Search
Close this search box.

Pramono Siaga Dampak Konflik AS–Israel dan Iran, Jakarta Fokus Jaga Harga Jelang Lebaran

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan sambutan saat pembukaan JIS Ramadhan Festival 2026 di Jakarta, Minggu (1/3/2026), di tengah kewaspadaan Pemprov DKI terhadap dampak penutupan Selat Hormuz akibat konflik AS–Israel dan Iran terhadap perekonomian ibu kota./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan kewaspadaannya terhadap dampak lanjutan yang bisa merembet hingga ke ibu kota. Bukan soal politik luar negeri, melainkan efek berantai terhadap rantai pasok dan harga kebutuhan pokok warga Jakarta.

Konflik yang memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai berpotensi mengguncang distribusi energi global. Jalur laut strategis tersebut selama ini menjadi nadi perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima ekspor minyak global melintas di sana, termasuk pasokan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menuju pasar internasional.

Berbicara saat membuka JIS Ramadhan Festival 2026 di Jakarta, Minggu (1/3), Pramono menekankan bahwa gangguan di Selat Hormuz bisa berdampak luas.

“Jika Selat Hormuz ditutup pasti akan berdampak pada supply chain atau rantai pengiriman barang dan barang-barang mengalami kenaikan harga,” ujarnya.

Meski demikian, ia meminta masyarakat tetap tenang. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, telah mengantisipasi potensi gejolak harga, terutama menjelang Idul Fitri.

“Kami pantau di semua pasar utama di Jakarta belum terjadi kenaikan,” kata Pramono.

Ia memastikan stok kebutuhan pokok dalam kondisi aman dan lebih dari cukup. Khusus komoditas daging, ketersediaan disebut masih terjaga. Fokus utama Pemprov saat ini adalah menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan tidak terganggu di tengah ketidakpastian global.

Kekhawatiran atas potensi lonjakan harga minyak juga disampaikan Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Ia menilai eskalasi konflik dapat mendorong harga minyak dunia melonjak signifikan.

Menurut Faisal, harga minyak saat ini berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun jika konflik berlanjut, harga berpotensi naik ke 80 dolar AS per barel. Bahkan, bila distribusi melalui Selat Hormuz benar-benar terganggu, angka tersebut bisa menembus 100 dolar AS per barel.

Baca Juga :  Berangsur Surut! Banjir Baleendah, Satu Titik Masih Rawan

“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak mentah global berpotensi memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi barang, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi, termasuk di Jakarta. Karena itu, Pemprov DKI menyatakan akan terus memantau pergerakan harga di pasar serta laju inflasi daerah.

Di tengah bayang-bayang gejolak global, pesan yang disampaikan pemerintah daerah tetap sama: waspada, tetapi tidak panik. Bagi Jakarta, stabilitas harga jelang Lebaran menjadi prioritas utama, sembari mencermati dinamika konflik yang berlangsung ribuan kilometer dari ibu kota. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :