Penusukan Dua Muslimah Prancis Tidak Dicatat sebagai Kejahatan Rasial

Editor Seorang muslimah Prancis berjalan meninggalkan Masjid Raya Paris di depan petugas polisi./getty/via minanews.net/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Polisi Prancis tidak mencatat penusukan terhadap dua orang muslimah di Paris sebagai kejahatan rasial.

Namun, pengacara kedua korban mengajukan pengaduan, meminta pihak berwenang untuk menyelidiki insiden tersebut sebagai kejahatan rasial sehubungan dengan penghinaan rasis yang digunakan oleh para penyerang dan “karena para korban berasal dari ras dan agama tertentu”, TRT worldmelaporkan seperti dilansir minanews.net.

Para penyerang adalah dua wanita keturunan Eropa. Mereka dilaporkan meneriakkan makian seperti “orang Arab kotor”, “Pulanglah ke negaramu sendiri,” sambil menusukkan pisau ke tubuh para korban di taman di bawah Menara Eiffel pada 21 Oktober 2020.

Kebijakan ‘deradikalisasi’ pemerintah Prancis semakin menabur benih kebencian di masyarakat Perancis yang lebih luas karena muslim di negara itu telah biasa menjadi “tersangka”.

“Tidak dapat disangkal bahwa ada hubungan dengan atmosfer yang dipertahankan oleh kelas politik, dan khususnya ‘sekuler’ terhadap muslim, sejak serangan Conflans-Sainte-Honorine,” kata pengacara Arié Alimi, merujuk pada kota tempat seorang guru Prancis dipenggal karena telah memamerkan karikatur Nabi Muhammad pekan lalu.

Alimi mengatakan, agresi yang dihadapi kliennya tidak diragukan lagi terkait dengan hubungan mereka dengan Islam, meskipun polisi pada awalnya menolak aspek kritis dari kasus tersebut.

“Dikhawatirkan akan terjadi tindakan lain seperti ini,” ujarnya.

Bagi Yasser Louati, seorang aktivis hak asasi manusia yang berbasis di Paris dan mantan juru bicara organisasi Collective Against Islamofobia di Perancis, penikaman perempuan muslim di taman Paris adalah satu lagi manifestasi dari tanggapan anti-radikalisasi pemerintah Prancis yang terburu-buru dan tidak memadai, yang hanya memicu kemarahan di masyarakat Perancis yang lebih luas dan menyebabkan pembalasan terhadap muslim yang tidak bersalah.

Baca Juga :  Tiga Santri Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Ar-Rafi Tegal Hapal 30 Juz Al Qur'an

“Muslim di Prancis telah hidup dalam lingkungan anti-muslim setidaknya selama 25 tahun dan sekarang mereka dianggap bertanggung jawab atas pemenggalan kepala guru,” kata Louati kepada TRT World. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Curah Hujan Tinggi, Banjir Bandang Terjang Kawasan Beko Bumi Wangi 

Ming Okt 25 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Curah hujan tinggi di kawasan Bandung Selatan Kabupaten Bandung, mengakibatkan banjir bandang menerjang kawasan pemukiman warga yang berada di wilayah Desa Bumi Wangi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/10/2020) sore. Baca Juga :  Pasca Pandemi, Danone Indonesia dan Kampus Bisnis Umar Usman Dorong UMKM Go […]