Puasa

Silahkan bagikan

Oleh Aep S. Abdullah

SEBUAH artikel berjudul “Self-Control is The Key to Success” (San Fransicto Chronicle) menceritakan seorang psikolog bernama Walter Mischel, yang melakukan pengamatan kepada anak-anak berusia empat tahun dan keadaan mereka setelah dewasa.

Artikel itu menyebutkan, di tahun 1970-an, psikolog Walter Mischel meluncurkan sebuah percobaan klasik, dengan meninggalkan anak-anak usia 4 tahunan di sebuah ruangan. Di ruangan itu disediakan sebuah bel dan marshmallow (sejenis manisan). Jika mereka membunyikan bel, Walter akan datang ke ruangan itu dan mereka bisa memakan sebuah marshmallow. Namun jika mereka tidak membunyikan bel dan menunggu Walter datang sendiri, mereka bisa mendapatkan dua marshmallow.

Dalam video dari percobaan itu terlihat beragam reaksi anak-anak. Ada yang menggeliat-geliat, menendang, menyembunyikan mata mereka, berusaha keras mengendalikan diri untuk bertahan menunggu agar mendapat dua marshmallow. Kinerja mereka bervariasi. Beberapa menangis dan membunyikan bel dalam satu menit. Yang lainnya ada yang sampai bertahan hingga 15 menit.

Hasil penelitian itu menunjukkan, anak-anak yang bertahan menunggu lama, rata-rata di sekolahnya mendapatkan nilai lebih tinggi. Mereka masuk ke perguruan tinggi yang baik dan lebih dewasa. Anak-anak yang membunyikan bel tercepat, cenderung menjadi pengganggu. Mereka juga terlihat menerima guru dan orangtua lebih buruk, serta cenderung memiliki masalah narkoba pada umur 32.

***

Hasil eksperimen itu menyimpulkan bahwa pengendalian diri itu penting. Anak muda yang dapat menunda kepuasan bisa duduk lebih lama dan kadang-kadang membosankan, namun mereka rata-rata mendapatkan gelar. Mereka dapat menjalankan tugas-tugas hafalan, misalnya untuk menguasai bahasa. Mereka dapat menghindari narkoba dan alkohol. Bagi orang-orang tanpa keterampilan pengendalian diri, sekolah adalah serangkaian penderitaan. Tidak heran mereka drop out dan hidup bagi mereka adalah sebuah parade keputusan bodoh: kehamilan remaja, penggunaan narkoba, perjudian, pembolosan, dan kejahatan.

Baca Juga :  Golongan O Disebut 'Kebal' Covid-19, Bisakah Ganti Golongan Darah?

Ramadan yang telah kita jalani dan menyisakan waktu sembilan hari lagi merupakan pelatihan dahsyat dan sempurna yang metodenya langsung diberikan Allah SWT. Sehingga kepergian waktu pelatihan ini seharusnya sangat sayangkan oleh orang-orang yang sedang mencari pelatihan efektif untuk membangun kecerdasan emosi dan spiritual. Masalahnya, masih banyak kaum muslimin yang belum menyadari pelatihan dahsyat ini sehingga hanya menghentikan makan dan minum tanpa memahami makna puasa.

Bila seseorang sudah memahami makna hidup untuk menjalankan misi Allah dan mendalami tujuan hidup berdasarkan suara hatinya, niscaya ia bisa memahami makna puasa. Yakni membebaskan diri dari belenggu, menjaga dan memelihara fitrah (core values) untuk memakmurkan bumi di jalan Allah (core purposes).

Semoga hasil pelatihan dahsyat selama satu bulan itu nanti bisa berimplikasi dalam kehidupan kita yang lebih baik dalam 11 bulan ke depan. Baik untuk diri kita sendiri, di dalam berkeluarga, dalam pekerjaan, dalam bermasyarakat juga dalam bernegara. Wallahu’alam bisawab***

(Penulis, pemimpin umum visi.news)

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

RUMAH ALLAH: Masjid Berusia 500 Tahun Kembali Dibuka untuk Umum

Ming Mei 2 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Masjid Al-Dakhlah di Al-Majmaah di utara Riyadh, adalah salah satu masjid bersejarah tertua dan diyakini dibangun antara 850 Hijriah dan 900 Hijriah (H), kini kembali dibuka untuk jemaah setelah direnovasi. Masjid bersejarah yang sebelumnya memiliki desain bergaya Najdi yang dibangun dari batu bata, batu, dan atap yang […]