VISI.NEWS | BANDUNG – Lebih dari satu dekade setelah tragedi penerbangan MH17 Malaysia Airlines, PBB melalui badan penerbangan sipilnya (ICAO) resmi menyatakan bahwa Rusia bertanggung jawab atas insiden penembakan yang menewaskan 298 penumpang dan awak di atas langit Ukraina timur pada tahun 2014.
Dalam pernyataan resminya, ICAO (International Civil Aviation Organization) menegaskan bahwa Federasi Rusia gagal menjalankan kewajiban hukum internasional dalam menjaga keselamatan penerbangan sipil. Pernyataan tersebut didasarkan pada temuan fakta dan penyelidikan internasional yang solid.
“Federasi Rusia gagal menegakkan kewajiban hukum udara internasional saat penembakan jatuh MH17 Malaysia Airlines pada 2014,” tulis ICAO, dikutip dari AFP.
Australia dan Belanda, dua negara yang warganya menjadi korban terbanyak dalam tragedi ini, turut menyambut baik keputusan ICAO dan mendesak Rusia untuk bertanggung jawab secara hukum dan membayar kompensasi.
Langkah ini juga diapresiasi oleh Ukraina, yang sejak awal menyebut insiden MH17 sebagai aksi terorisme oleh separatis pro-Rusia. Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyebut keputusan ini sebagai ‘langkah menuju keadilan.’
“Dan pesan jelas: tidak peduli berapa banyak uang dan upaya yang dikeluarkan Rusia untuk berbohong menutupi kejahatan, kebenaran dan keadilan akan menang,” ujarnya.
Pesawat MH17 yang terbang dari Amsterdam ke Kuala Lumpur pada 17 Juli 2014 jatuh setelah ditembak rudal BUK buatan Rusia. Rusia dan kelompok separatis yang didukungnya terus membantah tuduhan, dan malah menuduh militer Ukraina sebagai pihak penembak.
Namun berbagai penyelidikan, termasuk pengadilan Belanda pada 2022, telah menyatakan bahwa rudal tersebut berasal dari wilayah yang dikuasai separatis pro-Rusia dan dijatuhkan dengan persetujuan tidak langsung dari pejabat tinggi Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin.
Tiga pelaku, dua di antaranya warga Rusia, telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di Belanda. Sementara penyelidikan internasional oleh lima negara yaitu Belanda, Australia, Malaysia, Belgia, dan Ukraina juga mengindikasikan keterlibatan tingkat tinggi dari Rusia. @ffr