Search
Close this search box.

Parlemen Eropa Memanas, Ucapan Kasar Wakil Denmark Soroti Retaknya Etika Diplomasi AS–Eropa

Anggota Parlemen Eropa asal Denmark Anders Vistisen menyampaikan pernyataan keras saat sesi debat Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis, Selasa (20/1), terkait penolakan Denmark dan Greenland terhadap ambisi Presiden AS Donald Trump./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Eropa kembali mencuat dalam forum resmi Parlemen Eropa. Kali ini, sorotan bukan hanya tertuju pada ambisi Presiden AS Donald Trump terhadap Greenland, tetapi juga pada cara keras seorang anggota parlemen Denmark menyampaikan penolakannya.

Anggota Parlemen Eropa asal Denmark, Anders Vistisen, melontarkan kata-kata kasar kepada Trump saat sesi debat Parlemen Eropa yang membahas masa depan Greenland, Selasa (20/1). Pernyataan tersebut memicu reaksi langsung pimpinan sidang dan menimbulkan perdebatan baru soal batas etika dalam diplomasi politik internasional.

Dalam pidatonya, Vistisen menegaskan bahwa Greenland bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan, sekaligus menyindir ambisi Trump dengan bahasa yang tak biasa digunakan di ruang legislatif.

“Izinkan saya mengungkapkannya dengan kata-kata yang mungkin Anda mengerti: Bapak Presiden Trump, bug off,” ujar Vistisen di hadapan anggota parlemen Eropa.

Ucapan tersebut langsung mendapat teguran dari Wakil Presiden Parlemen Eropa, Nicolae Ștefănuță, yang menilai bahasa Vistisen melanggar norma forum resmi meski isu yang diangkat bersifat sensitif.

“Maaf menyela, tetapi pernyataan ini tidak bisa diterima, meskipun Anda memiliki perasaan politik yang kuat terkait isu ini,” kata Ștefănuță.

Meski ditegur, Vistisen tak menarik ucapannya. Ia justru mengklaim gaya bicara blak-blakan diperlukan untuk menunjukkan bahwa upaya aneksasi Greenland oleh AS adalah hal yang sama sekali tak dapat diterima.

“Ini adalah cara paling jelas untuk menunjukkan bahwa imperialisme modern tidak punya tempat di Eropa,” tegasnya.

Pernyataan keras Vistisen muncul di tengah meningkatnya tekanan politik dari Washington. Trump sebelumnya menyatakan akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap delapan negara Eropa mulai Februari, jika negosiasi kepemilikan Greenland tidak berjalan sesuai keinginannya. Bahkan, tarif tersebut diancam naik hingga 25 persen pada Juli mendatang.

Baca Juga :  Soroti Persoalan Pencairan PIP, Karmila Sari Minta Sekolah Aktif Mengawal Hak Siswa

Ancaman itu menuai penolakan luas. Denmark, pemerintah Greenland, serta sejumlah negara Eropa menegaskan bahwa pulau Arktik tersebut tidak akan dijual dalam bentuk apa pun.

Insiden di Parlemen Eropa ini menjadi cerminan memburuknya hubungan transatlantik, di mana perbedaan kepentingan geopolitik kini merembet ke persoalan etika, bahasa, dan martabat diplomasi di forum internasional. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :