REFLEKSI | Dan, Umar bin Abdul Aziz pun Dihujat

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

DARI Ngaji Kitab Tema: Tentang keutamaan sabar. – . Kitab Ihya’ edisi Dar al-Minhaj, juz ke-, hal 635. . Maqra’: وقال أنس بن مالك …ternyata kita baru tahu, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz pun sama,.sebagai khalifah, ia dihujat umatnya, padahal seperti yang kita tahu, ia adalah khalifah yang adil dan dianggap paling bijaksana.

Namun ia bukan penguasa gasiq dan dzolim, yang akan menangkap para penghujatnya, menghadapi hujatan seperti itu, maka tetap ia pun, hanya bisa memperbanyak bersabar, dan penuh keikhlasan ia menghadapinya.

Dan dari kesabarannya ini, sesungguhnya, menunjukan kepada kita, bagaimana kualitas kepribadiannya sang khalifah, yang sangat luar biasa, dalam praktek membangun dan menjaga kebesaran budi pekerti, dan pemahamannya.

Semoga pemimpin yang sabar dalam hujatan umatnya, di beri Allah keluasan hati.
Dari Abu Bakar ra., Ia berkata ; Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, ” Siapa saja yang menghina penguasanya, Allah akan hinakan dirinya.”(HR.Tirmidzi)

Dari Ibnu Abbas Ra, ia berkata ; Rasulullah Saw. bersabda :
” Siapa saja yang benci terhadap tindakan penguasanya, hendaklah ia sabar ! Sesungguhnya orang yang meninggalkan Raja ( membelot) walau hanya sejengkal, ia akan mati seperti mati pada zaman jahiliah.”
( HR. Bukhari dan Muslim )

Dari riwayat yang di ulas dalam mengaji bab keutamaan sabar ini, itu seperti membawa kita, untuk kembali menginggat sejarah para khalifah.
Dari mulai, Abu Bakar, Umar, Usman, sampai pada Ali bin Abi Thalib, betapa para khalifah itu menghadapi tantangannya masing-masing, yang sama peliknya, dengan masa pemerintahan Jokowi, pada masa sekarang.

Kita lihat…
Bila pada masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, yang memerintah selama dua tahun, tiga bulan, 14 hari. Sejarah perlawanan terhadap beliaupun sama gilanya, dan sangat keras, sampai beberapa wilayah melakukan memberontakan, munculnya nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al khazab, dari bani hanifah di yamamah. Aswad Al-Ansy di Yaman, dan lainnya, yang pada intinya, mereka melakukan perlawanan terhadap khalifah, karena tidak lagi mempercayai kepemimpinannya, dan tingginya semangat perlawanan.

Baca Juga :  Usai Dilantik, Kang DS Sahur Bareng Kaum Dhuafa

Kemudian…
Masa Umar bin Khattab, yang memerintah selama 10 tahun, sebagai penganti Khalifah Abu Bakar Shiddiq ra, kita tahu, ia pemimpin tegas dan penuh dedikasi pada syiar Islam, pun sama diguncang prahara, sampai akhirnya ia dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz) saat sedang melaksanakan salat subuh. Abu Lukluk sendiri adalah budak dari Persia, yang merasa dendam karena negerinya di kalahkan oleh penguasa Islam.

Selanjutnya…
Masa penggantinya Umar, ke Khalifah Usman bin Affan, gejolak politik terus mendera, umat sebagian tak bisa di atur, dan kepemimpinan pada masa Khalifah Usman bin Affan pun sama, di anggap lemah, tak tegas, tidak bisa menyelesaikan masalah, pemerintahannya terus diguncang, dibuat dalam banyak tekanan yang datang dari umat Islamnya sendiri.

Khalifah Usman bin Affan sangat sabar, dan lebih percaya pada takdir, sehingga hal ini menjadi peluang para pemberontak dari suku Badui, orang-orang bodoh dari umat Islam yang gampang termakan kabar bohong, isue miring, yang jika itu dikenal di jaman ini, adalah berita hoaks, yang sengaja di sebar untuk menimbulkan kebencian yang kuat, untuk membangun permusuhan, persis seperti di zaman ini.

Pada pikiran para sahabat yang masih waras.saat itu, perbedaan pendapat masih di anggap kewajaran, apalagi sang khalifah melarang untuk melakukan perang menghadapi mereka, dan tak tahunya, tak terpikir oleh para sahabat yang pada waktu ada di madinah, para pembenci khalifah datang mengepung rumahnya, sehingga peristiwa biadabpun terjadi di kota kedua yang disucikan nabi, yakni Madinah.

Khalifah Usman bin Affan, dibunuh oleh Abdurrahman bin Amr yang dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam al-Himyari al-Kindi.
Sungguh perlawanan terhadap penguasa, oleh pemberontak, perusuh, demostran yang membenci khalifah, telah jadi rangkaian peristiwa yang seolah ritual, dari kaum pembenci yang bila tak disikapi tegas, akan membawa kerusakan yang sangat masif.

Baca Juga :  Salurkan Bantuan Bagi Pelaku Usaha Mikro, Ace Hasan: Kita Optimis Ekonomi Indonesia Akan Bangkit

Sampai akhirnya terjadi pula pada periode ke Khalifah Ali bin Abi Thalib, di mana ia sampai mengalami peristiwa yang sangat tragis, dimana ia di tikam dari belakang oleh seseorang yang bernama Abdurrahman bin Muljam, saat ia sedang salat subuh di Masjid Agung Kufah pada 19 Ramadhan 40 H atau 27 Januari.

Masa pemerintahan sayidina Ali bin Abi Thalib, adalah masa pemerintahan yang penuh pergolakan dan pemberontakan, dan itu mencapai puncaknya di peristiwa Karbala, dimana pada peristiwa Pertempuran Karbala ini, peperangan antara pasukan Husain bin Ali melawan tentara Yazid bin Muawiyah dari Dinasti Umayyah yang terkenal bengis, berlangsung sangat dramatis.

Peperangan ini terjadi, di dekat Sungai Efrat (sekarang Irak) ini, dan berlangsung pada 10 Muharram 61 Hijriyah, atau 10 Oktober 680 Masehi, sampai harus terjadi peristiwa biadab, pemenggalan kepala dari sayidina Husain putra Ali bin Abi Thalib, cucu dari Baginda Nabi Muhammad Saw yang di lakukan oleh Sinan bin Anas bin Amr Nakhai. Menurut Ibnu Katsir. Kepala Sayyidina Husen lalu diserahkan ke Yazid bin Muawiyah.

Itulah peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi pada para khalifah kita, yang diawali dari adanya rasa kebencian, timbulnya fitnah, lalu angkat senjata dan terjadinya pemberontakan.

Bagaimana dengan pemerintahan di masa kini ?
Di zaman modern, yang sistem pemerintahan kita menganut sistem Presidensial ?

Dimana sistem Presidensial ini, negara dipimpin oleh Presiden. Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemelihan umum (Pemilu).

Jika melihat fenomena gejolak yang terus di pelihara dari awal terpilihnya Jokowi dari tahun 2014, sebagai presiden Indonesia, sampai pada periode kedua di masa pemerintahannya, yang menginjak tahun ke 8 ini, ada saja letupan, dan gejolak yang terjadi.
Sedikit saja statement dari para menterinya agak ambiqu, suasana riuh dan hangat, langsung mewarnai situasi dunia politik di negeri ini.

Baca Juga :  Santri Tenggelam di Cipatujah Tasikmalaya Ditemukan 7 Km dari Lokasi Hilang

Jadi apa yang perlu disikapi, agar negara kita tidak menjadi negara yang hancur seperti Libia, Irak, Afghanistan, dan negara Islam lainnya, yang akhirnya terpuruk.

Kita sudah pengalaman dalam melihat hancur dan luluh lantaknya suatu negeri, hingga harus tertatih bangkit dari keterpurukan yang menyakitkan, seperti Libia, yang sulit kembali ke masa jayanya.

Mari kita doakan, agar hari ini, para pendemo, adik-adik kita para mahasiswa, masih bisa berpikir jernih !
Sehingga kondisi keamanan, dan kondusifitas negeri ini, tidak terguncang hebat, dan pada akhirnya membuat lebih terpuruk, dan akan merugikan kita semuanya…amin.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Kebesaran Islam Bukan Ditentukan Perang dan Konflik

Sen Apr 11 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BOGOR – Perang Rusia Ukraina menjadi perbincangan di seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa kalangan beranggapan bahwa konflik-konflik yang terjadi saat ini sengaja dikondisikan untuk kebesaran agama Islam. Hal tersebut dibantah dengan tegas oleh Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI, Prof Noor Ahmad […]