REFLEKSI | Berpikir Kritis

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

BERPIKIR kritis adalah manifestasi dari digunakannya kesempurnaan akal kita untuk mendapatkan jawaban yang paling memuaskan, dan paling esensi yang kita harapkan.

Manusia yang mau berpikir kritis merupakan manusia yang telah mau melakukan penelaahan, memiliki kekuatan berpikir proporsional, tidak gampang puas pada suatu pendapat yang ia pikir masih ada celah lemahnya, sehingga ia terus berproses mencari kebenaran dan jawaban yang ia harapkan.

Nabi Ibrahim, bapak dari semua agama samawi yang ada di dunia, terlahir dengan kekritisannya berpikirnya, ia sampai melakukan pencarian untuk mendapatkan jawaban, bahwa manusia dan mahluk lainnya yang ada di muka bumi, pasti memiliki sosok yang kuat yang menjadikan semua ciptaan itu ada.

Dan dalam pencarian jejak untuk mendapatkan Tuhannya, semua bentuk keperkasaan yang alam tunjukan ia anggap awalnya itu Tuhan, Matahari ia anggap Tuhan karena mampu mencahayai alam, namun ketika malam tiba, dan matahari kalah oleh datangnya kegelapan, Ibrahim beralih mengganggap Bulan yang datang pada malam itu sebagai Tuhan.

Sejak kecil, Nabi Ibrahim sudah sangat kritis, ia sangat terpelihara dari perbuatan jahat, maksiat, dan perbuatan tercela lainnya.

Ketika ia mulai beranjak dewasa, ia pun mulai berpikir dan mempertanyakan siapa dirinya ?
Dari mana ia berasal !
Siapa yang menciptakan alam seisinya ini !

Ia pun mulai kritis melihat fenomena sosial yang ada dihadapannya, dan mempertanyakan, mengapa penduduk di dekatnya menyembah berhala-berhala dari batu yang juga dibuat oleh manusia itu sendiri, dimana berhala yang dibuat, lalu mereka disembah, tapi berhala yang mereka sembah tersebut, malah tak mampu berbuat apa-apa.

Ibrahim tak mempercayai berhala-berhala buatan manusia itu sebagai Tuhan yang harus disembah, karena itu, ia pun mulai mencari, mana Tuhan yang sebenarnya.

Baca Juga :  Evaluasi Program 2021 dan Rencana Kerja 2022 Guna Hadirkan BK DPR yang ‘Agile’ dan Terintegrasi dalam Sistem Informasi

Tercatat di Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 76-78 disebutkan, ketika malam telah gelap, Ibrahim melihat sebuah bintang lalu ia berkata, “inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, “saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian ketika melihat bulan terbit Ibrahim berkata, “inilah Tuhanku”. Tapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Lalu saat melihat matahari terbit, Ibrahim berkata, “inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, “hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Dari pencarian ini, Ibrahim pun berkeyakinan Tuhan tidak akan pernah mati. Karena jika Tuhan mati, berakhirlah kehidupan di dunia ini. Dengan keyakinannya itu, Ibrahim pun meminta bukti bagaimana Tuhan Yang Maha Kuasa menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 260 disebutkan, Allah pun memerintahkan Nabi Ibrahim mengambil empat ekor burung dan kemudian mencincangnya. Burung-burung yang sudah dicincang itu diletakkan pada setiap bukit, kemudian Allah menyuruh Ibrahim memanggil mereka dan burung-burung itu pun terbang ke arah Nabi Ibrahim.

Itulah kehebatan kita sebagai manusia yang mau berpikir dengan kritis, Allah menganugerahkan kelebihannya, dan membuat kekritisan kita dalam mencari jawaban, langsung jadi bagian Allah yang menawabnya, seperti apa yang kita dapatkan dari kisah Nabi Ibrahim ini.

Proses berpikir kritis itu, tumbuh dari kegelisahan jiwa dalam mencari jawaban untuk mendapatkan kebenaran yang tersembunyi.

Bagi mereka yang mau berpikir kritis, sesungguhnya Allah memperjalankan prosesnya itu, sampai pada suatu saat ia mendapatkan apa yang ia cari.

Untuk manusia yang memiliki kekritisan, maka akan ada dalam dirinya beberapa hal keutamaan, diantaranya ;
1. Pemahamannya lebih dalam.
2. Muncul kedewasaan dalam berpikir.
3. Ia lebih bijak dan awas menyikapi fenomena.
4. Menjadi kuat keimanannya dan ketaqwaannya pada Tuhan.
5. Tidak mudah ia terpengaruh lingkungan sosial yang ia anggap menyimpang.
6. Sangat tegas sikapnya untuk berlawanan pada munculnya kejahiliyahan yang menguat di lingkungan sosialnya.
7. Tahu keadaan dan bisa membaca pemahaman lawan bicaranya.
8. Sangat peka dan berpikir kontekstual, sesuai kekinian.
9. Allah memampukan dirinya, untuk mudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang mengemuka dari kegelisahan dirinya.
10. Memiliki peran lebih, dan ia mampu menjalankan fungsi sosial dalam andilnya membangun masyarakat yang perlu ia cerdaskan.
11. Menjadi sosok manusia yang bisa jadi problem solving.
12. Mampu berpikir jernih, mampu menangkap esensi-esensi hidup dalam syimbol-syimbol pertanda yang Allah berikan.
13. Allah menjadikannya berbeda sosoknya, dibanding manusia lain yang berada disekitarnya.

Baca Juga :  SKETSA | Karna

Itulah kelebihan manusia kritis.
Ia cahaya bagi kehidupan.
Dan berada didekatnya, kita pun akan mendapatkan kebaikannya.

Berpikir kritis adalah kelanjutan dari ber Iqro.
Perintah membaca yang Tuhan tegaskan pada kita.
Sehingga kita faham dan mendapat pemahaman itu.
Hingga mampu membaca, apapun baik yang tersurat dan tersirat.

Tentunya dengan mendapatkan hasil akhir, kita bisa tercerahkan!
Terbawa berpikir positif, kritis pikiran yang kita miliki, untuk bisa membaca gelagat zaman, gelagat sosial, gelagat alam, dan gelagat keghaiban yang Allah nampakan, sebagai bentuk proses pembelajaran yang selalu kita dapatkan.

Sehingga dengan itu, kita bisa memiliki modal dalam menyikapi situasi sosial yang kita hadapi pada masa ini, yang penuh dengan keriuhan, yang penuh dengan hembusan fitnah, dan itu sesungguhnya bisa mencelakakan diri kita sendiri, jika kita terjebak, terbawa tipu daya, hanyanya bisa ikut-ikutan, dan akhirnya kitapun terjerumus dalam pemikiran sesat, terdoktrin fanatisme, yang membuat kita menjadi tuli, buta, sehingga dipadamkan nurani kita, dan akhirnya kita sulit tercerahkan dalam melihat kebenaran, yang sebetulnya sangat terang benderang ini.

Hal itu bisa terjadi, jika kita tak awas, dan tak waspada dalam membawa diri kita untuk keluar dari kebodohan, yang bisa di manfaatkan oleh mereka yang mau menyesatkan dan membahayakan diri kita.

Mengapa kita mudah tertipu, dan di manfaatkan ?

Karena mudahnya kita percaya pada orang yang di anggap baik, dalam wujud topengnya yang berkedok seorang alim ulama, seorang pemimpin, yang diharap membawa kebaikan, tapi yang terjadi, malah ia membawa kesesatan, dan kehancuran.

Maka sikap kritis yang ada pada kita, tentunya akan membuat kita lebih terang dalam berpikir, lebih baik dan bijak dalam menyikapi suasana gejolak sosial.

Baca Juga :  Tim SIBAT Lawen Genjot Percepatan Vaksinasi

Bagi manusia yang beriman, berpikir kritis itu mutlak ada.
Itu adalah modal untuk bisa membaca apa yang terlihat dan yang tersirat.

Karena dengan berpikir kritis, kita sesungguhnya teredukasi sendiri oleh pikiran kritis kita itu.

Kitapun bisa lebih peka, bisa berpikir lebih jernih dalam menyikapi permasalahan, dan persoalan sosial kita, sehingga pada akhirnya… kita bisa diselamatkan, baik di dunianya, maupun akheratnya.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Legislator Minta Pemerintah Pertahankan Bansos Yatim Piatu di APBN 2023

Ming Mei 29 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf mempertanyakan penanganan yatim piatu yang tidak termuat dalam fokus kebijakan fiskal APBN 2023 terkait program perlindungan sosial. Padahal, Kementerian Sosial (Kemensos) telah mendapatkan komitmen Komisi VIII DPR RI untuk mendukung penanganan anak yatim piatu sebagaimana kesimpulan rapat 13 […]