Petani Penggarap Lahan Sewaan Tuding Manajemen PTPN VIII Sinumbra Pilih Kasih

Editor :
Adi Dwisatria Sabar (kiri), Gatot Anjasmara (tengah), dan Jeje Setiawan (kanan) saat menerima VISI.NEWS di ruang kerjanya, PTPN VIII Perkebunan Sinumbra, baru-baru ini./visi.news/apih igun.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Masyarakat petani Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyewa lahan tidak produktif milik PTPN VIII, Perkebunan Sinumbra, Kecamatan Rancabali, kabupaten Bandung.

Hal itu dilakukan menyusul informasi bahwa masyarakat boleh menyewa lahan PTPN VIII Perkebunan Sinumbra dengan harga yang diberikan pihak manajemen Perkebunan Sinumbra sebesar Rp 75 ribu per patok atau 400 meter persegi per bulan.

Informasi yang berkembang di lapangan, para penyewa itu belum memiliki surat izin menggarap lahan. Padahal mereka (petani penggarap) sudah membayar lunas sewaan lahan tersebut. Meski disewakan, sepertinya pihak manajemen pilih kasih sehingga permasalahan pun muncul di masyarakat.

Salah satu lahan yang disewakan PTPN VIII Perkebunan Sinumbra di Kecamatan Rancabali ditanami stroberi./visi.news/apih igun.

“Kami minta pihak manajemen perkebunan Sinumbra jangan hanya memberikan kesempatan kepada petani penggarap yang punya uang. Sedangkan petani tak berduit dilewat dan tak diberi kesempatan untuk menggarap lahan perkebunan tersebut,” ujar salah seorang penggarap lahan yang enggan disebut namanya di Rancabali, Sabtu (6/6).

Akan tetapi, lanjutnya, dia tak mempermasalahkan hal tersebut. Karena, setelah diselidiki, banyak juga yang menyewa lahan ke pihak manajemen Sinumbra.

“Kami juga tak masalah kalau memang banyak yang sewa. Hanya saja pihak manajemen jangan pilih kasih dong. Selain itu, harga sewanya sebaiknya perlu ditinjau ulang karena segitu terlalu mahal,” katanya.

Hal lain yang muncul, soal surat izin yang dimiliki penyewa lahan garapan. Salah satunya Narya alias NR. Petani stroberi ini sempat deg-degan karena lahan sewaannya sudah digarap meski belum ada izin sehingga dia mendesak pihak manajemen perkebunan segera menerbitkan surat izin pengelolaan lahan garapan.

“Kami juga minta pihak perkebunan Sinumbra segera menerbitkan surat izin, jangan hanya memberikan kuitansi. Karena kami sudah menggarap semua lahan sewaan kami ini,” tukasnya.

Bantah

Sementara itu, pihak manajemen Perkebunan Sinumbra PTPN VIII saat dikonfirmasi membantah tudingan itu. Pihaknya untuk sementara mengeluarkan bukti kuitansi sebagai pegangan para penggarap.

“Kami akui bahwa masyarakat yang menyewa lahan ini baru kami beri kuitansi yang ditandatangani dan stempel lengkap manajemen. Sedangkan untuk surat izin, kami akan segera keluarkan manakala seluruh petani penggarap lahan sewaan menyelesaikan syarat yang dibutuhkan manajemen,” terang Manajemen Administrasi Umum, Gatot Anjasmara, S.H. yang diamini bagian administrasi, Adi Dwisatria, S.E., Jumat (5/6).

Gatot mengatakan, manajemen tak pernah pilih kasih jika ada masyarakat yang akan menyewa lahan di Perkembunan Sinumbra.

“Siapa pun yang akan menyewa, kami persilahkan karena ini income bagi kami. Asalkan selama itu masyarakat beralamat di daerah perkebunan kami atau ber-KTP Kec. Rancabali. Harganya juga cukup murah karena kami sewakan disesuaikan dengan kondisi masyarakat di sini dan saat pandeni Covid-19,” tegasnya.

Dia meminta pihak penyewa dengan lahan besar sekekas Bapak Narya bisa membantu manajemen dengan mempercepat masyarakat lainnya yang menyewa lahan untuk segera melengkapi persyaratan administasinya.

“Jika administrasi dan syarat sudah lengkap, kami pun akan segera menghadap manajer kami untuk segera menerbitkan surat izin pengolahan lahan ini. Perlu kami sampaikan bahwa jumlah masyarakat yang menyewa mencapai 1.000 orang. Dengan begitu, masyarakat diminta untuk mentaati aturan sewa-menyewa lahan dengan pihak PTPN VIII Perkebunan Sinumbra,” pungkasnya. @pih

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ki Gendeng Pamungkas Meninggal Dunia

Sab Jun 6 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Kabar duka datang dari keluaga Ki Gendeng Pamungkas . Pria yang dikenal sebagai paranormal ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mulia, Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Sabtu (6/6) sekira pukul 15:15 WIB. “Saya diberi informasi beliau meninggal dunia oleh anaknya sekitar pukul 15.00 WIB,” ujar Adang Yani, keluarga sekaligus besan Ki […]