REFLEKSI | Dakwahmu Harus Indah dan Melampaui Zaman

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.

MUSLIM, baik itu mubaligh, ustad, kiai, habib, atau siapapun, yang melakukan kegiatan berdakwah, hendaknya mereka harus mengacu pada cara Nabi SAW ketika menyampaikan dakwahnya, untuk berdakwah dengan penuh hikmah, penuh kesantunan, kelembutan, dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan indah….yaa, baiknya memang seperti itu dalam berdakwah.

Dakwah berasal dari bentuk da’a-yad’u, berarti panggilan, seruan, atau ajakan. Ini berarti, dakwah merupakan suatu kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak, dan memanggil orang agar beriman dan taat kepada Allah, sesuai dengan akidah, syariat, dan akhlak Islam.

Allah berfirman: “Serulah manusia kepada jalam Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An Nahl 16 ayat 125).

Ayat di atas adalah pengingat kita, khususnya para pendakwah, dai, para alim ulama, agar menyeru manusia atau umat harus dengan hikmah, sehingga pengajaran yang diberikan, argumen yang dikeluarkan, atau bantahan yang dijelaskan, semuanya dalam koridor, memuliakan agama Allah.

Nabi menyampaikan dakwah dengan rasional, berlogika jika itu harus berlogika.

Nabi SAW menyampaikan dakwah dengan menguatkan keimanan, jika itu berkaitan dengan nilai-nilai spiritual yang harus diyakini kebenarannya secara iman, tidak bersandar akal.

Nabi SAW menyampaikan dakwah kebaikan, kemanusian, persaudaraan, tidak hanya untuk umatnya saja, tapi pada manusia keseluruhannya, secara universal.

Nabi dalam keseluruhan hidupnya, dari awal Islam di syiarkan, ia menyampaikan setiap dakwahnya, dengan penuh “Cinta,” baik pada sahabatnya, para pemuka suku dari setiap khabilah, keluarganya, umat, dan untuk keseluruhannya pada manusia.

Nabi berdakwah tidak membangun kebencian, tidak membangun permusuhan, bahkan ia tak pernah melakukan dakwah untuk memprovokasi, sampai harus berapi api, mengajak manusia, atau umatnya untuk jadi umat pembenci, yang akhirnya kehilangan kesadaran diri, kehilangan hati, dan hingga nurani.

Baca Juga :  Jalankan Tupoksinya, Kapolsek Ibun Temui Warga Sambil Ngopi Bareng.

Nabi menyampaikan dakwah “mahabbah,” dakwah cinta !
Ini bekal bagi umatnya untuk memasuki tangga kecintaan pada Illahi Rabbi, sehingga umat Nabi SAW, bisa memiliki keluhuran budi pekerti, keluhuran ahlaq, keluhuran ketaqwaan, dan keluhuran keimanan yang hakiki.

Nabi menyampaikan dakwahnya tak hanya retorika, manis di mulut, atau sekedar lipstik!…ia melakukan peraktek langsung apa yang disampaikan lewat lisan, ia kerjakan dalam realitas kehidupannya, sehingga, ada kesusuaian, apa yang di sampaikan dengan lisan beliau, beliau lakukan dalam perbuatannya.

Nabi pun berdakwah dengan perilaku, ia tidak hanya bicara, tidak hanya dengan kata-kata, tapi nabi lakukan lebih dari itu, yakni, dengan perbuatan, dan perilaku juga, ini dilakukan, sampai ia dipanggil keharibaan Tuhannya. Dari pernyataan Aisyah radhiyallahu`anhā ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah shallallāhu `alaihi wa sallam, beliau menjawab: “Akhlak rasulullah adalah Al Quran” (HR Ahmad).

Jika banyak alim ulama, juru dakwah, da’i, kiai, habib, berdakwah hanya mengutip ayat Al Qur’an !
Nabi sudah berahlaq Qur’an !
Dan itu bisa dibayangkan, betapa luhur dan mulia keseluruhan perbuatannya, sebab ia paham Qur’an yang menjadi penuntunnya, cahaya yang selalu menerangi dirinya, dan juga umat.

Nabi SAW berdakwah dengan kesabaran, waktu-waktu ia lewati, dan setiap perubahan tidak secepat kilat ia rasakan, berproses dalam kesabaran, berproses dalam ketawakalan.

Nabi berdakwah dalam keperihan dan penghinaan, dan bagi para Nabi, itu hal jamak, biasa, sehingga adanya cobaan, semakin meneguhkan ia, dan semakin membuatnya bergairah penuh semangat membara dan membaja, menyampaikan misi dakwahnya pada umat manusia.

Nabi berdakwah dengan penuh ujian, cobaan, dan benturan, dari budaya- budaya pagan yang sudah mengakar kuat pada bangsa Arab, kekuatan perpolitikan dan pengaruh para kabilah, serta ketua sukunya, dan para pembesarnya.

Namun dengan seizin Allah, dibarengi kesabaran, ketulusan, dan keluhuran budi pekerti Nabi SAW, kekuasaan para ketua kabillah, para kepala suku, dan pembesarnya, mampu akhirnya ia (Nabi) pahamkan, dan satukan, sehingga pada akhirnya, menjadikan bangsa Arab yang awalnya lemah, menjadi kekuatan baru yang sangat diperhitungkan, dan disegani, oleh kekuatan Persia dan Romawi.

Baca Juga :  MAUNG BANDUNG: Robert Alberts Kembali Soroti Penyelesaian Akhir

Hal yang awalnya tak mungkin, yang pada akhirnya bisa terwujud, di karenakan dalam dakwah dari diri Nabi, dakwahnya mampu membangun kepercayaan diri, mampu memunculkan kualitas mental pantang menyerah, yang sangat luar biasa pengaruhnya.

Nabi SAW berdakwah dengan jiwa kepemimpinan, jiwa seorang leadership, jiwa petualang, jiwa pedagang, jiwa pengembala, jiwa kemanusian, dan terangkum semuanya, hingga bisa berdakwah di banyak kalangan, yang beda profesi, beda kedudukan, beda pemahaman, yang semuanya bisa di pahamkan, di satukan, hanya berbekal dakwahnya bisa menyelaraskan, dan menyesuaikannya, menggunakan,”bahasa kaumnya,” berbahasa sesuai tingkatan pemahaman, tingkatan logika, dan tingkatan nalar yang mampu Nabi SAW efektifkan.

Nabi berdakwah dengan kesederhanaan, apa adanya !
Ia mengutamakan kedekatan, mengutamakan hati, mengutamakan kesetaraan, mengutamakan persaudaraan, saling kasih, dan mencintai, dan mengutamakan sisi kemanusian di atas segalanya.

Nabi berdakwah dengan banyak cara, tak hanya di atas mimbar, tapi selalu tampil memukau dan banyak mendapat perhatian.
Sehingga perkataannya di catat sebagai hadist yang periwayatannya, selalu bersanad padanya. Yang perilakunya selalu jadi rujukan dan contoh, baik saat pada masa keberadaannya, maupun setelah ketiadaannya.

Nabi SAW berdakwah dengan banyak perhitungan, berstrategi, berkonsep, sehingga nilai dakwahnya bernilai tinggi, dan diakui para penguasa, para raja, sehingga merekapun membenarkan dakwahnya.

Terakhir….
Nabi SAW menyampaikan dakwahnya secara visioner, dakwah lintas zaman, pesan-pesan dakwahnya yang selalu jauh melihat ke depan, melampui batas zaman, melampui peradaban-peradaban, untuk bisa kita tangkap dakwah, dan pesannya sampai di masa kini, untuk kita, umatnya yang di zaman sekarang.

Seperti contoh yang spektakuler Nabi SAW buat dalam piagam Madinah, piagam yang diakui sebagai cikal bakal pilar dasar kerukunan umat beragama, dan resolusi menghindari konflik, yang isinya…

Baca Juga :  Kolaborasi Seputas dengan Game C12 Speak Up Menghasilkan Bibit Bangsa Berkualitas

Menetapkan adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat; tentang keselamatan harta-benda dan larangan orang melakukan kejahatan.

Ikuti cara dakwah Nabi SAW.
Ikuti perilakunya.
Ikuti kesederhanaannya.
Ikuti cara meraih umatnya.
Ikuti cara visionernya.

Dakwah bukan berapi api.
Dakwah bukan untuk menyakiti.
Dakwah bukan menyebarkan kebencian dan provokasi.

Jika ada dakwah yang salah, berarti, ulamanya tak memahami Nabi, ulamanya tak mau meniru Nabi !
Dan andai ulama dalam dakwahnya, jauh dari nilai hikmah, dan mengedepankan ego sendiri ! Maka masih nol ia memahami cara dalam meraih umat, seperti yang Nabi lakukan dalam dakwahnya, untuk membentuk umat menjadi umat yang mulia, dan terhormat.

Nabi menyesuaikan bahasa dakwahnya, sesuai bahasa kaumnya !
Bahasa yang bisa fleksibel, sesuai kebutuhannya.

Jika dakwah tak kena dihati.
Dan hanya selintasan cuma lewat, maka dakwahnya tak menempel di qolbu umat.
Itu tandanya, ada hal yang perlu di kaji, perlu di introspeksi, apa yang perlu dikuatkan….!!

Dakwah itu ini menyangkut soal kekuatan jiwa, kekuatan hati, dan kekuatan ruh kita yang mungkin masih perlu penguatan kapasitas nya diri, sebagai penyeru, sebagai penyampai, sebagai duta syiar yang Allah ridhoi….dan itu yang harus diperbaiki agar dakwah punya ruh, punya kekuatannya.

Semoga cara kita, para alim ulama, dalam menyampaikan dakwahnya, bisa terus dibenahi dalam penyampaiannya.
Edukasi terus umat dengan hal yang utama.
Pahamkan umat untuk membangun kemuliaan ahlaqnya.
Bangkitkan semangat umat untuk membangun kualitas kepribadiannya.

Contohkan mereka dengan kesantunan diri para pendakwahnya.
Buktikan contoh kongkrit akhlaq terpuji, yang menjadi keutamaan para juru dakwah kita.

Semoga kita bisa mengikuti dakwah cara Nabi SAW.
Dan semoga kita diberi kesempatan untuk menjadi umat yang bermanfaat, dan pribadi yang sehat akal dan nurani, agar cara kita mendekat pada umat, menjadi pintu keberkahan bagi seluruh semesta alam.

Amin, semoga kita bisa lebih baik lagi.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tahapan Mulai Dibahas, Ketua DPR Minta Polemik Penundaan Pemilu Diakhiri

Kam Apr 21 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Ketua DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani meminta pembicaraan terkait polemik penundaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 untuk segera diakhiri. Hal ini menanggapi masih banyaknya diskursus di ruang publik yang masih memperdebatkan penundaan pemilu. “Saya rasa polemik terkait apakah (Pemilu 2024) ditunda atau tidak ditunda dan […]