REFLEKSI | Berwawasan Luas Kesempurnaan Diri

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

SEMUA kitab suci, mengajarkan banyak kebaikan dan kebenaran, yang menuntun pada jalan lurus untuk mencapai kesempurnaan diri.

Banyak ajaran yang baik, bagus, benar, dan lurus, untuk menjadi pegangan kita, dan kebaikan-kebaikan yang kita adobsi, lalu kita tiru, setidaknya akan membuat kita memiliki pandangan dan pemahaman yang luas, mendalam, pada petunjuk yang benar itu.
Sehingga manusia pada akhirnya tidak merugi.

Ingat peristiwa Budha dengan pohon bodhinya, yang dibawah pohon tersebut, akhirnya Budha mendapatkan pencerahan, mencapai kesempurnaan…dengan sebutan Sakyamuni, artinya, orang yang mencapai kebijakan dari kaum Sakya, yang hingga akhirnya, sang Budha menjadi pencerah bagi kaumnya.

Pohon tempat Budha bersemedi itu sangat popular di kalangan penganut Budha. Bagi mereka, pohon ini disebut sebagai pohon Ara (pohon tin/bodhi) yang suci atau dalam bahasa mereka disebut sebagai “Ajabala.”

Lalu mengapa di Al-Qur’an ada surat At Tin ?
Adakah hubungannya dengan mencapai kesempurnaan ?
Kenapa Pohon Tin ?
Teks dalam ayat Al Qur’an memiliki aspek penekanan pada makna yang sebetulnya luas, tidak sempit, dan memiliki potensi pengalian yang mendalam.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.” (QS. At-Thin: 4)

Sebaik-baiknya bentuk merupakan aspek luar dan dalam, fisik dan akal pikiran, dan itulah kesempurnaan manusia yang membedakannya, dengan mahluk lain, yang Allah beri karunia itu untuk di syukuri, dan di manfaatkan semaksimal mungkin oleh kita.

Hingga wajar beberapa ahli tafsir pun, melihat konteks mencari keterkaitan, dari hal yang khusus pada bab, sosok pencerah, adalah gambaran manusia yang paling sempurna, diatas rata-rata manusia biasa pada umumnya !
Dan itu dikarenakan mereka, telah benar-benar memaksimalkan upaya lahir batin, akal pikiran, perbuatan dan tindakan, untuk memberi kebermanfaatan diri pada orang lain disekelilingnya.

Baca Juga :  2 Hari Sebelum Akhir Jabatan Wali Kota Solo Serahkan 34 Sertifikat Proda

Sesungguhnya Allah telah mengutus banyak Nabi-Nabi yang tak terbilang jumlahnya, yang di utus pada setiap umat, sebagai pencerah atau menerang pada kaumnya, sehingga perlu di fahami, ajaran-ajaran kebaikan yang dibawa para pencerah, Nabi, Rasul, tentunya datang dari sang sumber pencerah itu sendiri, yakni Allah SWT….tiada lain !

Iqro mengajarkan kita untuk bisa membaca.
Membaca dalam artian yang tentunya sangat luas, tidak sekedar di pahami seperti halnya kita membaca.
Ada konteks membaca apa yang tersurat, dan tersirat, membaca apa yang dilihat lahir, dan apa yang dilihat bathin…untuk mengetahui fenomena, dan mendapatkan solusinya, sebagai suatu jawaban.

Tiga kali di ajak Nabi kita Muhammad SAW, agar yakin dan bisa mencobanya untuk membaca oleh Jibril. Sampai yang keempat kalinya, Nabi harus didekap erat Malaikat Jibril, hingga jalan nafasnya tersengal…hal itu, hanya untuk menegaskan Sang Nabi, bahwa ia mampu, bisa membaca, dan Malaikat Jibril mensugesti Nabi kita dengan sangat kuat, sampai harus mendekapnya.

Hingga pertemuan pertama dengan Jibril itulah, Nabi SAW kita mendapat pencerahan, mendapat ilmu, pemahaman, untuk kesempurnaan akal budi, rasa, dan pengetahuannya, seperti halnya para Nabi dan pencerah pada umat lainnya.

Bersyukur lah kita, bahwa sanya kita di bekali banyak contoh manusi-manusia paripurna yang sempurna, seperti halnya Nabi kita, para sahabat beliau tabiin, kemudian Tabi’ut Tabi’in atau Atbaut Tabi’in adalah generasi setelah Tabi’in, para wali, dan guru guru Mursyid yang mulia.

Belajarlah kita, dari perjuangan mereka yang disebutkan di atas, dalam mencapai kesempurnaannya.
Belajarlah kita dari cara mereka dalam meraih kepercayaan orang untuk mempercayainya.
Dan belajarlah kita dari kegigihan mereka membangun karakter diri menjadi manusia utama, manusia paripurna seperti halnya yang Nabi inginkan untuk umatnya agar bisa seperti itu.
Menuju kesempurnaan pikir, iman, ahlaq, dan perbuatan.

Baca Juga :  Betah di Persib Fabiano Ingin Belajar Bahasa Sunda

Nabi banyak memberi pemahaman, pembelajaran, dan contoh kebaikan.
Perdalam wawasan kita, pelajari banyak ilmu yang bermanfaat agar hidup kita bisa jadi maslahat.

Ilmu adalah jalan menuju kebenaran, jalan menuju tangga cintanya sosok-sosok pribadi unggul, untuk menggapai ridho Nya.

Pemahaman atas Ilmu, akan membentuk karakter kita.
Pengetahuan kita akan menjadikan kita memiliki pribadi yang kuat, berprinsip, dan tak bisa goyah kepribadiannya.

Masuki hidup dengan penuh makna.
Hidupkan hidup kita dengan banyak cerita keutamaan diri.
Pastikan kita banyak memberi manfaat.
Hidup dan kehidupan kita akan memiliki nilai luar biasa bagi kemanusian, jika kita sadar, bahwa diri harus bermanfaat dan memberi manfaat, sebab di sana ada nilai kemuliaan.

Manusia yang paling baik adalah, manusia yang paling banyak bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan, seperti halnya para Nabi, sebelum kita, insyaallah.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KH Abdurrahman Navis : Jernihkan Hati, Menerima Hidayah Ilahi

Sab Apr 23 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JATIM: Ramadan merupakan momentum istimewa untuk membersihkan hati manusia dari pengaruh buruk kemaksiatan pada diri masing-masing. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., di bulan suci ini pintu surga terbuka lebar, pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan dibelenggu. Demikian dikemukakan KH Abdurrahman Navis Ketua MUI Jawa Timur dan Pengasuh Pondok […]