Penguatan Fokus Baru dalam Pengawasan Kripto hingga Mengapa Harga Bitcoin Turun?

Silahkan bagikan

HIGHLIGHTS:

  • Fokus Baru dalam Pengawasan dan Pengembangan Aset Kripto di Indonesia.
  • Mengapa Harga Bitcoin Terus Merosot: Faktor-faktor di Balik Penurunannya.

VISI.NEWS | BANDUNG – Pengaturan dan pengawasan aset kripto, yang sebelumnya berada di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), akan secara resmi berpindah ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Januari 2025. Proses peralihan ini memunculkan fokus baru dalam pengawasan aset kripto di Indonesia.

Kabar dari pasar kripto, saat ini pergerakan harga Bitcoin terpantau mengalami penurunan sejak awal April 2024. Apa saja penyebab penurunan harga Bitcoin ini dan Bagaimana prediksi selanjutnya menjelang momen halving mendatang?

Berkaitan dengan kabar tersebut, Tokocrypto menyajikan rangkuman berita di industri aset kripto dan ekosistemnya berikut ini.

1. Fokus Baru dalam Pengawasan dan Pengembangan Aset Kripto di Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk
“Kerangka Pengawasan dan Pengembangan Aset Keuangan Digital termasuk Aset Kripto” di
Jakarta pada tanggal 28 Maret 2024. FGD ini bertujuan untuk menjaring masukan dari para pemangku kepentingan terkait pengawasan dan pengembangan aset kripto di Indonesia, sejalan dengan peralihan kewenangan pengawasan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke OJK yang diamanatkan dalam UU No. 4 Tahun 2023 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Pengaturan dan pengawasan aset kripto, yang sebelumnya berada di bawah Bappebti, akan secara resmi berpindah ke OJK pada Januari 2025. Perubahan ini merupakan respons atas pertumbuhan cepat aset kripto, di mana nilai transaksinya telah mencapai Rp 33,69 triliun pada Februari 2024. Sementara itu, terdapat 35 CPFAK dengan lembaga penunjang yang terdiri dari Bursa Berjangka, Kliring Berjangka, dan Repository. Adapun jumlah jenis aset kripto
yang diperdagangkan juga mengalami peningkatan menjadi 545 jenis, termasuk diantaranya
39 jenis aset kripto lokal. Seiring dengan pertumbuhan ini, tentunya akan muncul potensi risiko yang perlu diatasi oleh regulator dalam rangka menjamin integritas pasar
dan pelindungan konsumen.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), Yudhono
Rawis, yang turut hadir dalam FGD tersebut, menyampaikan bahwa pentingnya kolaborasi antara pelaku industri dan regulator untuk membangun regulasi yang lebih kuat untuk menjaga
integritas pasar dan melindungi konsumen.

Baca Juga :  Abdurohim: Lima Perkara ini Bisa Menghancurkan Pahala Puasa

“Diperlukan sinergi yang kuat antara regulator dan industri untuk menciptakan ekosistem aset
keuangan digital yang sehat dan inovatif mengingatkan potensi risiko yang menyertai aset
kripto. Pasca terbitnya UU P2SK, aset kripto menjadi kelas aset baru yang menjadi salah satu bagian dari aset keuangan digital, di mana pendekatan pengaturan dan pengawasan yang akan diterapkan akan disesuaikan dengan best practice di sektor keuangan,” kata
Yudho.

Pengembangan Instrumen Aset Keuangan Digital

Salah satu topik utama yang dibahas adalah bagaimana aset keuangan digital, termasuk aset
kripto, dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Teknologi seperti tokenisasi dan blockchain berpotensi mentransformasi ekonomi dengan memungkinkan aset tradisional
diwakili secara digital dan ditransaksikan dalam ekosistem berbasis distributed ledgers.
“Selain pengawasan, pengembangan instrumen aset keuangan digital juga menjadi fokus penting. Dengan teknologi blockchain dan tokenisasi, aset keuangan tradisional dapat
direpresentasikan dalam bentuk digital, membuka pintu bagi inovasi di sektor keuangan. Saat
ini, beberapa regulator global telah memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi
transaksi dan mempercepat operasional lembaga keuangan,” jelas Yudho yang juga CEO
Tokocrypto.

