Search
Close this search box.

Pengangguran Harus Punya Keterampilan

Dede Yusuf (tengah) berfoto bersama jajaran Dispusif Kab Bandung di Soreang Rabu (21/10)./visi.news/apih igun.

Bagikan :

VISI.NEWS – Angka pengangguran di Indonesia kian meroket. Salah satunya akibat dampak pandemi Covid 19. Tercatat angka pengangguran saat ini mencapai tujuh juta pengangguran baru.

hal itu menjadi sorotan wakil Ketua Komisi IC DPR RI Dede Yusuf, yang berkunjung ke komplek Pe.kab Bandung Rabu (21/10).

“Para penganggur baru itu harus mampu meningkatkan keterampilannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku tentang keterampilan karena di buku ini semua jenia keteramoilan, bisa ditemukan, ” saran Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendy, kepada wartawan, saat kunjungan kerja di Perpustakaan Kabupaten Bandung, Soreang, Rabu (21/10/2020).

Dede Yusuf menyarankan juga ke pihak Perpustakaan Kabupaten Bandung bisa menambah buku-buku tentang keterampilan dan vokasi.

Menurutnya, saat ini orang-orang sedang membutuhkan buku-buku semacam itu. Apalagi, kata Dede, angka pengangguran saat ini bertambah 7 juta.

“Orang sudah mulai berpikir melakukan kegiatan usaha sampingan, masakan online, beternak lele, nila, dan sebagainya. Buku keterampilan itu sangat sulit dicari, padahal di perpus ada. Tapi di perpus tidak muncul,” kata Dede.

Kalau hanya buku karya ilmiah, lanjut Dede, hanya akan dicari oleh orang yang membutuhkan. Sedangkan di tengah pandemi Covid 19 ini, ada momen orang harus terpaksa berhenti kerja karena mengalami PHK. Harus berpikir mengalihkan usahanya. Untuk mendapatkan informasi itu, disiapkan buku-buku vokasi atau keterampilan teknologi terapan.

“Secara signifikan, orang bertanya tanya ke mana saya mencari buku soal keterampilan. Ini salah satu yang saya harapkan; bagaimana perpustakaan memanfaatkan situasi orang di rumah, untuk belajar ke perpustakaan. Dengan suasana yang nyaman, dingin, ngopi, membaca gratis lagi ‘kan,” tutur Dede.

Dede menyarankan perpustakaan harus bisa jemput bola. Artinya, jangan hanya menunggu orang datang ke perpustakaan. Tapi, harus bisa menyediakan book corner di luar perpustakaan, yang tidak hanya menyediakan buku-buku ilmiah. Tapi juga buku fiksi, biografi, dan untuk membuat kartu member perpustakaan diusahakan gratis, sehingga orang tertarik.

Baca Juga :  Turun 26 Lantai, Joy Selamat dari Asap Kebakaran

“Teknik seperti ini perlu dilakukan, banyak ibu-ibu yang mau mencoba memasak, tapi tidak tahu resepnya. Tiba-tiba di luar ada, dia lihat-lihat, baca, dan akhirnya datang lagi,” sambungnya.

Perpustakaan nasional, termasuk daerah dan lainnya merupakan salah satu hal yg ingin pihaknya dorong dari sisi literasi. Keinginan membaca dan arsip pendataan merupakan terobosan untuk masuk ke industri 4.0.

“Minat orang ke perpus itu tidak begitu besar. Seperti orang datang ke toko buku. Kalau orang ke toko buku, berarti dia mencari buku buku yg menurut dia, dia butuh. Ke perpustakaan ini, orang datang hanya untuk tugas sekolah, cari literatur untuk menulis naskah, karya ilmiah dan lain-lain,” jelas Dede.

Dede mengakui tingkat literasi di Indonesia masih rendah. Bisa saja, karena buku masih mahal, akses mendapatkan buku masih sulit, dan tidak tersedia buku yang beragam.

“Orang lebih berminat untuk membaca buku fiksi. Oleh karena itu, harus ada keinginan membuat buku nonfiksi, bisa seenak membaca buku fiksi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Bandung, Tri Heru Setiati, SH,Sp.I., mengaku pihaknya saat ini masih kekurangan sejumlah buku guna memenuhi standard nasional ketersediaan buku di perpustakaan. Standardnya perpustakaan daerah harus memiliki setidaknya 50 ribu judul buku.

Dijelaskannya saat ini buku yang ada baru kira-kira 25 ribu eksemplar. Dari jumlah tersebut, pihaknya memiliki 10 ribu judul buku dan 1.000 buku digital atau e-book.

“Koleksi kami ada sekitar 25 ribu eksemplar, kurang lebih ada sekitar 10 ribu judul buku. Di samping itu ada ebook kurang lebih sebanyak 1.000,” jelas Tri.

Karenanya ia mengaku masih membutuhkan ribuan buku untuk memenuhi standard tersebut.

Baca Juga :  Trump Setuju Iran Tetap Tampil di Piala Dunia 2026

“Kalau standard nasional itu, perpustakaan daerah harus ada 50 ribu judul buku, sehingga kami masih tetap membutuhkan buku-buku atau ebook untuk memenuhi kebutuhan,” kata dia. @pih

Baca Berita Menarik Lainnya :