Search
Close this search box.

REFLEKSI | Diplomasi Bubur & Guru Sufi Bernama Es Batu

Bagikan :

DIPLOMASI BUBUR & GURU SUFI BERNAMA ES BATU

​(Renungan Hujan di Jalan Dipati Ukur)
​Lokasi: Jalan Dipati Ukur, Bandung.
Waktu: Rabu, 21 Januari 2026.

Pagi yang basah kuyup.
Suasana: Hujan turun awet sejak subuh. Aroma aspal basah bercampur uap kuah kaldu.

​Pagi ini hujan di Cimenyan tidak mau berhenti. Kopi pagi di rumah baru diminum setengah, tapi tugas kenegaraan sudah memanggil: Mengawal “Ibu Negara” ke kantor.
​Di tengah jalan, perut protes. Akhirnya kami menepi di salah satu tenda bubur ayam legendaris di kawasan Dipati Ukur.

Hujan masih menderas. Tenda agak sepi. Uap kopi sachet dan uap panci bubur menari-nari di udara dingin.
​Iseng, saya melempar candaan basi ke si Mamang Bubur:
“Mang, hujan kieu mah dagang bubur téh ujian nyak. Enakna mah dagang bajigur meren…”
​Sambil mengaduk kuah kuning dengan santai, si Mamang menjawab tanpa menoleh:

“Ah, paling enak mah jualan Es Batu, Pak.”

​Saya mengernyitkan dahi. “Lho, kok Es Batu? Kan dingin, hujan gini siapa yang beli?”
​Dia menoleh, nyengir kuda, lalu melempar ‘bom’ filosofisnya:

“Soalnya Es Batu mah konsisten, Pak. Rék panas, rék hujan, tetep CAIR!”

​Saya tertawa lepas. Istri saya ikut terkekeh.
“Cair” dalam bahasa dagang artinya Duitnya Turun.

Tapi “Cair” dalam fisika artinya Meleleh.
​Guyonan bapak-bapak itu renyah sekali. Tapi saat saya kembali menyeruput kopi di pojokan tenda, tawa itu pelan-pelan berubah jadi renungan yang menampar.

​Ternyata, Es Batu adalah makhluk paling tulus.
Dia tidak ribut soal cuaca.
Terang, dia mencair. Hujan, dia tetap mencair.
Dia taat pada kodrat prosesnya.

​Di sinilah kita—manusia modern yang merasa pintar—seringkali kalah telak sama bongkahan air beku.

​1. Kita Adalah “Es” yang Baperan

​Dalam relasi hidup (di rumah atau di kantor), kita sering kebalikannya.
Saat suasana hangat, saat dipuji, saat dapat bonus—kita Mencair. Kita ramah, kita asyik, kita royal.
Tapi begitu “Hujan Masalah” datang—ada kritik sedikit, ada salah paham, ada tekanan target—kita justru Membeku.

​Kita menjadi dingin. Kaku. Defensif. Wajah ditekuk, pintu komunikasi dikunci rapat.

Padahal, justru di momen “dingin” dan sulit itulah, pasangan atau tim kita paling butuh kehangatan. Tapi kita malah memilih jadi batu es yang keras kepala.

​2. Relasi atau Transaksi?
​Es batu mengajarkan ironi halus:

“Aku tidak menawar cuaca. Aku tidak bilang: ‘Aku mau mencair kalau Matahari baik dulu padaku’.”

​Sementara kita?
“Kalau kamu baik, aku baik. Kalau kamu jutek, aku bakal lebih jutek.”
Itu bukan Relasi, itu Transaksi Dagang.
Kita berbuat baik hanya sebagai “uang muka” untuk dibalas baik.

Ada orang yang hanya “cair” saat diuntungkan, dan membatu saat dirugikan.

​3. Berani Hilang Bentuk
​Ego kita sering berbisik:

“Jangan mau ngalah! Pertahankan bentukmu! Harga diri itu nomor satu!”

Es batu membantahnya.
Dia meleleh, dia mengecil, dia bahkan hilang wujudnya menyatu dengan air sirup atau kopi.

Apakah dia kalah? Tidak.
Justru karena dia berani “hilang”, air kopi ini jadi nikmat.

Mencair bukan berarti kalah. Mencair berarti cukup dewasa untuk tidak selalu ingin menang sendiri.

​PENUTUP: Oleh-oleh dari Dipati Ukur
​Bubur saya sudah habis. Hujan mulai reda.
Saya menatap sisa es batu di gelas air putih. Dia makin kecil, lalu hilang tak berbekas.
​Pagi ini saya belajar satu hal mahal dari trotoar Dipati Ukur:
Yang membuat hubungan retak seringkali bukan karena masalahnya terlalu panas atau sikapnya terlalu dingin.

Tapi karena dua-duanya lupa caranya Mencair. Dua-duanya sibuk mempertahankan “Batu Ego”-nya masing-masing.

​Pertanyaan untuk bekal melanjutkan perjalanan hari ini:

​”Jika nanti siang ada ‘hujan masalah’ di kantormu… apakah kamu akan ikut-ikutan membeku jadi dingin, atau kamu berani jadi satu-satunya orang yang tetap ‘Cair’ untuk mendinginkan suasana?”

​Renungan Rabu Pagi (Edisi Bubur DU).

Baca Berita Menarik Lainnya :