Paslon No. 3 Gelar Wayang Golek, Cecep Suhendar: Pilkada 2020 Terancam Batal

Editor :
Cabup dan Cawabup Bandung no 3 HM Dadang Supriata-Sahrul Gunawan saat pagelaran wayang golek di Padepokan Giri Harja, Jelekong, Kec Baleendah, Kab Bandung./visi.news/ist.

Silahkan bagikan
  • “Saya rasa Kang Cecep ini tidak melihat secara full video ataupun bewara yang kami buat. Pada dasarnya kegiatan tersebut kan sudah ada Bawaslu, apabila itu pelanggaran Bawaslu juga bisa membubarkan kegiatan tersebut…” 

VISI.NEWS – Pilkada 2020 di Kabupaten Bandung, menurut Ketua Tim Pemenangan Paslon Nomor Urut 1 Nia-Usman, Cecep Suhendar terancam batal. Hal ini berdasar adanya pelanggaraan terhadap protokol kesehatan oleh salah satu paslon.

Paslon nomor urut tiga, menurutnya, mengadakan pagelaran wayang golek di Padepokan Giri Harja Jelekong Kecamatan Baleendah Rabu (25/11) yang menghadirkan ratusan orang.

Cecep mengkritisi soal ini sebab di kubu Paslon Nomor 1 memahami betul bahwa Pilkada 2020 ini merupakan Pemilu bersyarat.

Lebih jauh Cecep menyebutkan, Pilkada yang dilaksanakan saat ini ditengah pandemi Covid-19.

Karena itu ada kesepakatan para penyelenggara dengan para pimpinan pemenangan Paslon. Dalam pertemuan itu, hadir juga Ketua KPU, Ketua Bawaslu, Kapolresta, Dandim 0624, hadir juga para asisten pemerintahan.

Dalam pertemuan tersebut dibahas soal maklumat Kapolri yang menyatakan bahwa Pilkada ini akan berlangsung ketika baik masyarakatnya ataupun penyelenggara, pemerintah, kemudian para kontestan harus memenuhi protokol kesehatan.

Karena itu pagelaran wayang golek, lanjut Cecep, dianggap melanggar protokol kesehatan. Soal ini, kata Cecep, jelas diatur dalam PKPU bahwa kampanye pada Pilkada saat ini sebagai kampanye terbatas, hanya 50 orang.

“Dalam PKPU tidak boleh ada pagelaran kesenian apapun. Ini malah ada penyelenggaraan wayang golek, ini sangat luar biasa, yang dilakukan oleh tim pemenangan Paslon nomer tiga, penyelenggaraan wayang golek yang dihadiri oleh hampir ribuan orang, ini jelas termasuk tindakan kriminal atau tindakan melawan hukum,” katanya.

Cecep mengaku tidak paham dengan kondisi ini. Bahkan lebih tidak paham lagi lanjutnya, seharusnya instansi terkait tidak membiarkan itu berlangsung.

Cecep meyakini pagelaran wayang golek itu tidak ada ijin. Sebab ada surat edaran Kapolresta yang tidak akan ada surat ijin rame-rame. “Saya heran kok ini bisa keluar, kok itu memaksakan, ada apa. Saya mengkhawatirkan bukan urusan raihan suara, justru ini dampaknya terhadap keberlangsungan Pilkada 9 Desember. Kalau ini tidak diantisipasi, Pilkada kita bisa saja dibatalkan oleh pemerintah pusat,” kata Cecep.

Jika itu terjadi menurut Cecep berbagai upaya yang dilakulkan akan sia sia. ” Sayang kan , anggaran kita sudah habis besar, masa sudah tinggal beberapa hari lagi ini bisa dianulir. Saya kira mohon semua pihak ini bisa mengendalikan penyelenggaraan pemilukada 2020 tetap harus sesuai protokol covid-19,” katanya.

Cecep mengaku tim hukum di di Kubu Paslon nomor urut 1, sedang menganalisis, “Ini sebagai pengingat saja, soal pelanggaran itu harus kita laporan ke Bawaslu), daripada nanti Pilkada ini dihentikan, kita akan rugi semua,” pungkas Cecep.

Penonton Virtual

Menanggapi pernyataan Cecep Suhendar tersebut, M. Iqbal dari DS Center mengungkapkan bahwa terkait rame-rame pada dasarnya pihaknya menggelar wayang golek di Jelekong ini tanpa penonton.”Kita panitia sudah safety karena jika kita mengadakan live pagelaran wayang akan mengundang massa ribuan,” ungkap Iqbal.

Oleh karena itu, katanya, pihaknya berinovasi saat pandemi seperti ini agar masyarakat tetap dapat menikmati seni budaya dengan mengadakan pagelaran wayang secara virtual. Dalam artian pada pagelaran tersebut, tandasnya, tidak ada penonton sama sekali dari luar, murni semua yang didalam hanya panitia saja bersama paslon.

“Saya rasa Kang Cecep ini tidak melihat secara full video ataupun bewara yang kami buat. Pada dasarnya kegiatan tersebutkan sudah ada Bawaslu, apabila itu pelanggaran Bawaslu juga bisa membubarkan kegiatan tersebut. Mungkin tidak dipahami oleh Kang Cecep terkait kegiatan antara virtual dengan langsung, karena kegiatan ini diselenggarakan secara virtual, tidak ada rame-rame. Pintu gerbang Giri Harja pun steril. Setiap orang yang akan masuk harus berdasarkan atas ijin panitia dan tidak dapat masuk sembarangan,” pungkas Iqbal. @pih/mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kang DS Minta Semua Elemen Masyarakat Kawal Pilkada Kabupaten Bandung

Jum Nov 27 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Calon Bupati Bandung Nomor Urut 3 H. Dadang Supriatna meminta semua elemen masyarakat mengawal pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bandung  yang akan digelar 9 Desember nanti. Kang DS, sapaan akrabnya, berharap dalam Pilkada ini semoga aman, lancar, jujur dan adil. Tentunya juga terhindar dari segala macam […]