Prof Asep Saeful Muhtadi, M.A.: Masa Transisi Istilah Paling Cocok dari pada New Normal

Editor :
1
Moderator, pemateri dan peserta Webinar bertajuk Strategi Komunikasi Krisis di Masa “New Normal” yang digelar Jurusan Ilmu Komunikasi FDK UIN Bandung/visi.news/istimewa

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Istilah new normal yang saat ini berkembangan di Indonesia, kurang tepat sebab pandemi covid-19 di Indonesia belum sirna bahkan di beberapa daerah tertentu pendemi covid-19 ini masih menunjukkan angka peningkatan. Istilah new normal cocok diterapkan jika Indonesia sudah benar-benar meninggalkan susana pandemi covid-19, sehingga istilah yang paling cocok untuk digunakan saat ini adalah “massa transisi”.
Rangkaian kalimat tersebut terungkap dalam Webinar bertajuk Strategi Komunikasi Krisis di Masa “New Normal” yang diselenggarakan  Jurusan Ilmu Komunikasi FDK UIN Bandung, Jumat (12/06) pukul 09.00 Jumat (12/06) 11.00 WIB.  Webinar tersebut menampilkan dua pembicara, yakni Guru Besar Ilmu Komunikasi, Prof. Dr. H. Asep Saeful Muhtadi, M.A, dan ahli Komunikasi Budaya, Dr.H. Enjang, AS, M.Si, M.Ag.
Menurut Asep, kekurangtepatan penggunaan istilah new normal dipersepsi keliru oleh masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa Indonesia sudah benar-benar terbebas dari pandemi covid-19 sehingga harus beralih ke suasana new normal, akibatnya banyak yang mengaibakan protokol kesehatan dan menganggap sudah tidak perlu lagi menggunakan masker, mengabaikan social distancing, bergerombol, dan ramai-ramai ke mall, restoran, dan tempat wisata.

Jika dilihat dari tujuannya, menurut Asep, alangkah tepat jika menggunakan istlah “masa transisi”  sebab secara sosiologis masa transisi lebih menjanjikan akan datangnya suasana baru yang sudah ditargetkan. Istilah masa transisi adalah masa peralihan yang dianggap sudah terbiasa.
“Untuk itulah strategi komunikasi yang paling cocok saat ini adalah merumuskan pesan komunikasi yang yang bersifat clear, definitif, credible. Penggunaan simbol-simbol yang tidak ambigu dan tidak multi-interpretasi,” ujar Asep.
Selain itu, menurut Asep, dalam strategi komunikasi ini sumber pesan sebaiknya bersifat homogen, kredibel, dan tidak membingungkan audien, dan terpenting lagi disampaikan dalam situasi yang tepat waktu, momentum, dan kesempatan yang tepat.
Pada kesempatan yang sama, ahli Komunikasi Budaya, Dr. H. Enjang AS, M.Ag., M.Si, mengatakan, sejak Februari 2020 pemerintah sudah memiliki startegi komunikasi yang diadopsi dari WHO, akan tapi tidak berjalan secara efektif karena tidak sesuai dengan konteks Indonesia, termasuk budaya masyarakat Indonesia. Selain itu, strategi hanya dimunculkan sebagai formalitas tanpa dipahami dengan baik
“Perlu diingat bahwa komunikasi bukan lagi sekadar transfer pesan, namun perlu sampai pada tahap membangun sosial dan budaya masyarakat sehingga tidak akan ditemukan leadership yang asal-asalan dan birokasi yang lamban,” ujar Enjang.
Webinar ini dibuka oleh Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, FDk UIN Bandung, Dr.H, Darajat Wibawa,M.Si. Menurut Darajat, ilmu komunikasi memiliki peran yang penting dalam membantu menyelesaikan pandemi covid-19 yang saat ini sedang melanda dunia termasuk di Indonesia.
Lebih jauh Darajat mengatakan, tujuan Webinar ini adalah selain untuk menampung berbagai ragam pendapat dari para ahli, penggiat, dan praktisi ilmu komunikasi juga mencoba memberikan warna baru pengembangan peran dan fungsi komunikasi dalam ikut serta berkontribusi menyelesaikan pandemi covid-19 di Indonesia.
Acara Webinar , diikuti sekitar 200 peserta dari dalam dan luar negeri di antaranya berasal dari Korea dan Belanda. Profesi para peserta berasal dari beragam bidang mulai dari mahasiswa, akademisi, pengamat, konsultan, pejabat, dan praktisi komunikasi.@awn

Ayi Kusmawan

One thought on “Prof Asep Saeful Muhtadi, M.A.: Masa Transisi Istilah Paling Cocok dari pada New Normal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bersama TNI-Polri, Warga Bangun Jembatan Darurat dari Bambu di Ciawi Tasikmalaya

Jum Jun 12 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Sebuah jembatan di Desa Cibugel, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang baru selesai dibangun ambrol pasca terseret bongkahan material tanah akibat longsor dan menyebabkan terisolasinya satu desa, kini mulai dibangun jembatan darurat terbuat dari bambu. Pembangunan jembatan darurat tersebut selain melibatkan anggota TNI dan Polri juga […]