Petani Sukoharjo Hadapi Kendala Tak Bisa Tanam Padi 3 Kali Setahun

Editor Kepala KPw BI Solo, Nugroho Joko Prastowo, bersama pimpinan Forkompinda Kabupaten Sukoharjo, melakukan panen raya padi yang dihasilkan petani Klaster Padi Modern Farming Sukoharjo, di Desa Tangkisan./visi.news/istimewa.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Nugroho Joko Prastowo, menyatakan, petani Kabupaten Sukoharjo menghadapi kendala sehingga tidak bisa menanam padi 3 kali setahun.

Mengutip para petani yang tergabung dalam Klaster Padi Modern Farming Sukoharjo, di antara penyebab belum optimalnya frekuensi tanam sebanyak 3 kali dalam setahun, karena setiap bulan Oktober saluran irigasi dari Waduk Gajah Mungkur dijadwalkan perbaikan (maintenance) rutin.

“Selain itu, serangan hama tikus dan wereng masih terus terjadi di wilayah Sukoharjo, akibat tidakseimbangnya ekosistem. Bank Indonesia bersama Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo, bersinergi melakukan pendampingan Klaster Padi Modern Farming sejak tahun 2017, untuk mendukung upaya peningkatan frekuensi agar dapat mencapai 3 kali setahun,” kata Nugroho, dalam kegiatan panen raya padi Klaster Padi Modern Farming dan penyerahan bantuan secara simbolis dari Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) kepada petani Klaster Padi Modern Farming Sukoharjo, Jumat (11/6/2021).

Bantuan PSBI yang diserahkan dalam panen raya yang diikuti para pejabat Forkopimda Kabupaten Sukoharjo, berupa 2 buah sumur dalam yang berlokasi di Desa Tangkisan dan Pojok, untuk irigasi lahan saat di Waduk Gajah Mungkur dilakukan maintenance rutin tahunan.

Kepala KPw BI Solo, menjelaskan, beras merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang rentan mempengaruhi laju inflasi sehingga pihaknya memandang perlu ada upaya untuk menjaga ketersediaan stok dan keterjangkauan harga komoditas pokok tersebut.

Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, menurut dia, menaruh perhatian besar terhadap masalah pangan dengan melakukan berbagai upaya untuk mendukung peningkatan produksi dan efisiensi biaya produksi klaster pangan.

“Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu penghasil padi dengan produktivitas paling tinggi di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, Sukoharjo dengan luas lahan pertanian 49.061 hektar setiap tahun memproduksi 339.453 ton padi,” ungkapnya.

Baca Juga :  UMKM Menggeliat Pasca Covid-19, Ahamd : UMKM Di Jabar Harus Lebih Hidup

Penerapan teknologi dengan sistem pertanian modern di Kabupaten Sukoharjo sejak 2016, sambungnya, terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi sekaligus menurunkan biaya produksi.

Dengan sistem pertanian modern, terjadi peningkatan produktivitas sampai 15 persen dan efisiensi biaya produksi sebesar 10 persen. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Piala Eropa 2020: Italia Gebuk Turki 3-0 dalam Laga Perdana

Sab Jun 12 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Menekan sejak kickoff babak pertama dan menggebrak sejak detik pertama babak kedua, Italia yang menciptakan 13 percobaan menjebol gawang Turki akhirnya sukses tiga kali menciptakan gol pada babak kedua saat mengawali kampanye menjuarai Euro kedua kalinya dengan menang 3-0 atas Turki, di Stadion Olimpico, Roma, Jumat waktu […]