REFLEKSI | Betulkah Islam Anti Kritik ?

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

ISLAM saat awal diperkenalkannya oleh Rasulullah, sudah sarat dengan kritikan, cemoohan, bahkan sampai di perangi, hingga Nabi SAW harus hijrah ke Madinah, sebagai tempat beliau membangun potensi kekuatan umat yang di persaudarakan, antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Kritikan dari para orang musyrikin, Nabi SAW mampu bantah dengan penjelasan yang brilian mencerdaskan, dan ahlakul karimah Nabi yang membawa keteduhan, akhirnya memikat hati para kaum musyrikin yang sebelumnya memerangi menjadi mencintainya.

Lihat kala Sayidina Umar bin Khattab ingin menghabisi Nabi.
Dengan membawa segenap kebenciannya, dan tanda tanyanya pada ajaran Islam yang Nabi bawa.

Apa yang Sayidina Umar simpan dalam hatinya ?
Berbagai pertanyaan, kritikan, dan balutan rasa emosi yang meledak-ledak, yang tak bisa diredam oleh siapapun, termasuk oleh adiknya sendiri, Fathimah bin Khathab, yang harus kena pukulannya sampai berdarah.
Lalu ia meminta Sa’id bin Zaid dan juga Khabbab bin Al-Arat, yang sedang membacakan surat Thaha saat itu untuk memperlihatkan apa yang ia baca.

Kemudian Fathimah memberikan lembaran yang berisi surat Thaha tersebut kepada Umar. Ketika Umar membaca awal suratnya, ia berkata, “Betapa indahnya dan mulianya perkataan ini!” Khabbab yang mendengar Umar berkata seperti itu, langsung menyampaikan bahwa Rasulullah pernah berdoa agar Umar masuk Islam. Lalu ia langsung mengajak Umar untuk bersegera bertemu dengan Rasulullah.

Itulah sosok Umar, seorang yang tak gampang mempercayai apa yang di bawa oleh Rasulullah sebelumnya, setelah ia membaca surat Thaha, hatinya luluh, dan mendapat kebenaran dari Allah langsung.

Kritikan terhadap Islam dan umat Muslim, sudah ada sejak jaman Nabi mensyiarkan Islam itu sendiri.
Tak hanya kritikan, ejekan, cemoohan, dan prasangka buruk adalah hal biasa yang Nabi hadapi dengan legowo !
Ingat peristiwa Thoif ?
Ingat peristiwa Isra mi’raj?
Semua menunjukan peristiwa penyangkalan dakwah Nabi SAW, dan kebenaran yang awalnya di ingkari, namun bisa Nabi SAW selesaikan satu persatu, dengan elegan, tanpa emosi, malah untuk masyarakat Thoif yang sangat keras penolakannya pada dakwah Nabi SAW, hingga Nabi dilempari sampai berdarah, yang Nabi lakukan adalah mendoakan mereka dengan keberkahan.

Baca Juga :  Ridwan Kamil Dinobatkan Sebagai Tokoh Standarisasi Nasional 2021

Itulah ahlaqnya Nabi SAW, itulah contoh yang harusnya kita sebagai umat ini menirunya !

Apakah kita telah meniru cara Nabi SAW menghadapi kritikan, cemoohan, bullyan, dan ketidakadilan dalam memandang Islam dari sudut persepsi yang salah, oleh mereka yang belum paham, akan kebesaran dan keagungan agama kita ini, Islam !

Jika melihat dari fenomena yang nyata dalam beberapa dekade ini, umat Islam belum dewasa dalam menghadapi kritikan, cacian, cemoohan dari mereka yang belum paham Islam.

Padahal Allah sudah jelas sangat menjaga agama ini sampai nanti akhir kiamat.

Lihat peristiwa seorang anggota parlemen konservatif dari Belanda yang awalnya sangat fobia terhadap Muslim, dan ia sampai mengganggap Muslim sebagai ancaman bagi negerinya, Belanda.

Lalu apa yang terjadi ?

Allah buka kebeningan batinnya, sampai akhirnya ia malah menjadi seorang mualaf setelah mengetahui kebenaran ajaran Islam itu sendiri.

Apa lantas umat Islam di Belanda seperti umat Islam di Indonesia yang sangat latah menganggap kebencian dari individu itu sebagai penistaan?

Ada tangan halus Allah yang tidak perlu diremehkan kekuasaannya, sampai umat tak yakin itu, malah merasa harus berada di garda terdepan, dan merasa sebagai pembela Allah itu sendiri.

Apakah Allah akan berdiam diri, bila ada sosok individu yang menghujat agamanya ?
Pastinya tidak !
Allah pastinya akan turun tangan dengan caranya.

Lalu tidakkah kita percaya kebesaran Allah dan membiarkan Allah yang menyelesaikan masalah yang ada tersebut !
Dari fenomena yang terjadi, manusia berkecenderungan maju untuk menyelesaikannya sendiri, dan Allah dibiarkan menyaksikan perbuatan mereka yang kadang terlihat di luar batas.

Lantas apa yang terjadi ?
Manusia mendzolimi manusia lainnya.
Yang kuat menindas yang lemah.
Yang banyak dan dominan, merasa di atas angin.
Akhirnya yang lemah hanya memohon, ” Tuhan mboten sare !”
Dan Allah pun bekerja untuk memenuhi harapan mereka yang tertindas, dan menampakan kekuasaannya, justru memberi pelajaran pada umat muslim nya itu sendiri.
Ini sangat nyata.
Jelas di depan mata kita, Allah menampakan hukumannya.

Baca Juga :  Lagi Dugem 5 Anggota DPRD Kena Razia, PDIP: Rendahnya Moral!

Lalu apakah itu tidak menjadi pelajaran bagi kita ?

Yaa kita sebagai umat terbesar kadang terlalu berlebihan, dan tidak belajar dari cara kakeknya Nabi SAW, sang menjaga Kabah, Abdul Muthalib saat Mekkah di serang dan Baitullah hendak di hancurkan…apa yang ia lakukan, ia hanya meminta dombanya yang di ambil pasukan bergajah itu, pada Abrahah ia meminta dombanya di kembalikan.
Sedangkan urusan Baitullah, ia yakin Allah yang akan menjaga dan menyelamatkannya.

Dan kakek Nabi berkata, “Demi Allah, kami tak ingin berperang dan kami tak punya kekuatan untuk melawan kalian. Akan tetapi, jika Abrahah ingin menghancurkan Baitullah, lakukan sesuka hati. Namun, aku yakin, Allah tak membiarkan rumah-Nya dihancurkan,” ujarnya.

Itulah kekuatan tauhid, Iman yang kuat percaya Allah tak akan diam, dan pastinya dengan kekuatan iman tauhid, keyakinan kita jadi kuat, kita jadi umat yang haqul yakin… Alhamdulillah.

Lalu apakah kita siap dengan kritikan pada agama ini ?
Pada kelakuan segelintir umat yang membuat umat lain tergelitik mempertanyakan keagungan agama kita ?

Pastinya kita harus belajar lebih dewasa lagi dalam beragama.
Umat Islam khususnya di Indonesia belum siap dikritik.
Apa-apanya masih ditanggapi reaktif, tanpa dipikir mendalam dan diselami apa maksudnya.

Ya kita sadar umat ini masih anti kritik.
Padahal Allah malah menantang para ahli untuk membuat hal yang bisa mereka perbuat, jika apa yang mereka lakukan mampu menandingi kekuasaan Allah.

Allah saja terbuka untuk dikritik, itu jika mereka mampu melakukannya.

Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 23, Allah menantang orang-orang yang meragukan kebenaran Alquran sebagai firman Allah;
“Dan jika kamu meragukan (Alquran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang yang benar. “

Baca Juga :  Donnarumma Dinobatkan Jadi Pemain Terbaik Euro 2020

Mari kita tanggapi kritik, fitnah, cacian, cemoohan dan bullyan pada agama kita dengan bijak dan respon yang mencerdaskan, hadapi kritikan bukan dengan cara emosi yang tidak di ajarkan Nabi kita.

Agungkan agama kita dengan perbuatan baik kita pada umat lain dalam membangun toleransi, umat dari kanjeng Nabi SAW ini adalah umat yang terpuji, uswatun hasanah, contoh untuk seluruh umat di dunia.

Jika klaim ini memang ada, dan kita bisa menunjukannya, Allah pastinya akan ridho atas kita sebagai umat terbaiknya.

Jika kita tak bisa menunjukan itu, maka agama ini hancur karena kita sendiri yang mencorengnya.

Insya Allah Islam tetap jaya, dan tak akan padam keagungannya bila di kritik… Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Alun-Alun Bandung Penuh Sampah, Ketua DPRD Minta Perda Diterapkan

Ming Mei 8 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Ketua DPRD Kota Bandung, H. Tedy Rusmawan, A.T., M.M., meminta petugas Satpol PP menegakkan aturan perda di area Alun-Alun Bandung. Langkah ini untuk mengantisipasi produksi sampah yang ditimbulkan wisatawan dan pengunjung Alun-Alun Bandung. “Perlu ada rambu peringatan mencolok tentang dilarang membuang sampah sembarangan yang […]