Search
Close this search box.

REFLEKSI | Berkoalisi dengan Musuh

Bagikan :

Oleh Didi Subandi

​PAGU di Cimenyan. Matahari menyelinap di antara dahan pinus, menciptakan garis-garis cahaya yang tegas. Kopi hitam di tangan saya mengirimkan hangat yang menjalar ke ujung jari. Semuanya tampak terkendali.

​Namun, saat saya (dan mungkin Anda) bercermin di permukaan kopi yang pekat itu, satu pengakuan jujur tiba-tiba mencubit batin.

​Saya sadar, saya sering berlagak seperti “pejuang kebenaran”. Saya galak pada orang yang salah sein di jalan. Saya sinis pada pejabat yang korupsi di berita. Saya memusuhi teman yang beda pilihan politik, beda Mazhab Agama. Saya sibuk membangun benteng pertahanan dari “orang-orang jahat” di luar sana.

​Tapi tanpa sadar, kita justru sedang menjalin persahabatan yang mesra dengan musuh yang sebenarnya ada di dalam selimut.
​Lihatlah betapa “bestie”-nya kita dengan Setan dan Hawa Nafsu dalam 24 jam terakhir:

1. Saat Setan jadi “Admin Grup Ghibah”
Ketika ada aib teman atau skandal artis lewat di timeline, Setan berbisik: “Eh, seru nih. Share ke grup sebelah, biar rame.”
Apakah kita melawannya? Tidak. Kita malah jadi co-host. Kita bilang: “Gas! Ada videonya nggak? Kirim full-nya dong!” Kita dan Setan tertawa bareng menertawakan kehormatan orang lain yang runtuh.

2. ​Saat Hawa Nafsu jadi “Konsultan Keuangan”
Dompet kita tipis, tapi gengsi kita tebal. Hawa Nafsu berbisik manis: “Beli aja iPhone baru itu. Kan ada PayLater. Malu dong pas reuni HP-nya burik.”
Apakah kita menolaknya? Tidak. Kita malah tanda tangan kontrak. Kita berhutang riba, memalsukan kemampuan diri, demi stempel “sukses” palsu. Kita turuti nafsu belanja itu, meski anak istri makan mie instan di akhir bulan.

3. ​Saat Setan jadi “Manajer Waktu”
Suara azan berkumandang, panggilan Tuhan memanggil. Setan menepuk bahu kita santai: “Nanggung, Bro. Lagi seru nih scroll TikTok. Lima menit lagi lah. Tuhan maklum kok lu capek.”
Dan kita menurut seperti kerbau dicocok hidung. “Oke, Tan. Lima menit lagi.” (Yang akhirnya jadi satu jam). Kita lebih takut ketinggalan tren daripada ketinggalan rakaat.

Baca Juga :  Kodam III/Slw Gelar Istighosah Qubro Bersama Masyarakat Jawa Barat

4. ​Saat Setan jadi “Humas Ibadah” (Riya)
Kita baru saja sedekah atau sholat malam. Setan datang membawa kamera: “Post dong. Bikin caption bijak. Biar menginspirasi orang lain.”
Kita pun menurut. Kita upload. Kita cek like-nya tiap menit. Kita jual keikhlasan kita demi tepuk tangan follower.
​Betapa konyolnya kita.
Kita pasang CCTV dan kunci ganda untuk maling motor. Tapi untuk maling iman (Setan) dan perampok akal sehat (Nafsu), kita malah buatkan kopi, kita ajak ngobrol, dan kita turuti semua maunya.

​Kita musuhi manusia yang salah sedikit, tapi kita berkoalisi dengan setan yang jelas-jelas ingin menghancurkan kita.***

​Renungan pagi di Citapen Cimenyan

Baca Berita Menarik Lainnya :