Search
Close this search box.

Penerimaan Pajak Kripto RI Meroket hingga Potensi Bitcoin di Agustus 2024

Ilustrasi Bitcoin. /visi.news/wikimedia/jorge franganill

Bagikan :

HIGHLIGHTS
• Transaksi Kripto Meningkat Pesat, Penerimaan Pajak Indonesia Meroket.
• Menguak Misteri Bitcoin Agustus 2024: Naik atau Turun?

VISI.NEWS | BANDUNG – Penerimaan pajak dari industri kripto di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Data dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa total setoran pajak dari sektor ini mencapai Rp798,84 miliar sejak Mei 2022 hingga Juni 2024.

Kabar dari pasar kripto, harga Bitcoin terus berfluktuasi memasuki bulan Agustus 2024. Banyak prediksi yang memandang bulan Agustus akan terjadi rebound harga Bitcoin, benarkah? Bagaimana prospek ke depannya?

Berkaitan dengan kabar tersebut, Tokocrypto untuk menyajikan rangkuman berita di industri aset kripto dan ekosistemnya.

• Transaksi Kripto Meningkat Pesat, Penerimaan Pajak Indonesia Meroket

Penerimaan pajak dari industri kripto di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Data dari
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa total setoran
pajak dari sektor ini mencapai Rp798,84 miliar sejak Mei 2022 hingga Juni 2024. Angka ini
merupakan kontribusi sebesar 3% dari total pajak yang dikumpulkan dari kegiatan ekonomi
digital yang mencapai Rp25,88 triliun.

Kenaikan penerimaan pajak dari industri kripto ini menunjukkan minat yang tinggi dari investor
domestik. Hal ini dibuktikan dari penerimaan pajak kripto di Indonesia yang terus menunjukkan
pertumbuhan pesat sejak awal tahun 2024. Pada kuartal pertama 2024 saja, DJP mencatat
total pajak yang terkumpul dari transaksi kripto mencapai Rp112,93 miliar.

Mulai 1 Mei 2022, pemerintah memberlakukan pajak pada aset kripto melalui Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) Republik Indonesia Nomor 68/PMK.03/2022. Peraturan tersebut mengatur
tentang PPh dan PPN untuk transaksi perdagangan aset kripto, dengan tarif PPh sebesar 0,1%
dari nilai transaksi untuk penjual aset kripto dan PPN sebesar 0,11% dari nilai transaksi untuk
pembelian aset kripto. Bagi pedagang fisik aset kripto yang tidak terdaftar di Bappebti, tarif
pajaknya lebih tinggi, yakni PPh sebesar 0,2% dan PPN sebesar 0,22%.

Peningkatan pajak ini sejalan dengan jumlah transaksi kripto yang meningkat pada periode
Januari hingga Juni. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti)
melaporkan bahwa total nilai transaksi kripto di Indonesia mencapai Rp301,75 triliun pada
paruh pertama tahun ini, meningkat sebesar 354,17% secara year-to-year (YoY) dibandingkan
periode yang sama pada 2023 yang mencapai Rp66,44 triliun. Sementara jumlah pelanggan
aset kripto terdaftar hingga Juni 2024 mencapai 20,24 juta pelanggan.

Baca Juga :  Job Fair Bandung Bedas Expo Dapat Apresiasi Industri

Tokocrypto, salah satu pedagang aset kripto terbesar di Indonesia, turut menyumbang signifikan
terhadap penerimaan pajak ini. CMO Tokocrypto, Wan Iqbal, menyatakan bahwa hampir 50
persen dari total pajak kripto yang dikumpulkan berasal dari transaksi di platform mereka.

“Nilai
transaksi Tokocrypto berdasarkan volume perdagangan harian sepanjang semester I 2024
mencapai lebih dari US$23 juta atau sekitar Rp374 miliar per hari. Angka ini naik sebesar 80%
dibanding rata-rata volume trading tahun lalu,” kata Iqbal.
Iqbal juga menambahkan bahwa jumlah pengguna Tokocrypto kini sudah mencapai lebih dari
4,5 juta, tumbuh sekitar 45% dibanding akhir tahun 2023.

