Search
Close this search box.

Perawat Tertular Virus Nipah Saat Bertugas, Satu Kritis di Rumah Sakit Bengal Barat

Pelayanan medis di Rumah Sakit Spesialisasi Narayana, Barasat, Bengal Barat, India, awal Januari 2026, saat dua perawat dilaporkan terinfeksi virus Nipah setelah menangani pasien dengan gejala pernapasan berat./source:gettyimages.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Risiko besar yang dihadapi tenaga kesehatan kembali menjadi sorotan setelah dua perawat di Rumah Sakit Spesialisasi Narayana, Barasat, Bengal Barat, India, dilaporkan terinfeksi virus Nipah. Salah satu dari mereka kini berada dalam kondisi kritis setelah sebelumnya merawat pasien dengan gangguan pernapasan berat.

Kasus ini bermula ketika kedua perawat tersebut bertugas bersama pada 28 hingga 30 Desember 2025. Beberapa hari setelahnya, tepatnya antara 31 Desember hingga 2 Januari 2026, keduanya mulai mengalami gejala berupa demam dan sesak napas. Kondisi salah satu perawat terus memburuk hingga akhirnya dilaporkan dalam keadaan koma dan menjalani perawatan intensif.

“Dua perawat di sebuah rumah sakit swasta terinfeksi virus Nipah, dan salah satunya dalam kondisi kritis,” ujar Sekretaris Utama Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bengal Barat, Narayan Swaroop Nigam, dalam pernyataan yang dikutip dari The Telegraph.

Dugaan awal mengarah pada seorang pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit yang sama. Pasien tersebut datang dengan gejala pernapasan berat, namun meninggal dunia sebelum sempat menjalani pengujian laboratorium untuk memastikan jenis infeksi yang dideritanya. Situasi ini menyulitkan identifikasi cepat terhadap sumber penularan.

Seorang pejabat kesehatan senior yang terlibat dalam pengawasan virus Nipah di wilayah tersebut menjelaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung.

“Sumber infeksi yang paling mungkin adalah pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit yang sama. Pasien sedang dirawat sebagai kasus indeks yang dicurigai, dan investigasi sedang berlangsung,” katanya.

Virus Nipah dikenal sebagai patogen dengan tingkat kematian tinggi dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus untuk menyembuhkan infeksi. Penularan di lingkungan fasilitas kesehatan menjadi perhatian serius otoritas karena berpotensi memperluas penyebaran jika tidak segera dikendalikan.

Baca Juga :  Rp1,3 Triliun dan Beban Anfield: Jeremy Jacquet Datang di Tengah Kecaman Legenda Prancis

Peristiwa ini kembali menegaskan betapa rentannya tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan medis, terutama ketika berhadapan dengan penyakit menular yang belum teridentifikasi secara cepat. Otoritas kesehatan setempat kini memperketat pelacakan kontak dan prosedur pengendalian infeksi guna mencegah kemungkinan penularan lanjutan di rumah sakit maupun masyarakat sekitar. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :