. Namun kondisi cuaca akan sangat berpengaruh terhadap perairan di tambak,” tambahnya lagi.

Disebutkan, sebagai antisipasi mengalami kerugian yang besar akibat serangan penyakit tersebut, pihaknya melakukan penanaman bibit ikan mujair di sebagian tambaknya.

“Bahkan masa panen ikan ini lebih cepat dibanding udang,” jelasnya.

Ditambahkan, ikan mujair sudah memiliki pasar sendiri sehingga saat melakukan panen mudah terjual.

“Untuk pasar lokal saja kebutuhan ikan mujair sudah terpenuhi dalam sekali panen,” katanya.

Masa Panen

Sementara itu, usia benur/bibit udang dari masa tanam hingga panen diperlukan waktu hingga tiga bulan lebih atau 120 hari.

“Tidak selamanya panen berjalan mulus, seperti saat ini ada penyakit,” katanya.

Satu tambak yang berukuran 1.000 meter persegi ditebar benur 150 ekor/meter.

“Jika diserang penyakit dan tergolong gawat, bisa langsung dipanen meski hasilnya tak optimal,” kata pemilik 6 tambak udang Vaname.

Baca Juga :  Sidang Kasus Dugaan Penipuan oleh Irfan Suryanagara Hadirkan Tujuh Saksi

Disebutkan, kendati serangan hama Kapas/Mio terjadi dan tergolong masih lemah. Hal itu masih bisa dipertahankan hingga masa panen tiba.

“Ini artinya tindakan yang dilakukan dan masih bisa ditangani terus berlanjut walau ada yang mati tapi jumlahnya skala kecil,” jelasnya lagi.

Dalam perawatan dan pemberian pakan, tambah Ajat, dilakukan secara rutin. Untuk sehari pemberian pakan minimal 3 kali, yakni waktu pagi, siang dan malam hari.

“Jadwalnya sudah diatur kalau pagi hari pukul 7.00 WIB, siang hari pukul 13.00 WIB, malam hari pukul 18.00 WIB,” imbuhnya.

Pihaknya berharap pemerintah setempat serta instansi terkait segera melakukan penanganan dan bantuan agar penyakit Kapas/Mio yang menyerang benur dapat ditangani. @bik

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Murka dan Duka bagi Keluarga 13 Tentara AS yang Tewas di Afghanistan

Ming Agu 29 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Steve Nikoui¬† sedang mengikuti laporan TV pada Kamis (26/8/2021) dan diliputi perasaan was-was untuk mendapatkan kabar apakah¬†putranya, Lance Kopral Kareem Nikoui, selamat dari bom bunuh diri bandara yang mematikan di Afghanistan ketika tiga Marinir tiba di pintunya dengan berita terburuk. Marinir berusia 20 tahun itu, yang pada […]