Search
Close this search box.

Pengurangan Personel AS di NATO Picu Kekhawatiran Eropa soal Masa Depan Aliansi

Situasi markas NATO di Brussel, Belgia, Selasa (20/1/2026), di tengah kekhawatiran negara-negara Eropa setelah Amerika Serikat berencana memangkas sekitar 200 posisi personel militernya di sejumlah pusat komando utama NATO./source:reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Rencana Amerika Serikat untuk memangkas sekitar 200 posisi personel militernya di sejumlah pusat komando utama NATO memunculkan kekhawatiran baru di Eropa mengenai arah komitmen Washington terhadap aliansi pertahanan tersebut. Kebijakan ini disebut telah dikomunikasikan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump kepada beberapa ibu kota Eropa.

Tiga sumber yang mengetahui pembicaraan diplomatik internal menyebutkan, pengurangan tersebut akan menyasar berbagai entitas NATO yang berperan dalam perencanaan operasi militer dan intelijen. Langkah ini dinilai bukan sekadar teknis, melainkan sarat pesan politik di tengah hubungan transatlantik yang kembali diuji.

“Sekitar 200 posisi akan dihapus dari beberapa badan NATO,” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas isu diplomatik.

Beberapa lembaga yang terdampak antara lain NATO Intelligence Fusion Centre yang berbasis di Inggris, Allied Special Operations Forces Command di Brussel, serta STRIKFORNATO di Portugal yang menangani sebagian operasi maritim. Pengurangan juga disebut terjadi di sejumlah unit NATO lainnya.

Meski jumlah pemangkasan relatif kecil dibandingkan total kekuatan militer AS di Eropa—yang mencapai sekitar 80.000 personel—langkah ini tetap memicu kegelisahan di kalangan pejabat Eropa. Terlebih, kebijakan tersebut sejalan dengan strategi Gedung Putih yang ingin mengalihkan fokus militer ke Belahan Barat.

Seorang pejabat NATO menegaskan bahwa perubahan personel semacam ini bukan hal baru dan tidak serta-merta melemahkan aliansi.

“Perubahan dalam penempatan staf AS bukan sesuatu yang tidak biasa. Kehadiran Amerika Serikat di Eropa saat ini justru lebih besar dibandingkan beberapa tahun terakhir,” kata pejabat NATO tersebut.
“NATO dan otoritas AS terus berkoordinasi erat untuk memastikan kapasitas pertahanan dan pencegahan tetap kuat,” tambahnya.

Namun, dimensi simbolik dari kebijakan ini dinilai lebih besar daripada dampak militernya. Reuters mencatat, sekitar 400 personel AS sebelumnya ditempatkan di unit-unit NATO yang akan terkena pemangkasan, sehingga jumlahnya akan berkurang hampir setengahnya. Pengurangan ini dilakukan bukan dengan penarikan langsung, melainkan dengan tidak mengisi kembali posisi yang ditinggalkan personel lama.

Baca Juga :  Aturan Baru FIFA Kurangi Beban Mental Pemain

Langkah tersebut terjadi di saat NATO menghadapi salah satu fase diplomatik paling rumit dalam 77 tahun sejarahnya. Presiden Trump kembali menuai sorotan setelah mengunggah ulang pernyataan di media sosial yang menyebut NATO sebagai “ancaman” bagi Amerika Serikat, sekaligus meremehkan ancaman dari Rusia dan China.

Sebelumnya, Trump juga kembali menghidupkan wacana pengambilalihan Greenland—wilayah otonom Denmark—yang memicu kemarahan di Eropa. Bahkan, ia mengancam akan mengenakan tarif terhadap beberapa negara NATO mulai 1 Februari karena mendukung kedaulatan Denmark atas wilayah tersebut.

Gedung Putih dan Pentagon hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana pengurangan personel tersebut. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :