Search
Close this search box.

Prediksi La Nina Berlanjut Hingga Kuartal Pertama 2025, Dampak pada Cuaca Indonesia Akan Berkurang

Ilustrasi cuaca./visi.news/pinterest

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena La Nina akan berlanjut hingga kuartal terakhir tahun ini, dengan dampak yang mulai berkurang pada 2025. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebutkan bahwa meskipun La Nina akan mempengaruhi cuaca Indonesia hingga akhir 2024, pada 2025, fenomena ini diperkirakan tidak akan lagi memengaruhi iklim secara signifikan.

“Setelah itu (akhir La Nina) kami prediksi tidak ada gangguan iklim yang signifikan,” ucapnya, Senin (4/11/2024).

Perkembangan La Nina dipantau berdasarkan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Ardhasena menjelaskan bahwa menjelang akhir tahun 2024, suhu laut akan kembali mendekati normal. Curah hujan pada 2025 diperkirakan juga akan kembali normal tanpa fenomena khusus.

“Selanjutnya masyarakat hanya perlu mengantisipasi musim kemarau yang akan datang,” tambahnya.

La Nina adalah fenomena iklim global yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudera Pasifik. Hal ini mempengaruhi pola sirkulasi atmosfer, yang pada gilirannya berpengaruh terhadap pola cuaca dan iklim di seluruh dunia. La Nina biasanya terjadi beberapa tahun sekali dan bisa berlangsung selama beberapa bulan hingga dua tahun.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menambahkan bahwa meskipun La Nina masih berlangsung, intensitasnya mulai melemah. Fenomena ini diperkirakan hanya akan bertahan hingga kuartal pertama 2025, dan umumnya mulai terjadi pada bulan November dan berlanjut hingga Januari, Februari, dan Maret.

Pada akhir Oktober 2024, suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menunjukkan penurunan yang signifikan, terlihat dari indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang melewati ambang batas La Nina dengan nilai -0,59. Sementara itu, indikator Indian Ocean Dipole (IOD) menunjukkan kondisi negatif dengan indeks -0,7, sementara suhu permukaan laut di perairan Indonesia tercatat lebih hangat dari normal, dengan anomali sekitar 0,69 derajat Celsius. @ffr

Baca Berita Menarik Lainnya :