VISI.NEWS | BANDUNG – Setiap tanggal 17 September, bangsa Indonesia memperingati lahirnya Palang Merah Indonesia (PMI). Tahun ini, usia organisasi kemanusiaan tertua di Tanah Air itu genap 80 tahun sejak berdiri pada 17 September 1945, hanya sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.
PMI lahir di tengah suasana revolusi. Saat itu, Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya dan langsung dihadapkan pada berbagai pertempuran dengan tentara Belanda maupun sekutu. Di tengah situasi darurat itulah, Presiden Soekarno memerintahkan pembentukan Palang Merah nasional yang bisa membantu rakyat dan pejuang.
Perintah Bung Karno segera dijalankan. Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo kemudian menunjuk dr. R. Mochtar sebagai Ketua PMI pertama. Sejak saat itu, PMI langsung bergerak cepat memberikan pertolongan bagi korban perang dan masyarakat yang membutuhkan layanan medis.
Kelahiran PMI juga menjadi simbol kedaulatan bangsa. Sebelumnya, pemerintah kolonial Belanda hanya mengizinkan berdirinya NERKAI, cabang Palang Merah Belanda di Hindia Belanda. Dengan berdirinya PMI, Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa merdeka ini mampu berdiri sendiri dalam urusan kemanusiaan.
Tak berhenti di situ, PMI kemudian berjuang untuk mendapatkan pengakuan internasional. Setelah proses panjang, PMI resmi diakui sebagai anggota penuh Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional pada 1950. Hal ini memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
Kini, peran PMI semakin luas. Selain layanan donor darah, PMI juga aktif dalam penanggulangan bencana, penyuluhan kesehatan, hingga misi kemanusiaan ke luar negeri. Relawan PMI hadir di hampir semua daerah, menjadi garda terdepan saat bencana melanda.
Dalam peringatan 17 September 2025, Ketua Umum PMI Jusuf Kalla kembali mengingatkan pentingnya peran PMI di tengah tantangan sosial. “PMI harus berjuang. Bukan hanya dalam batas-batas itu, harus bekerja untuk keselamatan dan kebaikan untuk kita,” ujar JK saat pelantikan pengurus PMI DKI Jakarta. Ia menekankan bahwa kesenjangan sosial atau disparitas menjadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi dengan kerja nyata kemanusiaan.
Selain itu, JK juga berpesan agar PMI tetap memberikan pertolongan sepenuh hati tanpa membeda-bedakan latar belakang. “Membantu masyarakat harus dilakukan secara tuntas dan ikhlas. Kita tidak hanya membantu secara ikhlas, tetapi juga sampai tuntas,” katanya menegaskan.
Peringatan Hari PMI tahun ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk revolusi 1945, para pendiri bangsa tetap menaruh perhatian besar pada kemanusiaan. Lebih dari tujuh dekade kemudian, semangat itu tetap relevan. PMI bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian penting dari masa depan bangsa.
@uli












