REFLEKSI | Dakwahmu Harus Bijak

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

DAKWAH merupakan jalan dalam menginggatkan umat agar umat memahami ajaran agamanya dengan sempurna. Dakwah juga salah satu cara, dimana kita dibukakan pemahaman, bahwa agama yang kita pilih yakni Islam, adalah agama yang paling luas dalam menyelami hakekat kehidupan, baik untuk hal yang bersifat kemanusiaan, aturan-aturan, kebijakan-kebijakan, yang akhirnya membentuk norma, etika, dan keadaban, dalam membangun masyarakat yang bertatanan sosial, dalam kehidupannya di dunia, untuk menuju kemaslahatan di kehidupan akhiratnya kelak.

Bila dalam Al Qur’an, kitab yang menjadi rujukan kita mengingatkan bahwa berdakwah harus dengan hikmah, dan bil hikmah, yang artinya menyampaikan dakwahnya itu dengan cara yang arif bijaksana, yaitu si pendakwah harus melakukan pendekatan yang komprehensif, melihat berbagai kedalaman aspek, memperhatikan semua hal, sehingga pihak objek dakwah (umat) mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik.

Musa pun mengingatkan seperti yang tercatat dalam Qur’an, bahwa ia hanyalah seorang penyampai risalah, tidak lebih dari itu.
Artinya apa ?

Ia Nabi Musa hanya sebagai penyampai, yang tidak bisa lebih otoritas nya untuk memaksakan kehendak seperti kemauannya, pada umat.

Apalagi umatnya Musa, adalah bani Israel, umat yang terkenal kritis, pintar, cerdik, dan tak mau begitu saja percaya, sebelum ada bukti.
Sehingga rekam jejak bagaimana Musa melakukan dakwahnya, tak lepas dari meminta saran Tuhannya, untuk ia lakukan.

Lantas apa yang diambil dari pernyataan Musa itu oleh Nabi kita Muhammad SAW ?

Nabi menjadikan dakwahnya bernilai hikmah, berisi nilai sentuhan bathin yang mampu meresap, dan mampu mengubah perilaku, dari pribadi yang sebelumnya keras karakter dan hati, menjadi pribadi yang lemah lembut…dan bedanya dengan para pendakwah sekarang, apa yang dilakukan Nabi, bagai beda antara langit dan bumi.

Coba kita perhatikan !
Apa yang dilakukan sebagian para pendakwah saat ini, lewat konten sosial mereka, bisa kita dapati, gaya dakwahnya sangat menyerempet padahal yang sifatnya perlawanan, sering kali sifatnya memprovokasi umat !

Baca Juga :  18 Ketua RW Desa Jelegong, Kec. Rancaekek Dilantik Serentak

Apa yang umat dapat ?
Tidak ada !

Selain dakwah mereka hanya mengeraskan hati para jamaahnya !

Mengaduk unsur emosi, dan sangat meletupkan gesekan, dan perpecahan.

Ini sangat terasa sekali efeknya, di media sosial.

Dan untuk membentengi hal tersebut, umat harus pandai memilih sosok penceramah yang santun dan bijaksana.

Nabi memberi contoh terlebih dahulu, sebelum ia menyampaikan dakwahnya. Sampai beliau harus mengganjal perutnya dengan batu, saking menahan laparnya.

Coba perhatikan, ketika Nabi SAW mengajarkan hidup sederhana, ia yang semula kaya raya, hidup bergelimang harta, sampai harus memberi contoh, hidup dalam garis kemiskinan, setelah di angkatnya ia menjadi seorang Nabi, sehingga apa yang di wariskan pada anaknya pun bukanlah harta kekayaan !

Mengapa begitu ?
Itu karena Nabi SAW ingin apa yang ia katakan, sesuai dengan apa yang ada di hati, dan jadi bukti, tak hanya manis di mulut, tapi jauh dari realita, seperti para pemuja harta dari kalangan “ulama”, yang kini banyak kita lihat, mereka telah salah kaprah, mengambil keuntungan dari gelarnya sebagai ulama…sehingga untuk mengundang mereka sekedar memberi dakwah, pencerahan pada umat, kita harus memperhitungkan tarifnya.

Dan untuk itu, umat harus udunan, menyiapkan bayarannya.
Hebat, luar biasa jauh dari spirit Nabi-nya.

Dan dakwah Nabi SAW yang hidup dalam pola kesederhanaan ini, sebenarnya ditujukan untuk para ahli agama tersebut, kepada para ulama pewaris para Nabi.

Yang pada mereka, ada keteladanan sosok Nabi SAW, yang akan menjadi contoh nyata, dan kongkrit bagi umat, untuk mendapatkan gambaran figur Nabi kembali, dari sosok pribadi dan kesederhanaannya para ulama itu, dan itu, akan di contoh oleh mereka, umat ini.

Figur ulama yang mengedepankan hidup sederhana, adalah contoh yang baik. Tidak seperti para pendakwah jaman sekarang, yang sebagian bergelar “ustad”, “kiai”, namun gila duniawi, dan malah mengejar keduniawiannya, sampai-sampai itu dibuat senetron, oleh sebuah televisi swasta, untuk memparodikan fenomena tersebut.

Nabi menjadikan dakwahnya sebagai penyejuk dan pemberi keteduhan, berbeda dengan dakwah masa kini yang ujung dari isinya menjadi sumber perdebatan, sumber konflik, dan memuat kebencian yang nyata disuarakan, sehingga pendakwah sudah tidak bicara hikmah lagi, yang ada, malah memecah belah umat, memprovokasi dan membakar semangat kebencian umat, terkhusus membenci pimpinan negerinya, yang sering di lakukan para Ustad di media Sosial.

Baca Juga :  Pastikan Aman, Vaksin Covid-19 Disosialisasikan di Cilacap

Nabi menjadikan dakwahnya sebagai pemberi solusi,dan penuh kecerdasan, banyak kita simak, bagaimana Nabi memutuskan suatu perkara bagi sahabatnya, dengan solusi yang harus ia lakukan, tapi si sahabat ini menawar, karena ketidakmampuannya melakukan apa yang disarankan Nabi, hingga akhirnya, sekeranjang kurma dari sahabat Nabi yang lain, diberikan kepadanya untuk di sodakohkan, yang ada… malah sahabat ini juga termasuk orang yang membutuhkan, sehingga solusi terakhir dari Nabi, memberikan kurma itu untuk dimakan oleh keluarganya, Masya Allah!
Sampai seperti itu Nabi membuat solusi, tidak memberatkan, malah jadinya membantu.

Apa yang di lakukan Nabi SAW, tidak dicontoh sebagian ustad sekarang.
Itu terlihat pada pendakwah zaman sekarang, yang jauh dari memberi solusi, yang ada malah memaksakan isi dakwahnya untuk dipatuhi.

Nabi memuat isi dakwahnya dan menyampaikannya dengan penuh kebijakan, penuh perhitungan, tidak asal bicara seperti para pendakwah dadakan di jaman sekarang ini.

Dakwah Nabi SAW halus, mengandung pesan moril yang tinggi, tidak dibarengi dakwahnya dengan hawa nafsu, sehingga tersampaikan dengan bahasa yang lugas dan lembut.

Apa yang kita cari dari sosok seorang pendakwah?

Yang harus kita cari dari seorang pendakwah adalah keluasan ilmunya, pemahamannya akan sisi nilai-nilai Islam yang tidak lepas dari melihat aspek individu, kelompok, faktor kebiasaan, atau adat yang melekat dari masyarakat yang masuk dalam radar dakwahnya.

Sehingga bekalnya melihat unsur itu, membuat dakwahnya lebih arif, bijak, dan solutif.

Bagaimana dakwah dapat menjelaskan keluarbiasaan agama kita ?

Dakwah yang baik adalah dakwah yang mengena isinya sampai masuk ke dalam hati sanubari yang paling dalam.

Dakwah yang berisi penguatan nilai-nilai keluhuran Islam itu sendiri, dimana Islam merupakan agama solusi, agama fleksibel, agama yang paling sederhana untuk difahami, bukan agama yang mengekang dan serba melarang.

Baca Juga :  Operasi Keselamatan Lodaya 2022, Satlantas Polres Majalengka Membagikan Nasi Kotak dan Masker

Salah kaprah dari sosok ustad yang kini sering kita lihat, adalah keluasan ilmunya, malah menutup pintu kebijaksanaannya, sehingga terkesan dangkal pemahaman ilmu sosialnya, dan pendekatan secara psikologis ilmu kejiwaannya.
Dan yang dimunculkan dalam dakwahnya, terkesan mencari popularitas, haus akan konfrontasi sosial, sehingga dakwahnya selalu mencari cara berbenturan dengan apa yang umumnya masyarakat telah lakukan.

Semisal melarang sungkem pada orang tua, karena tak diajarkan Nabi SAW katanya, padahal kepada mertuanya, Abu Bakar Ash Shiddiq, sekaligus sahabatnya, Nabi sangat menghormati beliaunya, bahkan solusi-solusi dari Abu Bakar sangat Nabi dengarkan.

Kita lihat bagaimana hubungan Nabi SAW dengan mertuanya ini, lebih dari pada sungkem itu sendiri, menemani dalam gua saat pengejaran kaum Quraisy yang ingin membunuh Nabi, bahkan sebagai mertua, penganti ayah ibunya yang telah tiada, ia Abu Bakar Ash Shiddiq, mempercayai semua hal yang Nabi SAW katakan.
Nah, sungkem pun seharusnya di artikan dalam pengertian yang luas, tak hanya sekedar datang, dan berlutut menghormati orang tua saja.

Tapi lebih dari itu, membangun hubungan baik, hubungan harmonis, dan mau menimba pengalamannya.

Dakwah itu harus bijak.
Dakwah itu harus solutif.
Nilai dakwah sesungguhnya ada pada para sosok dai, ulama, yang membawakan dakwahnya.
Jika dakwahnya mengena, dan meresap di hati, maka Allah memberi muatan hidayah dalam apa yang ia sampaikan.

Jika dakwahnya malah mengeraskan hati, menimbulkan kebencian, dan malah mengobarkan bara, maka muatan dakwahnya telah disusupi keangkaramurkaan dan pengaruhnya Iblis.
Dan andai dakwahnya telah jadi kendaraan Iblis, maka otomatis, sudah tak ada lagi sisi hikmah dan kosong dakwahnya dari nilai datangnya hidayah Allah yang menyertainya.

Lantas ketika kita mendengarkan dakwah semacam ini, maka kita pun akan terjebak dalam lingkaran setan yang akan semakin menjerat kita dalam kesesatan, dan semakin membatunya hati.

Semoga kita bisa memilih mana dakwah yang baik, dan mana dakwah yang mubazir, sia-sia, dan tak berguna… Insya Allah.**

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Lebaran Berakhir, Pengawasan Kasus Covid-19 Harus Tetap Diperhatikan

Kam Mei 12 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo menegaskan, pandemi Covid-19 belumlah berakhir. Untuk itu, ia meminta agar pengawasan kasus positifnya tetap diperhatikan oleh pemerintah setelah Hari Raya Idulfitri. “Nanti pasca-Lebaran ini seminggu, dua minggu, tiga minggu ini benar-benar pemerintah bekerja keras untuk menunjukkan dan mengevaluasi statistik […]