“Penerimaan pajak dari transaksi
kripto merupakan bukti nyata bahwa industri ini semakin diterima dan berkembang pesat di Indonesia. Kami akan terus berupaya untuk mendukung pertumbuhan ini dengan inovasi dan
layanan yang lebih baik,” tambahnya.

Dengan kontribusi yang semakin signifikan dari industri kripto, Indonesia diharapkan dapat terus
mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Iqbal juga
menegaskan komitmen Tokocrypto dalam mendukung upaya pemerintah dalam mengatur
industri kripto. Platform ini memastikan kepatuhan terhadap seluruh peraturan yang berlaku.

“Pertumbuhan signifikan dalam penerimaan pajak kripto menunjukkan semakin matangnya
pasar aset digital di Indonesia,” ujar Iqbal.

“Dengan semakin jelas dan diterima luasnya regulasi,
kami melihat peningkatan minat baik dari investor institusi maupun retail. Hal ini tidak hanya
menguntungkan pemerintah, tetapi juga menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan dan
transparan bagi bisnis kripto,” tambahnya.

Penerapan Aturan yang Setara
Kemudian lanjut Iqbal, pemerintah harus menciptakan level playing field bagi semua platform
perdagangan kripto. Perusahaan kripto asing juga sudah waktunya untuk diberlakukan
pengenaan pajak kripto, sesuai dengan aturan PMK 68. Hal ini bisa menciptakan industri kripto
yang lebih sehat, mendukung platform lokal untuk bersaing dan menghindari capital flow ke luar
negeri.

“Penerapan pemblokiran sosial media exchanger global ini dapat mendorong investor untuk
beralih ke platform lokal yang telah terdaftar dan diawasi oleh Bappebti, sehingga secara tidak
langsung dapat meningkatkan volume transaksi di platform lokal. Ini memberikan sinyal yang
kuat bahwa pemerintah serius dalam menegakkan peraturan di sektor kripto, mendorong pelaku
industri untuk mematuhi regulasi yang berlaku,” terangnya.

Baca Juga :  Awas Penipuan Update Data Haji Via Telepon! Calon Jemaah di Sukabumi Diminta Hati-hati

Menurut Iqbal, semester II akan menarik dan penuh potensi untuk pasar kripto global, termasuk
Indonesia. Kemungkinan besar harga Bitcoin bisa mencapai nilai tertinggi sepanjang masa
yang baru lagi di Kuartal 4 2024.


”Proyeksi harga Bitcoin di akhir tahun dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk potensi
penurunan suku bunga The Fed, pemilu AS dan meningkatnya minat dari institusi keuangan
besar, termasuk perdagangan ETF Bitcoin dan Ethereum,” prediksinya.
Selain itu, adopsi teknologi blockchain yang lebih luas, serta inovasi dalam produk keuangan
berbasis kripto, seperti ETF dan kontrak berjangka, juga dapat memberikan dorongan
tambahan bagi harga Bitcoin.

  • Potensi Pergerakan Bitcoin di Bulan Agustus 2024: Akankah Naik?


Pergerakan harga Bitcoin (BTC) selama bulan Juli 2024 menunjukkan hasil yang kurang
memuaskan. Berdasarkan data Bitcoin Monthly Returns, pertumbuhan nilai BTC hanya
mencapai +3,14%, meskipun angka ini meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya
yang mencapai -6,96%. Bulan Agustus menjadi harapan baru bagi investor untuk potensi harga
Bitcoin mencapai nilai tertinggi sepanjang masa kembali.
Namun, di awal bulan Agustus, Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan mengalami
penurunan tajam.

Pada Kamis (1/8), harga Bitcoin turun karena meningkatnya risiko geopolitik
yang menarik perhatian investor setelah pertemuan The Fed bulan Juli berakhir. Bitcoin turun di
bawah level US$65.000 dari sekitar level US$66.500 setelah konferensi pers Ketua Fed,
Jerome Powell, yang mengumumkan tetap mempertahankan laju suku bunga pada 5,25-5,5%.

Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengamati penurunan harga Bitcoin ini banyak
dipengaruhi oleh sentimen distribusi BTC oleh Mt. Gox, transfer Bitcoin senilai $2 miliar oleh
pemerintah AS, serta kondisi geopolitik Timur Tengah yang memanas kembali pasca pimpinan
Iran dilaporkan memerintahkan serangan balasan terhadap Israel atas wafatnya Kepala Biro
Politik Hamas, Ismail Haniyeh.

“Tekanan penjualan BTC terjadi disebabkan oleh meningkatnya risiko konflik yang lebih luas di
wilayah Timur Tengah. Sentimen negatif ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur
terhadap aset berisiko tinggi seperti kripto, termasuk Bitcoin. Selain itu, distribusi Bitcoin dari Mt.
Gox dan langkah pemerintah AS yang mentransfer Bitcoin dalam jumlah besar juga
mempengaruhi likuiditas pasar, meningkatkan tekanan jual dan ketidakpastian di kalangan
investor. Kombinasi dari faktor-faktor ini memberikan tekanan yang signifikan pada harga
Bitcoin saat ini,” ujar Fyqieh.

Lebih lanjut, Fyqieh menjelaskan pada tanggal 19 Juli, harga Bitcoin kembali ke level
US$64.000, didorong oleh perubahan narasi politik AS terhadap industri kripto dan antisipasi
peluncuran ETF Ethereum spot yang berbasis di AS. Beberapa upaya telah dilakukan untuk
mendorong harga lebih tinggi menuju US$70.000, tetapi semuanya gagal memicu tren harga
yang lebih luas.

Baca Juga :  Jadwal Sholat DKI Jakarta 13 April 2026: Waktu Lengkap & Tips Ibadah

“Sebaliknya, Bitcoin telah merosot di bawah area utama berfluktuasi antara US$65.300 dan
US$68.400 selama hampir sepuluh hari terakhir. Penurunan Bitcoin di bawah level US$65.000
menjadi kekhawatiran, karena hal ini mengindikasikan melemahnya momentum bullish jangka
pendek. Para analis teknis melihat potensi penurunan lebih lanjut menuju level support terdekat
di US$62.000. Sentimen pasar juga terpengaruh oleh ketidakpastian seputar regulasi kripto
global dan kekhawatiran akan inflasi yang meningkat,” Analisa Fyqieh.

Potensi Bitcoin di Agustus

Fyqieh melihat meski bulan Agustus diawali dengan penurunan, potensi ke depan masih besar
untuk Bitcoin rebound. Menurutnya, ke depan di bulan Agustus, peristiwa FUD seperti Mt. Gox,
pemerintah Jerman, atau penjualan BTC yang disita oleh pemerintah AS sudah berlalu.
Sentimen publik mungkin akan berbalik ke arah positif yang menjadi lebih bullish sampai akhir
tahun mendatang.

Di samping itu, sentimen makroekonomi juga diperkirakan akan membaik melihat komentar
Ketua The Fed, Jerome Powell, pada konferensi pers FOMC, Rabu (31/7/2024), yang mengatakan
bahwa para pejabat sedang mempertimbangkan potensi penurunan suku bunga pada bulan
September.

Namun, ia juga mencatat bahwa mereka akan mengevaluasi inflasi dan data
ekonomi mendatang sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.

Pasar keuangan, khususnya sektor kripto, telah menanti-nantikan pembaruan FOMC dan
komentar Ketua Fed. Meskipun penangguhan suku bunga telah diantisipasi, komentar Powell
tentang potensi penurunan suku bunga pada bulan September memberikan wawasan baru.

Meskipun analis memprediksikan kenaikan harga di atas US$70.000 atau sekitar Rp1,13 miliar,
Bitcoin mungkin memerlukan bantuan makro lebih lanjut dalam bentuk putaran inflasi yang lebih
rendah dan proyeksi pemangkasan suku bunga Fed, untuk memicu kenaikan harga. Laporan
CPI AS dijadwalkan pada tanggal 20 Agustus.

“Investor dan trader akan memantau dengan saksama data ekonomi mendatang, karena data
tersebut akan memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan Federal
Reserve. Potensi pemangkasan suku bunga pada bulan September dapat berdampak signifikan
terhadap biaya pinjaman, strategi investasi, dan momentum ekonomi secara keseluruhan,” jelas
Fyqieh.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :