Prof. Afif Muhammad: “Kalau Tak Ada Internet Kita akan Bengong”

Prof. Afif Muhammad./visi.news/humas uin sgd.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Segala sesuatu itu pasti ada manfaat dan sisi mudaratnya, kata Prof. Afif Muhammad dalam tausiahnya terhadap
civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung yang menggelar Halalbihalal 1441 H melalui telekonferensi aplikasi zoom dan disiarkan secara langsung pada kanal Youtube Humas UIN SGD Bandung, Kamis (28/5).

Oleh karena itu, Prof. Afif Muhammad mengajak civitas akademika untuk bersyukur atas diberi kesehatan, selamat, semakin membaik dengan terus melakukan silaturahmi. Meskipun dalam konsidi pandemi Covid-19.

“Termasuk pertemuan ini yang memakai zoom. Berkat teknologi kita bisa melakukannya. Ini harus disyukuri dari manfaat teknologi, IT, kalau tidak ada internet, kita akan bengong, tidak bisa buka HP, tidak bisa bersilaturahmi, youtube-an dalam situasi kondisi ini,” paparnya.

Afif menegaskan, segala sesuatu itu pasti ada manfaat dan sisi mudaratnya.

“Adanya internet ini menjadi banyak pendapat, simpang siur selama ini, para mubalig menyampaikan pendapat, yang lain membantahnya, dikompori orang lain sehingga terjadi caci-maki yang menyebabkan perkembangan perubahan sikap. Kalau terus bertentangan antara ustaz satu dengan ustaz yang lain. Ini menyebabkan dua kemungkinan,” katanya.

“Pertama, kita diharuskan memilih di antara pendapat-pendapat itu yang muncul fanatisme kelompok, fanatisme perorangan, fanatisme golongan; Kedua, acuh, tidak peduli terhadap pendapat-pendapat itu yang kita kenal pada saat Pilpres dengan istilah post-truth, pasca-kebenaran, karena ini bertentangan. Jadi yang dipegangnya itu apa yang diyakini. Menurut saya seperti ini tidak peduli orang lain dan terus berkembang,” jelasnya.

Menurut Afif, oleh karena itu masyarakat kita sulit diatur, disuruh tinggal di rumah sulit sekali.

“Jangankan kata antar-sesama manusia, perintah Tuhan dipersoalkan, dipertanyakan, dianggap tidak baik, bahkan kita rewel terhadap perintah Tuhan,” keluhnya.

Dalam kontek kampus, pemimpin diharapkan dapat memberikan pelayanan terbaik untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Pak Rektor ngatur orang di UIN, jumlahnya 3.000 karyawan dan dosen, yang satu sama lain saling beda pendapat. Belum mahasiswanya. Kalau perbedaan qunut dan tidak qunut gampang Pak Rektor menyeselesaikan. Kalau perbedaan berdasarkan nafsu, yang mendorong untuk saling menjelekkan, memfitnah, mengorbankan sangat sulit, tidak mungkin bisa dilayani satu per satu. Kalau itu dilakukan akan melelahkan dan tidak mungkin dapat memuaskan semua orang,” jelasnya.

Jika kita mengikutinya akan dikategorikan sebagai Nasrudin Joha dengan keledainya. “Perbedaan itu hal yang wajar terjadi di masyarakat, tinggal bagaimana kita menyikapinya,” imbuhnya.

Baginya suasana halalbihalal ini harus dijadikan waktu yang tepat untuk terus melakukan berbagai aktivitas kebaikan dengan mendahulukan akhlak, moral, daripada pujian dalam meningkatkan marwah kampus. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ace Hasan : New Normal Harus Dihentikan Jika Korban Covid-19 Bertambah

Jum Mei 29 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Pemerintah merencanakan new normal di tengah pandemik Covid-19 dengan membuka mal di ibu kota pada 5 Juni 2020. New normal akan diterapkam di daerah-daerah yang telah dinyatakan tidak menjadi zona merah. Menanggapi itu Pimpinan Komisi VIII DPR RI TB Ace Hasan Syadzily mengatakan akan melihat daerah […]