REFLEKSI | Ada Lilin dalam Hati Kita

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

SEMAKIN kita memahami makna-makna, semakin kita kaya akan pemahaman, semakin kecil dan merasa seperti debu apa-apa yang telah kita capai dalam memahami keilmuan kita.

Hal seperti itu adalah anggapan dari beberapa statemen para sahabat penulis, yang sudah mencapai kualitas capaian kesadaran jiwa… subhanallah.

Mereka yang sudah pada pemahaman bahwa kita ini, sebenarnya banyak yang tidak tahunya, menjadikan diri mereka lebih awas dalam berpandangan, sehingga penglihatannya tidak lagi pada tataran permukaan, atau kulit, tapi sudah masuk menjelajah ke tataran filosofi, atau masuk ke kedalaman makna, spirit kebenaran yang sebenarnya.

Untuk manusia seperti ini, ia telah sampai pada tataran berpikir bijak, memiliki pandangan luas dan mendalam, menjadikan dirinya sumber mata air, yang menyejukkan, penyegarkan, serta mampu penghilangkan dahaga.

Maka pantas, pada capaian manusia dengan kodrat yang demikian, ia akan selalu dicari orang, bagai gula yang memberikan manis, para semut datang silih berganti, berkumpul tak pernah habis, karena mendapatkan apa yang ia cari.

Sedikit manusia yang memiliki pandangan dan pemahaman sebagai manusia yang berisi, karena untuk mencapai itu, ia pun harus digodog terlebih dahulu dengan proses panjang dalam kehidupannya.
Ditempa pahitnya hidup.
Mengalami sebagai manusia terpuruk.
Pernah ada di titik nadir terendah dalam hidupnya.
Disepelekan, dihina manusia lainnya.
Bahkan untuk sebagian lainnya, ia dianggap sebagai manusia gila.

Siapa orang-orang yang demikian itu ?
Manusia pilihan Allah, yang orang lain tidak bisa mencapai itu.

Orang hebat semacam itu, adalah orang yang pernah mengalami keperihan dan perih hidupnya !

Karena untuk mencapai derajat seperti ini, ia wajib Allah godog, dalam kesadaran-kesadaran tempaan hidup, yang akhirnya membuat hati, pikiran, perilakunya berbeda, dengan pandangan banyak orang yang tak bisa melihat kedalaman inti, yang Allah simpan pesannya di sana.

Baca Juga :  Diminta Tukar Baju dan Celana, Bintang Inggris Nyaris Bugil

Sehingga untuk orang-orang yang sudah tercerahkan, mudah bagi mereka dalam melihat satu benang kesinambungan, atau benang keterkaitan, seperti hal nya kita memahami “link,” sebagai jembatan pada banyak isi, tempat terkumpulnya, banyak pemahaman, dari keseluruhan isi-isi, dalam sebuah pengelompokan yang kuat.
Alhamdulillah.

Manusia yang tercerahkan, adalah manusia berisi, ia adalah manusia yang mau berpikir…manusia yang selalu mengali dan mencari wujud-wujud indikator kebermanfaatan diri, agar ia bisa memahami fungsi dirinya, sebagai wujud keberadaan illahi dalam sepak terjangnya, yang bisa bermanfaat bagi hidup dan kehidupan.

Dan andai ia sudah di fase ini, ia akan berseru, seperti yang penulis dengar, dari beberapa rekan yang sudah mencapai kedalaman pikir, dan menyadari hakekat kemampuannya sendiri, “kita itu kosong, kecil, tak ada sebesar jahrah pun pengetahuan yang kita telah himpun…!”
Subhanallah…

Apa yang terjadi ?

Salah satu pernyataan Jalaludin Rumi, yang menarik adalah, “Yang ada di dalam ada di dalam” (“Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu”).

Hasil tempaan yang telah kita lalui, menghasilkan karya rasa yang Allah simpan dalam diri kita. Saat satu persatu Allah keluarkan itu dari lisan kita, atau dari apa yang kita tulis, apa yang kita buat itu, menjadi pembelajaran juga bagi dirinya (Kita) yang Allah ajarkan padanya, untuk dirinya juga sebenarnya, agar lebih memahami.

Artinya, kita belajar pada diri kita sendiri, ini khusus untuk mereka yang telah jiwanya tercerahkan, hatinya telah terbuka.

Satu lagi pesan Jalaludin Rumi, “Ada lilin di dalam hati Anda, siap untuk dinyalakan. Ada kekosongan dalam jiwa Anda, siap untuk diisi.”

Sungguh kesadaran diri yang tak lepas dari hanya Allah lah yang maha besar, dan berpengatahuan, ia (manusia) yang sangat tahu diri, mampu menempatkan diri sebagai manusia yang tak lepas dari mengharap bantuan dan pertolongan Allah.

Baca Juga :  Arumi Bachsin, "Merebus Air Pakai Kompor Induksi 3 Menit Mendidih, Kompos Gas 8 Menit"

Pembelajaran dari dalam sebagaimana yang Rumi katakan seperti itu, senantiasa terkait kesadaran dan kesiapan kita, untuk menjemput pemantik apinya, agar bisa menyalakan lilin yang ada dalam diri kita masing-masing.

Kemudian rasa malu, merasa diri kita kecil, bodoh, merupakan bentuk kesadaran, adanya rasa tahu diri, yang akan menjadikan jalan kemudahan, bagi kita dalam upaya mencari keluasan ilmu, dan semangat untuk mendapatkannya, dengan mendatangi mereka, orang-orang yang memiliki Nur Allah, dari orang-orang yang sudah di beri keberkahan pencerahan jiwa, oleh Nya.

Carilah oleh kita sumber mata air itu.
Hidupkanlah lilin yang sudah ada dalam hati kita.
Isi kekosongan jiwa kita dengan pemahaman yang melembutkan, dan mendatangkan cahaya.

Setiap ilmu dan pemahaman itu, hanya milik Allah semata saja.
Semoga Allah memudahkan kita dalam mendapatkan orang yang tepat, yang bisa menghilangkan haus dan dahaga kita, atas ilmu yang bermanfaat yang kita cari, aamiin.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

"Agama Tentatif" Apa pula Itu? Ini Penjelasan MUI

Sel Mei 17 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Sebutan ‘agama tentatif’ di media sosial TikTok mengemuka belakangan ini. Ketua Fatwa MUI Sulsel menyatakan klaim agama tentatif tidak memenuhi kriteria agama. “Eksistensi agama mutlak adanya dan menjadi rukun kehidupan. Kepercayaan seseorang terhadap suatu agama bisa berubah itulah sebabnya banyak manusia pindah agama,” kata Ketua […]