Search
Close this search box.

Pengembangan Bisnis Pengusaha Ultra Mikro di Desa Terkendala Internet

Kepala Divisi Startup dan Inkubasi UNS, Catur Sugiarto, menjelaskan UNS Innovation Festival berupa Innovation & Business Expo, Business Matching untuk UMKM ekspor dan startup dan lain-lain. /visi.news/tok suwarto.

Bagikan :

VISI.NEWS | SOLO – Kepala Divisi Startup dan Inkubasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Catur Sugiarto, mengungkapkan, dalam aspek inovasi perguruan tinggi punya peran penting untuk mendukung peningkatan bisnis UMKM agar naik kelas dan menjangkau perluasan pasar menuju pasar ekspor.

Dalam kaitan itu, katanya, perguruan tinggi berkolaborasi dengan industri berkomitmen mendukung hilirisasi hasil inovasi termasuk pengembangan startup dan UMKM melalui program inkubator bisnis dan pendampingan UMKM.

“Sekarang ini banyak perguruan tinggi yang mengembangkan pengusaha startup melalui inkubator bisnis agar menjadi pengusaha-pengusaha tangguh. Sedangkan dalam pendampingan UMKM, perguruan tinggi melakukan pendampingan terhadap para pengusaha ultra mikro binaan Kementerian Sosial. Saat ini ada 500 lebih pengusaha ultra mikro, di antaranya para penjual cilok, para penjual sayuran dan lain-lain di pedesaan yang mendapat pendampingan agar naik kelas,” ujar Catur Sugiarto, menjawab pertanyaan VISI.NEWS dalam jumpa pers tentang “UNS Innovation Festival”, Jumat (10/12/2021).

Catur menyatakan, dalam upaya meningkatkan kelas para pengusaha ultra mikro di pedesaan kawasan pegunungan, seperti wilayah Kecamatan Jumapolo, Jatiyoso dan lain-lain dilakukan pendampingan melalui para mentor.
“Para pengusaha ultra mikro itu diajarkan tentang pengembangan bisnis, dengan menjelaskan tentang branding, digital marketing dan semacamnya. Kendalanya, di pedesaan di tepi-tepi jurang dengan medan sulit itu, semua teori yang diberikan mentor dalam pertemuan di kelas mental karena tidak ada internet, tidak ada hp, tidak ada laptop dan sebagainya,” ungkap kepala divisi startup dan inkubasi UNS itu.

Menanggapi sistem “bapak angkat-anak angkat” yang dikembangkan pemerintah Orde Baru yang akhirnya terhenti, Catur melihat, program tersebut mirip program inkubasi bisnis terhadap startup yang mempertemukan para pengusaha pemula potensial dengan pengusaha besar agar startup juga tumbuh menjadi pengusaha besar.

Baca Juga :  BLT Kesra dan Dana Desa Punya Skema Berbeda

Dia menyebut contoh pusat unggulan Iptek (PUI) baterei lithium UNS dengan 4 startup bidang pengembangan energi alternatif, saat ini difasilitasi Pertamina untuk pengembangan pasar baterei serta pemasaran bahan baku baterei yang merupakan satu-satunya di Indonesia.
“Mungkin sistem ‘bapak angkat-anak angkat’ yang berhasil memperkuat bisnis sektor informal sebagai katup pengaman ekonomi nasional, sekarang mirip dengan sistem inkubator bisnis dan model pendampingan terhadap UMKM mikro,” jelasnya.

UNS Innovation Festival yang digelar Direktorat Inovasi dan Hilirisasi, Divisi Startup dan Inkubasi atau yang dikenal dengan UNS Innovation Hub sendiri, merupakan perluasan dari program yang diinisiasi UNS bersama organisasi UMKM berorientasi ekspor asal Solo, Indonesia Direct (ID) melalui Matching Fund.
”Harapan kami, acara besar festival ini menjadi agenda tahunan dan pesta inovasi dan budaya di akhir tahun,” ujar Catur Sugiarto lagi.

Kegiatan UNS Innovation Festival, antara lain berupa Innovation & Business Expo, Business Matching untuk UMKM ekspor dan startup, workshop, webinar, fashion show bertema the Heritage of Batik dan lain-lain.

Festival diawali dengan lokakarya dan penjajakan kesepakatan bisnis bertema ”SME’s ID Treasure Hunt” yang merupakan kerjasama UNS dengan Kementerian Perdagangan dan Indonesia Direct, APDEI dan APINDO. Kegiatan lainnya adalah, kesepakatan bisnis atau business matching antara 50 UMKM ekspor dengan para buyer dari Australia, Korea Selatan, serta negara lainya yang dipertemukan dengan para UMKM secara daring.@tok

Baca Berita Menarik Lainnya :