REFLEKSI | Gembira dalam Cobaan

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi

GEMBIRA itu tidak berarti harus saat hati kita senang saja, semisal mendapat keistimewaan, mendapat hadiah, mendapat kemudahan, dan sebagainya.
Untuk hal gembira semacam ini, itu adalah hal yang wajar, lumrah, dan biasa.

Gembira merupakan perasaan hati, puas akan karunia baik, yang Allah berikan.
Lalu bagaimana jika Allah memberikan hal sebaliknya, misal kekecewaan ?
Atau kesedihan, kepiluan, kedukaan ?
Bagaimana perasaan hatimu menyikapinya ?

Ini lah proses perjalanan pendewasaan diri kita. Kita selalu dikuatkan, dan didewasakan oleh waktu, untuk menghadapi cobaan dalam bentuk yang berbeda.

Kegembiraan adalah cobaan Allah yang diberikan pada kita, dalam bentuk kita mendapatkan berbagai macam kemudahan, dan terasa manis hidup ini, karena adanya kegembiraan itu.

Pun sebaliknya…
Ada keperihan, kepedihan, ia sama, cobaan bagi kita, yang sifatnya lebih terasa pahit, menyakitkan, dan membuat kita jatuh tersungkur dalam suatu penderitaan.

Sama sama cobaan, tapi beda yang terasa.

Lalu kita mencoba menyalahkan Tuhan !
Kenapa Tuhan tidak adil ?

Yang gembira itu, kenapa harus orang lain?
Padahal kitapun mau merasakan kegembiraan itu !

Apa jawaban Allah untuk hal ini !

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT pernah berfirman yang artinya: “Jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku turunkan ujian (kesulitan dan kesempitan) kepadanya. Hal itu agar ia memohon kepadaKu (agar ujian dapat diangkat darinya melalui doa-doa yang dipanjatkan).”

Nah, ujian, atau cobaan itu, adalah bentuk rasa cintanya Allah pada kita.
Dia sudah menakar, seberapa berat ujian yang sanggup kita pikul…dan beban ujiannya pun, sudah sesuai dengan kemampuan kita dalam menanggungnya.

Jika kita tahu dalam ujian itu ada nilai cintaNya… lalu yang di uji Allah dengan kelapangan, dan mendapat kesenangan, hingga ia bisa bergembira setiap saat itu bagaimana ?

Baca Juga :  Sebab Terindikasinya Covid-19 Disebabkan Sarana Prasana Kesehatan Tidak Terpenuhi

Jika kita melihat hanya casing, kita akan tertipu.
Banyak yang memiliki kekayaan sebagai tolak ukur adanya kesenangan, tapi hatinya merasa gersang, pikirannya tidak tenang, selalu was-was setiap saat, ada ketakutan yang berlebihan, sehingga ia pun tak merasa gembira dan beruntung dalam hidupnya…!

Perhatikan artis tenar dan populer yang mengakhiri hidupnya dengan keputus asaan !

Padahal dimata kita, hidupnya sudah serba ada, super mewah,dan tajir melintir.

Mengapa sampai setragis itu akhir hidupnya ?
Oh, ternyata ia merasa kesepian, terasa terasing hidupnya, dan merasa ada beban berat dalam hidup yang ia jalani.

Layaknya tikus mati di lumbung padi.
Manusia tak bisa hanya dilihat dari harta yang ia miliki.

Ada kebahagiaan lain yang ia cari.
Ada kemulyaan yang ingin ia miliki.
Apa itu ?

Di akui Tuhan, sebagai hambaNya yang patut Ia cintai.

Maka berbahagialah kita jika Tuhan menghadirkan kesempitan sebagai cobaan.

Senyumi saja, jangan gusar, kecewa, atau protes penuh kemarahan.

Itu Tuhan sedang menjaring kita yang sedang Ia dicoba. Jika Tuhan berhasil menjaring kita, ucapakan syukur…!!
Akhirnya Tuhan menemukan kita yang sama memiliki rasa cinta yang tinggi padaNya.
Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Menkominfo Jalin Kemitraan untuk Solusi Perluas Jangkauan Internet

Kam Mar 3 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate melakukan kunjungan kerja ke Spanyol. Dalam lawatan itu, Menkominfo membangun kemitraan dan kolaborasi untuk memperluas jangkauan internet di Indonesia. “Untuk memperluas jangkauan internet untuk dapat lebih terjangkau, kementerian mencari setiap solusi dan opsi yang memungkinkan termasuk dalam membangun […]