Produk Hortikultura Indonesia Bisa Rebut Pasar Ekspor. Ini Syaratnya

Editor Prof. Dr. Eddy Triharyanto, dosen FP UNS dan Ketua Umum Perhorti Komda Jateng, di salah satu laboratorium penelitian benih tanaman hortikultura. /visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SOLO – Potensi beragam tanaman hortikultura yang sangat kaya di Indonesia, sudah saatnya dikembangkan secara intensif untuk merebut pangsa pasar ekspor yang muaranya pada kesejahteraan petani dan pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hortikultura.

Provinsi Jawa Tengah (Jateng) yang pernah menjadi salah satu sentra hortikultura nasional, akan diupayakan agar bisa menghasilkan produk hortikultura berkualitas yang tidak hanya untuk memenuhi pasokan pasar lokal tetapi juga merambah pasar ekspor.
Ketua umum organisasi Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti), Komisariat Daerah (Komda) Jawa Tengah, Prof. Dr. Eddy Triharyanto, mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan VISI.NEWS, di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Kentingan Solo, Rabu (9/2/2022).
“Di Jawa Tengah, terdapat potensi luar biasa dan dahulu menjadi pusat hortikultura nasional. Di Jateng terdapat sentra tanaman bawang merah, cabai, buah-buahan, tanaman hias dan khasiat tanaman obat. Keragaman tanaman hortikultura yang selama ini digarap petani dan melibatkan UMKM, dapat dikembangkan tidak hanya untuk pasar dalam negeri tetapi juga ke pasar ekspor,” kata Prof. Eddy.
Ketua Umum Perhorti Komda Jateng yang sehari-hari sebagai dosen dan peneliti Fakultas Pertanian (FP) UNS itu, menyatakan, selama ini di Indonesia mengalami berbagai masalah terkait dengan komoditas hortikultura. Persoalan yang muncul bukan hanya pada sisi budidaya tanaman dan pemasaran hasil pertanian, namun juga pada sisi hulu pengadaan benih tanaman.
“Sebelum terbitnya peraturan pemerintah tahun 2010 yang mengatur perbenihan hortikultura, 90 persen kebutuhan benih nasional berasal dari impor. Kita berupaya mencegah impor benih, karena kita mampu memenuhi kebutuhan sendiri sehingga pemerintah mengeluarkan larangan impor benih. Sekarang, 90 persen kebutuhan benih hortikultura berasal dari para petani sendiri,” ujar pakar yang merupakan salah seorang tim penilai sertifikasi benih hortikultura di Kementan itu.
Gagasan pengembangan tanaman hortikultura, menurut Prof. Eddy Triharyanto, tidak mungkin berhasil jika hanya melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan pertanian seperti yang berlangsung selama ini. Dia menyodorkan konsep kolaborasi “hexa helic”, yang melibatkan 6 komponen terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha hortikultura, perbankan, komunitas hortikultura dan media massa.
Unsur pemerintah, lanjutnya Prof. Eddy, bukan terbatas tingkat menteri, seperti Kementan, Kemendag dan kementerian terkait lainnya. Tetapi unsur pemerintah yang lain, di antaranya para duta besar Indonesia juga harus ikut mengembangkan pasar hortikultura.
“Duta besar Indonesia di luar negeri jangan hanya mengurusi politik. Mereka juga harus melakukan diplomasi ikut mengembangkan pasar hortikultura. Biar tidak hanya durian montong atau durian Malaysia yang dikenal di luar negeri, tetapi keragaman varietas durian Indonesia juga bisa dikenal di luar negeri,” jelasnya.
Ke-6 komponen “hexa helic”, katanya lagi, masing-masing punya peran besar dalam pengembangan hortikultura. Pemenuhan kebutuhan benih nasional, misalnya, karena para pelaku bisnis hortikultura juga melakukan pengembangan dan pemasaran benih berkualitas. Dukungan perbankan dan media massa juga perlu dikembangkan agar produk hortikultura makin dikenal di pasar ekspor.
Perhorti Komda Jateng periode 2022-2025 yang diketuai Prof. Eddy, akan berupaya mewujudkan kolaborasi “hexa helic” dan mendorong pengembangan pasar produk hortikultura ke pasar ekspor.
Kepengurusan Perhorti Komda Jateng pernah sebelumnya mengalami kevakuman dan mayoritas pengurusnya hanya terdiri dari unsur pemerintah beserta akademisi dan peneliti, akan dikembangkan lebih luas dengan konsep “hexa helic”.
“Selama beberapa tahun, kepengurusan Perhorti Komda Jateng yang pernah ada mengalami kevakuman. Pengurusnya dari kalangan akademisi dan peneliti, aktivitasnya hanya seminar dan kegiatan ilmiah. Sehingga, petani hortikultura belum dapat mengambil manfaat karena hasil penelitian belum dihilirisasi dan tidak ada kontribusinya ke masyarakat. Kita berharap dengan kolaborasi ‘hexa helic’ ekspor hortikultura bisa meningkat,” tandasnya.
Dia menambahkan, Perhorti Jateng selain memperkuat kepengurusan melalui kolaborasi “hexa helic” juga bersinergi dengan Perhorti pusat dan pemerintah. Dia berharap sinergi yang sudah menghasilkan kontrak dagang komoditas hortikultura dengan 30 negara, hasilnya dapat dinikmati para petani dan UMKM hortikultura di Indonesia.@tok

Baca Juga :  Didik Supriyanto: Prinsip utama penyelenggara pemilu adalah kemandirian

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

REFLEKSI | Naluri illahiyah

Kam Feb 10 , 2022
Silahkan bagikanOleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn. BAGAIMANA kabar naluri kita ? Apakah ia bagaikan bunga, yang mekar, dan harum mewangi ? Apakah ia hidup dalam siraman keruhanian. Ataukah telah karam, mati tengelam, karena spirit kita condong pada merusak diri kita sendiri! Naluri kita adalah modal harta Karun yang unik, ia […]