Search
Close this search box.

Pilih Empati daripada Proses Hukum, Fiersa Besari Cabut Laporan Demi Ketenangan Keluarga

Musisi Fiersa Besari mendampingi istrinya, Aqia Nurfadla, usai mengalami insiden penabrakan di Jakarta, Senin (5/1/2026). Fiersa memutuskan mencabut laporan polisi dan memilih fokus pada pemulihan sang istri./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Musisi Fiersa Besari memutuskan mencabut laporan kepolisian terkait insiden penabrakan yang menimpa istrinya, Aqia Nurfadla. Keputusan tersebut diambil bukan karena tekanan, melainkan sebagai bentuk penghormatan atas keinginan sang istri serta pertimbangan kemanusiaan yang dinilai lebih menenangkan bagi keluarga.

Fiersa mengungkapkan bahwa sejak awal dirinya berniat melanjutkan proses hukum. Namun, Aqia memilih jalan berbeda dan tidak ingin memperpanjang persoalan. Permintaan itu akhirnya menjadi dasar utama keputusan Fiersa untuk mengakhiri laporan.

“Saya sendiri awalnya ingin memperpanjang urusan. Tapi Aqia tidak mau,” tulis Fiersa dalam pernyataannya yang dikutip Senin (5/1/2026).

Selain permintaan istri, Fiersa juga mempertimbangkan masukan dari manajernya, Ubay, yang melihat perkara tersebut secara lebih rasional. Menurut Fiersa, kondisi penabrak menunjukkan bahwa proses hukum kemungkinan tidak akan menghasilkan solusi yang adil bagi semua pihak.

“Kita bisa lihat secara sepintas, bapak ini bukan orang berada. Solusi yang biasanya dihadirkan orang berada tidak seperti itu,” tulisnya.

Ia menuturkan bahwa sejak awal kejadian, penabrak sudah menawarkan ganti rugi biaya rumah sakit sebesar Rp200.000 dan mengaku hanya memiliki uang sebanyak itu. Penabrak tersebut juga menyebutkan bahwa mobil yang dikendarainya merupakan pinjaman dan dalam kondisi tidak terawat.

“Belum diminta ganti biaya rumah sakit, sudah menawarkan Rp200.000. Mobil juga katanya pinjam, dan bisa terlihat kondisinya tidak terawat,” lanjut Fiersa.

Menurut pelantun lagu April itu, memperpanjang laporan justru berpotensi menguras waktu dan energi, tanpa jaminan adanya keadilan yang sepadan bagi korban.

“Apa ujung dari memperpanjang urusan pelaporan? Penyitaan kendaraan, dan kami harus bolak-balik berurusan dengan pihak berwajib,” ujarnya.

Fiersa juga menilai bahwa proses hukum belum tentu memberikan efek jera, bahkan bisa memunculkan rasa dendam di kemudian hari. Ia menegaskan bahwa keputusan mencabut laporan merupakan langkah paling ideal bagi keluarganya saat ini.

Baca Juga :  Sekda Jabar Berpesan KKN Mahasiswa Harus Beri Dampak Nyata di Masyarakat

“Hasil akhirnya bukan memberi efek jera, melainkan memberi efek dendam. Dan tetap saja, Aqia sebagai korban belum tentu mendapatkan ganti rugi secara materi. Solusi ini mungkin tidak ideal untuk semua orang, tapi ini paling ideal untuk kami,” tulis Fiersa.

Di tengah situasi tersebut, Fiersa mengakui dirinya berusaha keras menahan emosi. Ia tidak menampik sempat hampir terpancing amarah saat melihat respons penabrak setelah kejadian.

“Saya beberapa kali hampir berkata kasar. Saya sempat kelepasan bilang, ‘Ini bukan soal uang. Bapak berhadapan dengan orang yang salah,’” ungkapnya.

Namun, Fiersa mengaku ditenangkan oleh sang manajer yang mengingatkannya akan risiko bertindak emosional, terutama jika kejadian tersebut terekam dan tersebar di media sosial.

“Kalau sampai terekam dan dipotong tanpa konteks, takutnya malah disangka abuse of power atau semena-mena terhadap orang kurang mampu. Maka, tindakan terbaik adalah bersabar, meskipun geramnya bukan main,” tuturnya.

Saat ini, Fiersa dan keluarga memilih fokus pada pemulihan Aqia. Berdasarkan hasil pemeriksaan rontgen, tidak ditemukan retakan pada kaki sang istri, meskipun proses penyembuhan diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama.

“Setelah ini, saya tidak akan bahas bapak penabrak lagi, kecuali ada hal lain yang mengharuskan kami kembali berurusan. Kami akan fokus pada penyembuhan kaki Aqia,” pungkas Fiersa. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :