Search
Close this search box.

Pekan Ketiga September 2025 Jadi Penentu Arah Pasar Crypto

Crypto./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Pekan ketiga September 2025 bukan sekadar rutinitas kalender ekonomi global, melainkan fase krusial yang dapat menentukan arah pergerakan pasar aset digital, termasuk crypto. Tiga keputusan penting dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed), Inggris (BoE), dan Jepang (BoJ) akan menjadi katalis utama pergerakan harga Bitcoin, Ethereum, dan altcoin sepanjang minggu ini.

Pasar crypto memasuki periode penuh ketidakpastian, dengan volatilitas tinggi yang dipicu oleh kebijakan moneter global dan data ekonomi utama. Investor diimbau untuk lebih disiplin dalam mengatur eksposur risiko dan tidak terjebak euforia jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini, dikutip dari Indodax, Selasa (16/9/2025), pemahaman terhadap dinamika makroekonomi menjadi faktor pembeda antara spekulan dan investor jangka panjang.

Sorotan utama pekan ini tertuju pada rapat FOMC (Federal Open Market Committee) yang berlangsung Rabu, 17 September pukul 18:00 UTC atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 96,4%, menyusul melemahnya pasar tenaga kerja AS. Namun, potensi reaksi negatif pasar tetap ada, terutama jika terjadi skenario “sell the news” sebagaimana diperingatkan JPMorgan.

Keputusan The Fed akan sangat menentukan arah aliran likuiditas global, yang secara langsung berdampak pada aset berisiko seperti crypto. Pernyataan dari Ketua The Fed Jerome Powell dan proyeksi ekonomi ke depan akan menjadi perhatian utama investor. Reaksi pasar terhadap keputusan ini akan menentukan apakah momentum bullish crypto bisa bertahan atau justru mengalami pembalikan tajam.

Selasa, 18 September, giliran Bank of England yang akan mengumumkan kebijakan suku bunga. Inggris masih menghadapi tekanan inflasi tinggi, sehingga sikap BoE akan menjadi penanda penting arah kebijakan moneter di kawasan Eropa. Pada hari yang sama, data klaim pengangguran mingguan dan penjualan ritel AS akan dirilis, menambah ketegangan di pasar.

Baca Juga :  Iran Redam Kekhawatiran Dunia, Menlu Tegaskan Tak Ada Eksekusi Mati Demonstran

Jika data ekonomi AS mengindikasikan pelemahan lebih lanjut, peluang pelonggaran moneter lanjutan akan terbuka lebar. Namun, angka yang terlalu kuat bisa membatalkan ekspektasi pemangkasan, yang berpotensi menekan pasar aset digital. Kondisi ini membuat altcoin lebih rentan, mengingat likuiditasnya yang lebih kecil dibanding Bitcoin dan Ethereum.

Sementara itu, Rabu, 19 September, giliran Bank of Japan yang akan menjadi pusat perhatian. Selama ini dikenal dengan kebijakan ultra-longgar, BoJ bisa saja memberikan kejutan jika memutuskan melakukan normalisasi moneter atau menghapus kontrol imbal hasil obligasi. Hal ini dapat memicu arus modal kembali ke Jepang dan mengurangi likuiditas global, termasuk di pasar crypto.

Kapitalisasi pasar crypto global sempat menyentuh angka 4 triliun dolar AS, sebelum terkoreksi tipis ke 4,13 triliun dolar awal pekan ini. Bitcoin sempat menembus level 116.000 dolar, namun masih tertahan di resistance penting. Ethereum bergerak sideways di kisaran 4.630 dolar, sementara altcoin seperti Solana, XRP, dan Cardano mengalami koreksi lebih dalam.

Meski demikian, sejumlah analis tetap optimis. Direktur LVRG Research, Nick Ruck, menyatakan bahwa aset digital semakin dipandang sebagai pelindung nilai terhadap ancaman stagflasi dan pelambatan ekonomi global. Ia menilai bahwa dengan kebijakan fiskal yang agresif dan potensi pelonggaran moneter lebih lanjut, pasar crypto bisa tetap berada dalam tren naik hingga tahun 2026.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :