REFLEKSI | Berdialog dengan Allah

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.

BAHASA komunikasi manusia adalah kata-kata, itu bila kita berdialog dengan sesama manusia dalam wujudnya yang nyata.

Bagaimana jika kita berkomunikasi dengan manusia lainnya, yang berbeda bahasa, tentunya kita masih punya bahasa isyarat, jika kita tidak bisa bahasanya, atau juga dengan mempergunakan bahasa tubuh, baik itu dengan mimik, maupun gesture.
Akan berbeda, jika kita faham bahasanya, sehingga tidak usah pakai bahasa isyarat, atau pun bahasa tubuh, jika kita faham dalam pola berinteraksinya.

Lalu bagaimana kita berdialog dengan Allah ?
Bahasa apa yang kita harus pakai ?
Dan bagaimana caranya memulai dialog kita itu denganNya ?

Berdialog dengan Allah pernah dilakukan oleh beberapa Nabi, ada peristiwa Nabi Musa, berdialog dengan Allah yang sangat terkenal itu, sampai akhirnya sang Nabi ini, ingin sekali ia melihat wajah dari sang penciptaNya, yang pada akhirnya ia (Musa) tak mampu menatapnya, bahkan ia jatuh tersungkur pingsan, sementara Gunung Sinai, hancur berantakan karena peristiwa itu.

Artinya apa ?
Allah hanya bisa ditatap bukan oleh mata biasa kita !
Mata kita tak akan mampu menatapnya secara langsung.

Itu seperti halnya jika kita menatap Matahari pada saat siang hari, yang ada, silau mata kita saat menatap sang matahari, dan sungguh tak jelas apa yang kita lihat.

Sebab wujud dari matahari itu sendiri, tak bisa kita tangkap, hanya cahaya putih yang menyilaukan dan bisa merusak mata jika kita bersitegang memaksakan kehendak kita itu, dan ini pun adalah, peristiwa, yang menunjukan, betapa bodohnya kita, jika sampai kita harus melakukan itu.

Sahabat…
Allah itu dzat yang maha tersembunyi, tapi Ia sangatlah dekat.
Ia ada dekat bersama kita, bahkan terlampau dekat, sehingga antara kita dan diriNya (Allah) sudah beriringan.

Telaah hadist nabi bahwa Allah lebih dekat dari pada urat leher kita.
Telaah nafas yang kita hirup dan hembuskan oleh kita di setiap waktunya, yang menunjukan, bahwa ia menghidupkan kita, menjaga kita, dan merawat kita.
Telaah tidur kita yang menjembatani adanya alam mimpi, yang Allah peruntukan sebagai jembatan kesadaran ruh, jika ruh kita bersih tentunya.

Baca Juga :  Mantan Pelatih Perserang Tempuh Jalur Hukum soal Pengaturan Skor

Lalu dimana, dan bagaimana kita bisa mulai berdialog dengan Nya ?

Dalam tataran kita manusia, sebagai hamba yang berada dalam maqom syariat…
Terjadinya dialog kita denganNya (Allah Azza Wa Jalla) adalah bisa dari membaca Alquran.

Dimana dalam Al-Qur’an tersebut, tersimpan Ayat-ayat sebagai KalamNya, atau ucapan Allah yang tertulis, yang didalamnya akan kita dapatkan petunjuk, dimana setiap ayat, ada yang sangat multi tafsir, dan ada yang berupa petunjuk yang jelas, sehingga, dalam Surat Lukman, ayat 27 disebutkan, perumpamaan ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an, memiliki keluasan tafsir yang tidak ada habis-habisnya…

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Luqman Ayat 27

Luar biasa petunjuk Allah, di dalam Al Qur’an, yang bagi kita Muslim, seharusnya ini jelas, nyata, semua hal, terkait pedoman hidup, jika kita mencari selamat dunia dan akhirat, adalah mengacu pada apa yang Allah catatkan bagi kita atas kalamNya di sana (Al Quran) sebagai kitab sucinya umat Islam.

Lalu bagaimana dialog dengan Allah nya ?

Didalam Qur’an, di setiap ayat-ayatnya, di sana ada prolog Kalam Allah yang tertulis, ada bahasa pengantar, Allah berbicara di setiap ayatnya…

Tidakkah kita bisa berpikir ?
Ataukah, dimana pikiran kita mampu menangkap pesannya yang tersembunyi !
Dari sana, Petunjuk awal kita dialog denganNya (Allah SWT) bisa dengan, kita mulai menafsirkan setiap Kalamullah ayatnya, sesuai kemampuan daya analisis kita.

Lalu seperti apa daya kritis kita pada Kalamullah, yang ada buat kita tafaquri itu ?

Baiknya kita tak sekedar baca Qur’annya saja !

Baca Qur’an harus di bareng memahami maksud, dan arti dari ayat yang kita baca !
Ini sangat mendasar, justru hal pentingnya ada di bagian ini !

Ini yang teledor dan banyak kita lupa !

Baca Juga :  SKETSA | Benturan Peradaban (V)

Senangnya baca, terus membaca, tampa pernah di lihat arti dari bacaannya, dan memahami maksudnya, apalagi mencari tafsir, untuk memahami kandungannya.
Lalu jika kita hanya maunya baca, tapi tak faham artinya, dan tak mau coba menelaah kedalaman isi dari ayat yang kita baca, apakah kita kebagian barokah ilmunya ?

