Perlu Penyadaran Risiko Bencana Longsor Ancam Permukiman Desa Berjo

Editor Ketua PPLH LPPM UNS, Dr. Suryanto, menjelaskan risiko bencana longsor di lereng Gunung Lawu dan menunjuk lahan di lereng curam yang digali untuk penambangan pasir dan batu/visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, hanyalah desa kecil di lereng sisi barat Gunung Lawu. Namun di desa berhawa dingin di bawah kawasan hutan pinus itu, mendapat anugerah Tuhan kekayaan sumber air yang melimpah di antaranya berupa air terjun dan telaga.

Air Terjun “Jumog” dan Telaga Madirda yang berair jernih, telah dimanfaatkan Pemerintah Desa Berjo sebagai obyek wisata, di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sedangkan warga masyarakat Desa Berjo sendiri, mayoritas hidup dari pertanian hortikultura di lahan lereng Gunung Lawu yang tingkat kemiringannya rata-rata curam.

Dr. Suryanto, Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS), dalam beberapa bulan terakhir memberikan perhatian khusus terhadap kondisi lingkungan Desa Berjo.

Dia bersama tim PPLH, melakukan serangkaian kegiatan ilmiah penelitian dan focus group discusion (FGD), serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat Desa Berjo.

Salah seorang anggota tim PPLH UNS, Dr. Setya Nugraha, dalam FGD yang melibatkan pejabat Pemkab Karanganyar dan tokoh masyarakat Desa Berjo yang bertajuk “Penggunaan Lahan Berkelanjutan Berbasis Risiko Lingkungan dan Peran Serta Dalam Mitigasi Bencana”, mengungkapkan pengalamannya ketika melakukan penelitian sumber mata air yang bermuara di Telaga Madirda.

“Dalam penelitian sumber daya air dengan penelusuran sumber mata air, saya mendapati banyak sekali aliran air yang bermuara di Telaga Madirda. Puluhan aliran air yang tidak dapat dipastikan sumber mata airnya itu, tidak boleh dibendung. Karena kalau dibendung akan berisiko tanah di sekitar perairan menjadi lunak dan dampaknya terjadi longsor,” ujarnya.

Persoalannya, di bawah Desa Berjo juga ada desa yang padat penduduk. Jika terjadi longsor di Desa Berjo akibat bendungan dari sumber-sumber mata air, akan menimbulkan bencana alam yang mengancam permukiman di desa tetangga Desa Berjo.

Baca Juga :  TAUSIAH: Hindari 5 Perkara untuk Menjaga Puasa

Dr. Suryanto ketika berkunjung ke Desa Berjo, Sabtu (19/6/2021), menunjukkan kepada wartawan kondisi lahan di lereng gunung yang yang dieksploitasi, bukan hanya untuk pertanian, tetapi juga untuk penambangan pasir dan bebatuan.

“Penggalian lahan di lereng curam itu berisiko terjadinya longsor. Bencana sewaktu-waktu mengancam permukiman di bawahnya. Penggunaan lahan dengan kemiringan yang curam sangat berisiko terhadap lingkungan. Masyarakat perlu disadarkan tentang risiko lingkungan tersebut,” ujarnya, sambil menunjuk lereng sisi utara di atas kawasan Telaga Madirda yang rusak, akibat penggalian pasir dan batu.

Kepala PPLH LPPM UNS itu, mengungkapkan, tim PPLH dalam melakukan penelitian dan melaksanakan pengabdian berupaya membangun kesadaran masyarakat Desa Berjo.

Tim PPLH mengedukasi warga desa bahwa permukiman di lereng bukan hanya berbahaya tetapi juga berisiko terjadi longsor.

“Membangun kesadaran itu penting dan harus dilakukan terus-menerus dengan kearifan lokal agar masyarakat merawat alam dan lingkungan hidupnya,” jelasnya.

Dr. Suryanto menekankan, risiko bencana semakin tinggi, kalau penduduk tambah banyak dan permukiman bertambah padat. Jika sewaktu-waktu terjadi bencana longsor, bukan hanya menimbulkan kerugian harta dan material, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa dan terjadi kerugian imaterial lainnya

Dosen UNS itu menekankan, membangun kesadaran bahwa mereka yang tinggal di lereng-lereng gunung dengan tingkat kemiringan curam dalam kondisi rawan bencana longsor, tidak bisa hanya dilakukan sekali waktu. Tetapi membangun kesadaran harus terus-menerus berkesinambungan dari generasi ke generasi. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Jubir Satgas Wiku Adisasmito Terkonfirmasi Positif Covid-19

Ming Jun 20 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengkonfirmasi tengah terjangkit virus corona menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir. “Saya ingin menginformasikan terkait dengan kondisi kesehatan saya. Seperti yang diketahui, dalam beberapa minggu terakhir, saya melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah yang […]