Selain itu, terdapat beberapa bentuk pengembangan blockchain untuk mempercepat operasional lembaga jasa keuangan seperti penerapan blockchain di perbankan dalam hal
percepatan settlement. Ke depannya, inovasi yang memanfaatkan blockchain dan tokenisasi akan terus meningkat dan akan menjadi salah satu inovasi yang dapat dipergunakan secara luas di ekosistem sektor keuangan. Untuk itu, OJK perlu menggali potensi ini agar semakin
banyak penyelenggara aset keuangan digital termasuk aset kripto yang berminat untuk
mengembangkan use case di sektor keuangan.

“Tujuan utama dari FGD ini adalah untuk memfasilitasi pertukaran ide antara OJK dan penyelenggara aset keuangan digital dalam memperkuat dan mengembangkan ekosistem ini di Indonesia. Hasil yang diharapkan termasuk pengembangan ekosistem aset keuangan digital yang lebih luas dan efisien, serta memanfaatkan teknologi ini untuk mendorong inovasi di sektor keuangan,” terang Yudho.

Peralihan pengawasan aset kripto ke OJK dan diskusi yang dihasilkan dari FGD ini menandai babak baru dalam regulasi keuangan digital di Indonesia. Dengan kolaborasi antara regulator dan pelaku industri, Indonesia berada di jalur yang benar untuk memanfaatkan potensi penuh aset keuangan digital, termasuk aset kripto, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga :  Jam Kerja ASN Di Sesuaikan Selama Ramadhan, Cucu : Tetap Harus Diimbangi Ibadah Dan Kerja Profesional

2. Mengapa Harga Bitcoin Terus Merosot: Faktor-faktor di Balik
Penurunannya

Harga Bitcoin (BTC) langsung merosot ketika kuartal II 2024 dimulai, menyeret seluruh pasar
kripto masuk ke dalam zona merah. Likuidasi besar-besaran terjadi di pasar kripto, membuat
banyak investor khawatir. Namun apa yang menyebabkan penurunan mendadak ini, dan apa dampaknya bagi masa depan kripto?

Bitcoin mengalami penurunan dramatis, anjlok dari US$70.000 hingga US$65.000 atau kisaran
Rp 1 miliar, sementara Ethereum sempat anjlok ke US$3.319 atau sekitar Rp 52 juta.

Kapitalisasi pasar BTC saat ini berada di sekitar US$1,3 triliun dengan volume perdagangan 24 jam sebesar US$40 miliar. Penurunan harga yang cepat memicu serangkaian likuidasi
besar-besaran.

Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menjelaskan salah satu faktor utama penurunan harga Bitcoin adalah ETF Bitcoin yang mencatat total arus keluar tinggi dalam beberapa hari terakhir sejak awal April 2024. GBTC Grayscale, ampaknya berkontribusi terhadap penurunan Bitcoin karena Grayscale terus mengalami arus keluar dana yang signifikan.

Pada tanggal 1 April, GBTC mengalami arus keluar sebesar US$302,6 juta, terutama
berkontribusi terhadap arus keluar bersih gabungan sebesar US$85,7 juta yang dicatat oleh ETF Bitcoin ini. Hal ini telah membawa lebih banyak tekanan jual pada Bitcoin, yang saat ini membebani tekanan beli di ekosistem. Sementara, data menunjukkan produk investasi ini
mencapai total arus masuk US$862 juta pada minggu lalu.

“Aktivitas di pasar derivatif juga berperan dalam sentimen pasar yang bearish, dengan penurunan yang terlihat memegang kendali. Data dari Coinglass menunjukkan bahwa US$409 juta telah dilikuidasi dari pasar dalam 24 jam terakhir, dengan US$328 juta dalam posisi buy dihapus selama periode ini,” jelas Fyqieh.

Sentimen Makroekonomi
Fyqieh melanjurkan penurunan yang terjadi ini juga mencerminkan berkurangnya antusiasme di pasar kripto, dipengaruhi oleh meningkatnya tantangan untuk mencapai kebijakan moneter.yang lebih longgar di Amerika Serikat.

Perhatian tertuju pada pertemuan The Fed yang dijadwalkan pada tanggal 1 Mei, dengan antisipasi luas bahwa otoritas bank sentral AS mungkin akan menurunkan suku bunga.

“Saat ini, perkiraan pasar menunjukkan penurunan suku bunga terjadi pada bulan Mei sangat kecil. Oleh karenanya pasar kripto jatuh karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed
menurun. Pelaku pasar mulai mencari posisi untuk masuk kembali ke pasar melihat kondisi
makroekonomi yang belum stabli,” jelasnya.

Baca Juga :  Penjual Bendera Musiman Kehilangan Pendapatan hingga 50 Persen

Tekanan terhadap Bitcoin tampaknya belum cukup, para investor sedang menunggu dengan
antisipasi untuk melihat bagaimana halving BTC yang keempat ini akan mempengaruhi harga dan stabilitas pasar.

Beberapa percaya bahwa pengurangan jumlah reward blok baru akan mendorong kenaikan nilai Bitcoin, mengingat sejarah halving sebelumnya yang telah
menyebabkan lonjakan harga yang signifikan.

Namun, ada juga kekhawatiran bahwa dampak halving kali ini mungkin tidak sebesar sebelumnya karena efeknya telah diantisipasi dan terduga lebih baik oleh pasar. Meskipun demikian, halving BTC tetap menjadi momen penting yang menggugah minat dan perhatian
terhadap kripto terbesar di dunia ini.

Sentimen Halving

Lebih lanjut Fyqieh menjelaskan Bitcoin (BTC) telah menyaksikan beberapa koreksi harga, yang mendorong harga koin di bawah US$65.000. Namun, investor tidak boleh kehilangan harapan, karena BTC tampaknya mengikuti tren harga historis menjelang halving. Jadi, jika sejarah terulang kembali, BTC mungkin akan mengalami penurunan harga lebih lanjut sebelum mendapatkan momentum dan mencapai US$100.000.

“Tren penurunan ini bukan hal yang tidak terduga, karena BTC yang mengikuti tren historis
menjelang halving mendatang. Bitcoin perlahan-lahan beralih dari fase “Pre-Halving Rally” ke fase “Pre-Halving Retrace” yang cenderung terjadi 28 hingga 14 hari sebelum peristiwa halving. Fase ini mengakibatkan penurunan harga masing-masing sebesar 38% dan 20% pada tahun 2016 dan 2020,” terang Fyqieh.

Dalam analisanya BTC memiliki dukungan kuat di dekat angka US$64.000. harga Bitcoin
mungkin akan rebound setelah menyentuh level tersebut. Namun, jika gagal menguji support
tersebut dan berada di bawahnya, maka kemungkinan BTC mencapai US$60.000 adalah tinggi.

Meskipun harga BTC mungkin akan mengalami koreksi harga lagi, hal-hal dalam jangka panjang tampak bullish. Khususnya, setelah fase Pre-Halving Retrace, BTC akan memasuki fase akumulasi ulang. Fase akumulasi mungkin akan berlangsung selama hampir lima bulan.

Menariknya, dalam siklus ini, ini akan menjadi pertama kalinya rentang akumulasi ulang ini
dapat berkembang di sekitar area New All-Time High.

@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Berkedok 'Salam Lebaran', Jelang Idul Fitri Lansia Harus Waspada Penipuan Digital

Kam Apr 4 , 2024
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BANDUNG – Mendekati momen perayaan Idul Fitri, sudah menjadi kebiasaan bagi Masyarakat Indonesia untuk saling berkirim pesan-pesan berisi salam lebaran. Tak jarang pesan tersebut juga berisi foto, gambar bergerak atau gif, dan bentuk-bentuk kreatif lainnya. Namun, seiring makin canggihnya teknologi, tentu saja momentum ini juga bisa jadi […]