Search
Close this search box.

Peluang Emas Pasca Maduro: Perusahaan Minyak AS Bersiap Rebut Ladang Energi Venezuela

Aktivitas kilang minyak di wilayah Maracaibo, Venezuela, Sabtu (3/1/2026), menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro yang membuka peluang investasi baru bagi perusahaan energi Amerika Serikat./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1) langsung dimanfaatkan Amerika Serikat untuk membuka kembali pengaruh ekonominya di sektor energi Venezuela. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump bergerak cepat dengan menjalin komunikasi bersama sejumlah perusahaan minyak nasional guna membahas pengelolaan ladang minyak negara tersebut.

Langkah ini menandai pergeseran fokus Washington dari tekanan politik menuju pemulihan dan penguasaan aset strategis Venezuela, khususnya sektor energi yang selama bertahun-tahun terpuruk akibat sanksi internasional.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut pembicaraan dengan perusahaan minyak telah dilakukan, meski belum merinci perusahaan mana saja yang terlibat maupun waktu pertemuan berlangsung.

“Semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia untuk melakukan investasi besar di Venezuela, yang akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka yang dihancurkan oleh rezim Maduro,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Taylor Rogers, Selasa (6/1), dikutip dari CNBC.

Meski demikian, laporan Reuters sebelumnya menyebutkan bahwa sejumlah raksasa energi AS seperti Chevron, ConocoPhillips, dan ExxonMobil belum secara langsung berdiskusi dengan pemerintah AS terkait perubahan rezim di Venezuela. Namun, keterlibatan industri diperkirakan segera menguat.

Menteri Energi AS Chris Wright dijadwalkan menghadiri konferensi energi yang digelar Goldman Sachs di Miami pekan ini. Acara tersebut juga akan dihadiri para eksekutif dari Chevron dan ConocoPhillips, memicu spekulasi adanya pembahasan lanjutan mengenai arah investasi energi di Venezuela.

Di antara perusahaan AS, Chevron berada pada posisi paling unggul. Perusahaan ini menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela di tengah sanksi ketat selama lebih dari satu dekade. Sekitar seperempat produksi minyak Venezuela yang dikelola Chevron diekspor ke Amerika Serikat.

Keberadaan Chevron selama hampir satu abad dinilai membuat perusahaan lain menghadapi tantangan besar untuk masuk dan bersaing di Venezuela, baik dari sisi teknologi maupun pengalaman operasional.

Baca Juga :  Perbaiki Daya Beli Masyarakat di Bulan Ramadhan, Riyono: Negara Harus Hadir

“Anda tidak bisa begitu saja masuk ke Venezuela dan memompa minyak. Ini adalah proses yang sangat sulit dan kompleks yang selama bertahun-tahun telah dikuasai Chevron,” ujar Clayton Seigle, Peneliti Senior Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim di Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Dengan dinamika politik yang berubah cepat, Venezuela kini berada di persimpangan antara pemulihan ekonomi dan perebutan pengaruh global. Bagi Amerika Serikat, ladang minyak Venezuela bukan sekadar peluang bisnis, melainkan aset strategis untuk memperkuat posisi energi di kawasan Amerika Latin. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :