VISI.NEWS | BANDUNG – Batu bara diprediksi akan tetap menjadi sumber energi utama di masa depan. Meskipun konsumsi batu bara di Eropa dan Amerika Serikat terus menurun, negara-negara Asia seperti China dan India justru meningkatkan permintaannya, menurut laporan CNBC International, Senin (10/2/2025).
Badan Energi Internasional memproyeksikan bahwa konsumsi global batu bara akan mencapai 8,77 miliar ton pada tahun 2024 dan tetap stabil hingga 2027. Dorothy Mei dari Global Energy Monitor menyatakan bahwa meski ada upaya pergeseran energi global, tingginya kebutuhan Asia membuat batu bara tetap menjadi pilihan utama.
“Pergeseran global dari batu bara tetap menantang, sebagian besar didorong oleh meningkatnya permintaan di Asia, bahkan ketika Eropa dan AS mengalami penurunan signifikan dalam konsumsi batu bara,” kata Mei.
China mencatat lonjakan impor batu bara sebesar 14,4% pada 2024, dengan total 542,7 juta ton, menjadikannya konsumen terbesar dengan pangsa 56% dari permintaan dunia. Kendala dalam distribusi energi terbarukan serta ketergantungan pada tenaga air turut membuat China terus bergantung pada batu bara.
“Selain itu, kendala utama lainnya bukanlah ketersediaan infrastruktur energi terbarukan, di mana masih ada kesulitan menyalurkan tenaga surya dan angin ke seluruh provinsi,” ujarnya.
Di India, permintaan listrik meningkat akibat panas ekstrem dan belum cukup cepatnya pengembangan energi bersih. India bahkan memperpanjang operasi penuh pembangkit berbasis batu bara hingga Februari 2025. Peningkatan konsumsi semen dan baja juga menjadi faktor pendorong tingginya kebutuhan batu bara.
“Fokus India pada pembangunan ekonomi dan infrastruktur juga telah meningkatkan konsumsi semen dan baja, industri yang sangat bergantung pada batu bara,” menurut analis laman yang sama.
“Permintaan baja negara Asia Selatan itu akan tumbuh sebesar 8-9% pada tahun 2025, melampaui permintaan negara-negara ekonomi lain, karena peningkatan konstruksi yang padat baja di sektor infrastruktur dan perumahan,” ujarnya.
Negara lain seperti Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh terus membangun pembangkit listrik berbasis batu bara. Indonesia mencetak rekor produksi.
“Produksi batu bara Indonesia naik menjadi sekitar 831 juta ton untuk mencapai rekor tertinggi baru tahun lalu,” data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI.
Selain itu, penggunaan AI dan pusat data global semakin memacu kebutuhan energi. Tim Winter dari Gabelli Funds menyebut bahwa pusat data AI memerlukan daya besar, yang membuat batu bara tetap dipertahankan sebagai sumber energi yang terjangkau dan andal.
“AS, China, dan dunia tengah berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan dalam AI. Pusat-pusat data AI merupakan pengguna daya yang besar, sehingga semakin sulit untuk menghentikan penggunaan sumber energi yang andal dan terjangkau seperti batu bara,” kata Tim.
Laporan Moody’s Ratings memperkirakan kebutuhan daya pusat data bisa mencapai lebih dari 35 GW pada 2030, lebih dari dua kali lipat kebutuhan daya yang tercatat pada 2022. Dengan tingginya permintaan energi, transisi penuh ke energi terbarukan tampaknya masih jauh dari kenyataan.
“Tidak akan ada transisi ketika permintaan minyak, gas alam, batu bara, terus mencapai rekor tertinggi,” ujar Eric Nuttall, manajer portofolio senior di Ninepoint Partners. @ffr