Search
Close this search box.

Perjalanan Pulang Penuh Luka, Perempuan Palestina Ceritakan Momen Mencekam di Perbatasan Rafah

Huda Abu Abed, 56 tahun, berada di tenda pengungsian setelah kembali ke Gaza melalui perlintasan Rafah, di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, 3 Februari 2026./source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Harapan untuk pulang ke Gaza setelah berbulan-bulan terpisah berubah menjadi pengalaman yang digambarkan sejumlah perempuan Palestina sebagai perjalanan penuh ketakutan dan tekanan. Beberapa dari sedikit warga yang diizinkan kembali melalui perlintasan Rafah pekan ini mengaku mengalami pemeriksaan ketat, penahanan, hingga interogasi sebelum akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah Gaza.

Huda Abu Abed, 56 tahun, mengatakan perjalanannya dari Mesir menuju Gaza dipenuhi perlakuan yang menurutnya merendahkan martabat. Ia kembali setelah setahun berada di Mesir untuk menjalani perawatan jantung yang belum sempat ia tuntaskan.

“Itu adalah perjalanan penuh horor, penghinaan, dan penindasan,” kata Huda Abu Abed melalui sambungan telepon dari tenda keluarganya di Khan Younis, Gaza selatan.

Menurutnya, rombongan yang kembali dibatasi hanya membawa satu koper per orang. Barang-barang seperti mainan yang hendak dibawa sebagai hadiah untuk keluarga disebut disita saat proses pemeriksaan di perbatasan. Setelah melewati gerbang Rafah, perjalanan belum usai. Mereka harus melintasi zona yang dikendalikan Israel sebelum mencapai wilayah Gaza.

Sabah al-Raqeb, 41 tahun, perempuan lain yang ikut dalam rombongan tersebut, menceritakan bahwa bus yang mereka tumpangi dihentikan di sebuah pos pemeriksaan. Di sana, mereka dipanggil satu per satu untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Petugas bertanya kenapa saya kembali ke Gaza. Dia bilang tempat itu sudah hancur. Saya jawab saya kembali untuk anak-anak dan keluarga saya,” ujar Sabah al-Raqeb.

Kedua perempuan itu menyebut mereka ditutup matanya dan diborgol selama proses interogasi yang berlangsung berjam-jam. Mereka mengaku ditanyai soal pengetahuan tentang kelompok Hamas, serangan 7 Oktober 2023, serta berbagai isu lain terkait konflik yang masih berlangsung.

Menanggapi tudingan tersebut, militer Israel membantah adanya perlakuan tidak pantas terhadap warga Palestina yang melintas. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut tidak ada laporan tentang kekerasan, penahanan sewenang-wenang, maupun penyitaan barang oleh aparat keamanan Israel, serta menegaskan bahwa proses pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur keamanan.

Baca Juga :  Aksi Brutal Pelajar di Cempaka Putih Picu Kekhawatiran Keamanan Jalanan Sepulang Sekolah

Penyeberangan Rafah sendiri merupakan satu-satunya pintu keluar-masuk utama bagi lebih dari dua juta warga Gaza. Perlintasan itu sebagian besar tertutup selama perang dan baru dibuka kembali secara terbatas setelah kesepakatan gencatan senjata tahun lalu. Namun pembukaan yang berjalan lambat membuat ribuan warga, terutama yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri, masih menunggu giliran.

Bagi Huda, kepulangan ini juga dibayangi duka. Salah satu putranya tewas pada Desember 2024 saat ia masih berada di Mesir, dan ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal.

“Saya hanya ingin bersama keluarga saya, apa pun kondisi Gaza sekarang,” katanya.

Meski perjalanan yang mereka alami penuh tekanan, kabar dibukanya kembali perlintasan tetap membawa secercah harapan bagi banyak keluarga yang terpisah. Di tengah reruntuhan dan ketidakpastian, keinginan untuk kembali berkumpul dengan orang-orang tercinta menjadi alasan terkuat bagi mereka untuk tetap melangkah pulang. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :