Praniko : Usulan Pembentukkan Pansus Covid-19 Tidak Obyektif

Editor :
Ketua Fraksi Gerindra, Praniko Imam Sagita./visi.news/ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Setelah viral beberapa bulan lalu Fraksi di DPRD kabupaten Bandung menolak Pengesahan APBD Perubahan yang notabene sangat erat dengan program program yang ada Pedesaan, kini kembali mencuat isu desakan beberapa Fraksi yang menginginkan dibentuknya Pansus covid-19. Padahal pembentukan Pansus covid-19 tersebut sempat pula ditolak unsur pimpinan DPRD Kab. Bandung.

Menyikapi hal tersebut Ketua Fraksi Gerindra, Praniko Imam Sagita mempertanyakan urgensi dari usulan pembentukan pansus covid-19 oleh Fraksi Demokrat, Fraksi PKB, Fraksi Nasdem, dan Fraksi PKS di DPRD Kabupaten Bandung.

Menurutnya, pada pembahasan badan musyawarah (banmus) sebelumnya, sama sekali tidak ada pembahasan terkait menolak atau menjalankan usulan pembentukan pansus covid-19, pasalnya dalam banmus tersebut hanya membahas tentang jadwal kegiatan anggota DPRD saja.

“Dalam Banmus kemarin memang tidak membahas soal Pansus covid-19, soalnya suratnya belum masuk. Mekanisme surat untuk dibahas di Banmus itu adalah harus diregistrasi di bagian umum dulu, setelah itu masuk kepimpinan dewan, baru dirapatkan di Banmus untuk diambil keputusan disana,” ujar Praniko melalui sambungan telepon, Selasa (24/11/2020).

Praniko yang mewakili Fraksi Gerindra, Fraksi Golkar, Fraksi PAN, dan Fraksi PDIP menilai usulan pembentukan pansus covid-19 justru tidak objektif, pasalnya dari informasi yang didapatnya, kata Praniko, empat fraksi pengusul pembentukan Pansus covid-19 tersebut menginginkan transfaransi dan ketepatsasaranan penanggulangan covid-19 di Kabupaten Bandung.

“Kita harus tahu dan mendalami dulu urgensi dan tujuan pembentukan pansus tersebut. Kalau kami lihat informasi di media, apa yang disampaikan oleh rekan-rekan empat fraksi itu, harus ada transparansi, harus tepat sasaran, padahal peluang itu sudah pernah ada di kewenangan DPRD sendiri, disaat pembahasan anggaran perubahan,” jelas Praniko.

Lebih jauh ia memaparkan, DPRD memiliki kewenangan membahas anggaran perubahan yang diatur oleh undang-undang. Namun, empat fraksi pengusul pansus covid-19 justru menolak adanya pembahasan anggaran perubahan. Padahal, ruang pembahasan anggaran perubahan tersebut betul-betul merupakan ruang untuk setiap anggota DPRD mempertanyakan segala sesuatu tentang anggaran refokusing.

“Apa saja anggaran yang direfokusing, berapa pendapatannya, terus dibelanjakan kemana saja BTT nya, terus anggaran yang harus dibelanjakan kemana lagi, hal-hal seperti itu kan secara lebih detil bisa dibahas disana. Sementara kalau Pansus itu kan terbatas. Dalam pembahasan anggaran perubahan kita bisa menyetujui atau tidak menyetujui anggaran, bisa menghapus atau meng-acc anggaran,kalau pansus itu apakah bisa membatalkan anggaran yang sudah jalan?” terang Praniko.

Itulah yang menjadi pertanyaan besar, kata Praniko, sungguh mengherankan ketika empat fraksi menolak adanya pembahasan anggaran perubahan, namun di sisi lain malah mengusulkan pembentukan Pansus. Itulah yang dinilai tidak objektif jika kemudian pansus covid-19 itu harus dibentuk.

“Ketika mereka menolak pembahasan anggaran perubahan artinya mereka memotong kewenangan mereka sendiri untuk dapat memeriksa eksekutif atau TAPD terkait refokusing anggaran penangan covid-19 kemarin,” katanya.

Terkait Kabupaten Bandung yang dinyatakan sebagai zona merah penyebaran covid-19, ia menduga adanya keterkaitan dengan penolakan pembahasan anggaran perubahan sehingga mengakibatkan lambatnya pengesahan anggaran melalui Perbup parsial. Ketika pembahasan anggaran perubahan ditolak, maka untuk anggaran menjadi kewenangan Bupati yang diatur oleh undang-undang, yaitu dengan Perbup parsial.

“Kalau Perbup kan lama ,harus izin Mendagri, sehingga anggaran covid-19 nya terbatas waktunya, anggaran habis, pembahasan perubahan tidak dilakukan, izin Mendagri lama sehingga Kabupaten Bandung terlambat mengagarkan untuk penanganan covid-19, kalau kami melihat objektifitasnya ada keterkaitan antara Kabupaten Bandung masuk zona merah dengan ditolaknya anggaran perubahan oleh empat fraksi tadi,” pungkas Praniko. @pih

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tekan Penyebaran Wabah Covid 19, Tiga Pilar Muspika Ibun Gelar Operasi Yustisi Gaktibplin Prokes

Rab Nov 25 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Guna menekan dan mencegah wabah penyebaran wabah Covid 19, tiga pilar dari unsur TNI, Polri, Satpol PP dan dibantu Lingkungan Masyarakat (Linmas), gencar melakukan operasi yustisi Penegakkan Ketertiban dan Disiplin (Gaktibplin) Protokol Kesehatan (Prokes). Kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan skala prioritas yang melibatkan tiga pilar, yaitu unsur Muspika […]