REFLEKSI | Belajar dari KH A Wahab Hasballah

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

BUPATI Jombang Hj. Mundjidah Wahab, adalah putri dari KH A Wahab Hasbullah, pendiri Nadlatul Ulama (NU), yang pencipta lagu Ya Lal Wathon, sebuah lagu yang sedang diperjuangkan menjadi lagu kebangsaan kedua, setelah Indonesia Raya. Adapun isi dari lagu ini adalah mengajak umat muslim, khususnya kaum Nahdliyin untuk memiliki rasa cinta pada tanah airnya.

Lagu Ya Lal Wathon, sudah menjadi lagu kebanggaan warga Jombang, di mana lagu itupun tidak hanya di nyanyikan masyarakat muslim saja, tapi sudah jadi lagu yang juga di nyanyikan di gereja-gereja yang ada di Kabupaten Jombang dan sekitarnya.

Rombongan Bupati dan para peziarah makam para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dari Kabupaten Bandung. /visi.news/bambang melga suprayogi

Luar biasa daya pemersatu dari lagu Ya Lal Wathon ini, sehingga menjadi pemahaman bersama yang menandakan, Nahdatul Ulama, dan kaum Nahdliyin, juga golongan lainnya yang berbeda keyakinan, siap menjaga negerinya dari rongrongan dan duri penghalang.

Lalu, kenapa lagu itu bisa menjadi lagu pemersatu ?

Itu ternyata karena sikap moderat para pendiri Nahdlatul Ulama-nya, yang berkomitmen kuat menjaga negerinya, menjaga kerukunan, menjaga kebersamaan, dan selalu menyuarakan membangun toleransi, dan juga menjunjung tinggi perbedaan.

Hal itulah yang akhirnya membuka kesadaran bersama, bahwa negeri kita ini tetap ada, memiliki eksistensi, karena kita semua bersaudara, dan mau tak mau, semua anak bangsa, dari berbagai keyakinan, menjaga pertiwi kita, dengan kesadaran yang kuat.

Saat kunjungan kerja Bupati Bandung HM Dadang Supriatna yang diikuti 200 peziarah ke makam para pendiri NU ke Kabupaten Jombang, dari Bupati Jombang Hj. Mundjidah di dapat keterangan, bagaimana lagu Ya Lal Wathon itu di ciptakan tahun 1916 sebagai semboyan organisasi Nahdlatul Wathan.

Baca Juga :  Aturan Diperketat, Tahanan Palestina di Penjara Israel Siap Mogok Makan Awal Ramadan

Juga lagu itu dipakai sebagai penyemangat “Kebangkitan Negeri”, keluar dari penjajahan Belanda, dan cara dari ulama menciptakan kebanggaan pada tumpah darah bumi pertiwinya.

Kenapa syairnya tidak memakai bahasa Indonesia, tapi bahasa Arab,
dari Abahnya, KH. A. Wahab Hasbullah, diperoleh alasan, kenapa lagu Ya Lal Wathon harus berbahasa Arab, alasannya sangat sederhana, supaya Belanda tidak tahu maksudnya, dipikir oleh penjajah itu lagu Arab saja.

Coba kalo mudah di pahami artinya dan diketahui maksud dari lagu itu, mungkin Belanda akan bereaksi. Dan, itulah kecerdikan KH. A. Wahab Hasbullah dalam menyiasati keadaan saat itu.

Hal yang menarik dari hasil kunjungan kerja Bupati Bandung, dengan rombongan ulama dan umaro, dapat di catatkan bahwa, Kabupaten Jombang pantas di akui sebagai representasi dari keberhasilan Nahdlatul Ulama, dan contoh yang bisa diteladani. Sehingga pemerintah di sana, mampu mewujudkan kehidupan dengan atmosfer Islam yang memberi Rahmat bagi warganya.

Islam yang moderat, Islam berkemajuan, Islam yang mampu membahagiakan warganya, dan memberi suasana kehidupan yang
baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur, yakni, mampu memberi dan mewujudkan, sebuah negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya, sebagai negeri yang makmur dan damai, subhanallah.

Mengapa bisa seperti itu ?
Itu karena ulamanya menjadi teladan !
Ulamanya berperan besar dalam mengedukasi umatnya. Umat di ajarkan cerdas, dan belajar dalam mencari ilmu menjadi prioritas utama.

Hal ini tentunya untuk menyiapkan sumber daya manusianya, maka kehebatan itu tergambar dari banyaknya para penghafal Qur’an.

Dimana para hafidz dan hafidzah yang berjumlah 80 orang, disebar ke setiap desa, diminta mengajarkan ilmunya, dan setiap bulan mereka di beri insentif oleh pemerintah daerah sebesar Rp. 3 juta rupiah.

Baca Juga :  Syaiful Huda Desak Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tewasnya 2 Suporter Persib Diseret ke Ranah Hukum

Kemudian pemerintah Kabupaten Jombang pun sampai memberi anggaran bantuan baju tiga setel untuk anak-anak yang bersekolah, agar mereka bersemangat, dan itu diberikan pada semua jenjang pendidikan, dari mulai Paud, TK, SD, SMP, SMA, dan sekolah agamanya mulai dari, RA, MI, MTs, Madrasah Aliyah.

Ini luar biasa sekali.

Semangat ke NU-an, di Jombang bukan saja milik kaum Nahdliyin, tapi sudah menjadi semangat juga dari warga yang berbeda keyakinan.

Keberhasilan Hj. Mundjidah Wahab sebagai bupati, tak terlepas dari kiprah abahnya yang sudah memberikan warisan nama baiknya sebagai seorang ulama.

Nama baik merupakan aset masa depan dari para pejuang pengerak Nahdatul Ulama. Kita semuanya sedang menorehkan nama baik kita itu, agar bisa wariskan nama baiknya untuk anak-anak kita, dan sampai pada anak cicit kita kedepannya.

Apa yang bisa menjadi kebanggaan bagi keturunan kita ?

Tak ada lain, nama baik bapak ibunya, yang akan selalu hadir memberi wangi harum, yang akan menyertai anak-anak kita berkiprah suatu saat kelak.

Semoga Allah selalu memberi kita kekuatan, selalu menghadirkan kebaikan, dan mampu menjaga kita agar tak salah jalan.

Selagi nafas masih memberi kita energi untuk hidup, semoga kita selalu mampu berkiprah hebat demi bangsa, agama, dan umat, sehingga bermanfaat hidup kita di dunia, dalam memberi kontribusi kebaikan bagi dunia tempat kita mengabdi.

Aamiin.

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Pencitraan dalam Pemilu

Jum Des 16 , 2022
Silahkan bagikanOleh Idat Mustari SULIT rasanya bagi siapapun yang akan mengikuti pesta demokrasi yakni Pemilu di tahun 2024 jika elektabilitas dan popularitasnya rendah. Mereka yang akan memenangkan Pemilu adalah yang rating elektabilitas lebih besar dibandingkan para lawan politiknya. Upaya mendongkrak elektabilitas adalah lewat popularitas, sebab yang popularitasnya tinggi cendrung peluang […]