VISI.NEWS| JAKARTA – Kebakaran yang menewaskan 22 orang di Gedung Terra Drone, Kemayoran, Jakarta Pusat, membuka perhatian baru terkait standar keselamatan di tempat kerja dan bahaya karbon monoksida dalam kebakaran gedung.
Kebakaran terjadi pada Rabu siang (10/12/2025), menimpa karyawan yang sedang berada di lantai tiga gedung. Data forensik menunjukkan seluruh korban meninggal akibat menghirup karbon monoksida (CO), gas tak berwarna dan tak berbau yang dapat membunuh dalam hitungan menit.
Kabiddokkes Polda Metro Jaya Kombes Pol dr. Martinus Ginting menjelaskan mekanismenya.
“Ikatan hemoglobin terhadap karbon monoksida jauh lebih kuat sekitar 20–30 kali dibanding oksigen. Jadi ketika terbakar, kadar CO tinggi, darah tidak bisa mengikat oksigen. Itu sebabnya korban kehilangan kemampuan bernapas sebelum api menyebar,” ujar Martinus.
Kepala Rumah Sakit Polri, Brigjen Prima Heru, menambahkan proses identifikasi korban memerlukan waktu dua hari karena kombinasi sidik jari dan autopsi medis.
“Data primer dari sidik jari sangat akurat, ditambah auditologi medis,” kata dia.
Sementara itu, Kabid Yandokpol Pusdokkes Polri Kombes Pol Ahmad Fauzi memastikan, penyebab utama kematian seluruh korban adalah inhalasi karbon monoksida, bukan luka bakar.
Tragedi ini menyoroti perlunya pengawasan keselamatan kerja yang lebih ketat, termasuk sistem deteksi asap dan ventilasi yang memadai. Para ahli kebakaran menyatakan bahwa gedung modern harus dilengkapi alarm CO, sistem sprinklers yang efektif, serta jalur evakuasi yang jelas untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Ervina (25), salah satu korban, sempat mengirim pesan suara terakhir ke keluarganya, yang menggambarkan kepanikan dan ketidakmampuannya menyelamatkan diri.
“Gua enggak tahu lagi ya. Sumpah ini gua dah… Gua udah enggak bisa ngapa-ngapain, Dea, guys. Maaf banget gua dah nggak tahu lagi nih,” terdengar dalam rekaman tersebut, menekankan betapa cepatnya korban terpapar gas beracun sebelum api dapat mereka hindari.
Insiden ini membuka pertanyaan penting bagi regulator dan perusahaan terkait standar keselamatan dan kesiapan darurat di gedung perkantoran. Dengan adanya 22 korban jiwa, tragedi ini menjadi peringatan bagi industri agar protokol keselamatan tidak hanya formalitas, tetapi benar-benar bisa menyelamatkan nyawa. @kanaya