Itu hal miris yang kita dapat !

Ini sama seperti kita hanya bisa memotong daging, tampa bisa merasakan bagaimana lezatnya daging jika kita masak dan olah.

Berarti, baca tampa faham artinya, seperti sebuah perjalan kita untuk sampai tujuan, belum sampai tengah perjalanannya, atau masih jauh sampai ketujuannya.
Dan andai mau sempurna, ya harus melakukan, baca, memahami, hingga mampu mencari penafsirannya…dan itulah kunci adanya dialog-dialog kita dengan Allah sebagai pemilik Kalam itu.

Hanya itukah cara berdialog kita dengan Allah Subhanahu wa ta’alla ?
Lalu hubungannya dengan pertanyaan paling atas bagaimana ?

Berdialog dengan Allah selanjutnya, adalah dengan kita melakukan doa, berdoa adalah salah satu cara kita berdialog dengan Nya.

Allah memahami setiap maksud.
Allah mengerti semua bahasa, jikapun kita tak mengucapkannya. Allah tahu apa yang jadi keinginan dari diri kita yang terpendam.
Hadirkan hati untuk membuka dialog denganNya.
Hanya itu cara terbaik kita, untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Dzat yang maha Rohman maha Rohim ini.

Dialog dengan Allah lewat doa, baik yang dilakukan setelah kita selesai ibadah, maupun berdoa saat kita ingat, merupakan kebutuhan ruhaniah kita, yang sangat dasar.
Dengan berdoa, memanjatkan hajat kita, ada dialog dari hati yang Allah simpan kemampuan terpendam hati kita untuk bisa sampai menuju Arsy Nya.

Apa yang terjadi ?
Hanya oleh hati yang suci, bening, dan penuh keikhlasan, dialog lewat hati kita, akan sampai pada Nya, dan Allah kontan bisa langsung menjawab doa kita itu.

Maksudnya bagaimana ini, apakah mungkin ?

Senjata kita, atau alat yang mutakhir, yang bisa di gunakan agar bisa sampai ke haribaan Allah, dari seorang manusia, adalah “Hati.”
Hati kita itulah perantara untuk menyampaikan hajat-hajat kita agar bisa sampai kepada Nya.

Baca Juga :  Nobu-Gisel Disebut 5 Kali Berhubungan, Pengacara Buka Suara

Maka perbaiki hati kita, jika kita ingin bisa dan mampu berdialog dengan Nya !
Mau tak mau, syarat ini hanya khusus di miliki oleh mereka yang memang bisa menyesuaikan hatinya, dari yang sebelumnya buram menjadi bening sebening kaca.

Jika hati kita sudah sebening kaca, hati kita itu bagaikan cermin, apa yang ada di atas, akan tergambar pada cermin itu sendiri, dan bisa kita lihat.

Hati kita itulah cermin yang mampu menangkap apa yang tak terlihat, hati kitalah jembatan “antara” yang mampu menyampaikan bahasa komunikasi kita, baik yang gamblang maupun pesan simbolik kita kepadaNya.

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air. Sahabat bertanya. “Ya Rasulullah apakah pembersihnya? beliau bersabda “Banyak mengingat maut dan membaca Alquran.”

Perihal hati, menurut Maulana Muhammad Zakkariya Al-Khandalwai dalam kitabnya Fadhilah Amal; ” hati diibaratkan cermin, semakin kotor, semakin redup sinar yang dipantulkannya, sebaliknya semakin bersih semakin terang pantulan sinar marifatnya.”

Bagaimana memperbaiki hati kita sehingga mampu berdialog dengan Allah ?

Untuk membersihkan hati yang kotor kata, al-Kandahlawi, para ulama suluk tasawuf menganjurkan agar kita banyak melakukan mujahadah, riyadhah dan sibuk beribadah.

Menurut Iman Al Ghazal, terkait hati, beliau mengatakan;
“Hatimu adalah cermin, bila cermin tersebut bening dan bersih tiada debu dan karat, maka hatimu yang ibarat cermin tersebut akan dapat melihat apa saja yang diiinginkan. Tetapi sebaliknya jika cermin tersebut kotor penuh dengan karat dan debu maka hatimu yang ibarat cermin tidak akan mampu melihat (mukasafah).”

Dari uraian petunjuk, baik dari Nabi Kita Muhammad SAW, dari para Aulia, Imam Al Ghazali sebagai hujjatul Islam, dan alim ulama, kiat bisa memfungsikan hati agar bening bagai cermin, adalah suatu penegasan, bahwa apapun yang kita mau, tak sekedar dialoq, mampu terciptakan, dengan mukasafahnya hati, dan dengan itu, maka Allah menyingkapkan segala sesuatu, dari tirai keghaibannya…. Alhamdulillah.

***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Persiapan Mudik dan Lebaran 2022, Kepala BMKG Hadiri Raker dan RDP dengan Komisi V DPR RI

Jum Apr 8 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Komisi V DPR-RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Menteri Perhubungan, Menteri PUPR, Kepala BMKG, Kepala BNPP & Korlantas Polri dalam membahas persiapan dan pelaksanaan Lebaran Tahun 2022. Pada kesempatan ini Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati memaparkan perihal ketersediaan informasi dan […]