Pola Pikir Perajin Sebagai Buruh Harus Berubah Menjadi Pola Pikir Wirausaha

Editor Para perajin batik Girilayu yang awalnya berpola pikir pekerja atau buruh mendapatkan pelatihan dan pendampingan KPw BI Solo agar berubah menjadi pola pikir wirausaha./visi.news/istimewa.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pola pikir para perajin tradisional yang secara turun temurun bekerja sebagai pekerja atau buruh dan berakibat keuntungan yang didapat hanya sebatas upah yang diterima kini harus berubah.

Para perajin yang menghasilkan karya dengan nilai ekonomi tinggi sudah saatnya melakukan perubahan mindset atau pola berpikir pekerja menjadi entrepreneur atau wirausaha, sehingga termotivasi untuk terus produktif dan melakukan inovasi baru untuk menciptakan peluang usaha yang menguntungkan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Nugroho Joko Prastowo, menekankan pentingnya masalah tersebut sesuai KPw BI Solo memfasilitasi pengembangan Klaster Batik Paguyuban “Giriarum”, Desa Girilayu, Kabupaten Karanganyar, dalam Program Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Berbasis Kelompok Subsistence, belum lama ini.

“Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan, yang dihadapi anggota paguyuban “Giriarum” antara lain masalah permodalan, mindset sebagai pekerja, pemasaran, serta perlunya inovasi untuk diversifikasi produk agar dapat bersaing dan dapat menjangkau pasar global. Sebagian besar anggota paguyuban masih memiliki mindset pekerja atau buruh sehingga keuntungan yang didapat hanya sebatas upah yang diterima,” kata Nugroho Joko Prastowo, kepada awak media, Senin (2/8/2021).

Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, menurut Kepala KPw BI Solo, pihaknya telah menyusun program pendampingan peningkatan kapasitas SDM melalui serangkaian pelatihan.
Pada 30 Juli 2021 lalu, sambungnya, KPw BI Solo bersama Rumah Zakat Solo melaksanakan pelatihan tahap kedua, dengan topik “Menjadi Wirausaha Industri Kreatif yang Mandiri dan Sukses”.

Materi pelatihan tahap kedua tersebut, katanya lagi, berbeda dengan materi pelatihan pertama dengan topik pengelolaan keuangan pribadi dan usaha, serta pengenalan produk dan layanan lembaga keuangan yang dalam pelaksanaannya dimasa PPKM level IV digelar secara daring.
Nugroho menambahkan, program pengembangan UMKM subsistence Girilayu juga merupakan pelaksanaan mandat kebijakan makroprudensial, khususnya dalam mendorong fungsi intermediasi serta peningkatan akses keuangan.

Baca Juga :  Liga Spanyol: Messi Tampil Cemerlang, Barcelona Cukur Granada 4-0

“Selain akses keuangan, juga untuk penguatan SDM dan korporatisasi, penyempurnaan akurasi informasi dan data, optimalisasi koordinasi yang intensif antar lembaga, peningkatan pemanfaatan inovasi dan teknologi, serta penciptaan ekosistem pendukung. Itu merupakan bagian dari faktor pendorong keberhasilan pengembangan UMKM di Indonesia yang dibangun Bank Indonesia,” jelasnya. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kasus Turun Jadi 31,15%, Ganjar Minta Semua Pihak Tetap Siaga

Sel Agu 3 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memimpin rapat evaluasi penanganan Covid-19 di kantornya, Senin (2/8/2021).¬† Ganjar mendapatkan laporan, bahwa tren¬† kasus Covid-19 di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan. Pada rapat evaluasi tersebut Pj Sekda Provinsi Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo menerangkan, tren kasus di Jawa Tengah sebanyak 38,18 persen […]