Ponpes Darussalam Panen Cabai di Lahan Wakaf Saat Harga di Pasaran Melambung

Editor Kepala KPw BI Solo, Nugroho Joko Prastowo, bersama pimpinan Ponpes Darussalam, Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, melakukan panen perdana cabai merah keriting di lahan wakaf milik ponpes./visi.news/istimewa.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Di tengah melambungnya harga cabai di pasaran saat ini, Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam yang berlokasi di Dusun Bandung, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, melakukan panen perdana tanaman cabai di lahan seluas 1.750 meter persegi.

Panen raya tanaman hortikultura yang harganya sering berfluktuasi tersebut merupakan salah satu aktivitas budi daya tanaman pangan di Ponpes Darussalam yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo. Tujuannya untuk pengembangan unit usaha ponpes dalam mendukung program kemandirian ekonomi Ponpes.

Salah seorang pengurus Ponpes Darussalam, Ustaz Khumaidi, dalam rilis yang diterima VISI.NEWS, Selasa (9/3/2021) menjelaskan, panen perdana cabai merah keriting tersebut merupakan hasil panen dari musim tanam bulan November dan Desember 2020.

Budi daya tanaman cabai yang baru pertama kali di laksanakan di Ponpes Darussalam memanfaatkan sebagian lahan wakaf yang total keseluruhannya seluas 7.035 meter persegi.

“Ponpes Darussalam merupakan salah satu ponpes di Boyolali yang menerima bantuan untuk pengembangan unit usaha pertanian. Selama ini, Ponpes Darussalam di Dusun Bandung, Wobosegoro, tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga mengembangkan sektor ekonomi pesantren melalui budi daya pertanian, yaitu jagung, padi, dan cabai,” katanya.

Kepala KPw BI Solo, Nugroho Joko Prastowo, mengungkapkan, sejak tahun 2017 BI Solo telah mengembangkan 10 unit usaha Ponpes di wilayah Surakarta yang biasa disebut Solo Raya, untuk mendukung program kemandirian ekonomi ponpes.

Program tersebutz antara lain pengembangan unit usaha air minum dalam kemasan (AMDK), cake & bakery, konveksi, budi daya perikanan, dan pertanian.

“Ke depan, untuk mendukung akselerasi penguatan unit-unit usaha pondok pesantren, unit bisnis antar pesantren diharapkan dapat bersinergi dalam meningkatkan dan memberdayakan bisnis pesantren sehingga kerja sama antarpesantren bisa makin masif. Sinergi tersebut dapat menjadi ekonomi pesantren yang benar-benar bisa bersaing dengan pelaku-pelaku ekonomi lainnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Asep Syamsudin: Pemprov Jabar Agar Menangkap Peluang Ekonomi Proyek KCJB

Menyinggung panen perdana cabai di klaster pangan binaan KPw BI Solo, Nugroho menyatakan, BI mendorong ponpes mengembangkan komoditas cabai untuk mewujudkan kemandirian ekonominya. Di sisi lain, tanaman cabai dapat membantu menjaga ketersediaan pasokan cabai dan akhirnya berkontribusi pada upaya pengendalian inflasi, sejalan dengan salah satu tugas BI dalam pengendalian inflasi.

Budi daya cabai di Ponpes Darussalam sudah berjalan selama 4 tahun dengan pola bergantian tanam dengan komoditas lainnya. Pada tahun 2021, cabai yang ditanam adalah cabai keriting dengan benih CLAUSE dengan jumlah tanaman sekitar 2.750 batang.
Penanaman cabai di klaster pangan, sambung Kepala KPw BI Solo, merupakan tindak lanjut gerakan tanam cabai di pekarangan yang digiatkan KPw BI Solo pada tahun 2019. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Prof. Bandi: Kejujuran Saat Ini Tergolong Mahal

Rab Mar 10 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Kejujuran dalam pengelolaan dan pelaporan keuangan di institusi perusahaan maupun di pemerintahan, saat ini tergolong mahal. Sementara ketidakjujuran dalam laporan keuangan –di antaranya manajemen laba– sering dikatakan sebagai hal yang legal, tetapi sebenarnya tidak etis atau sering disebut legal but unethical. Prof. Dr. Bandi, pakar akuntansi yang […]