Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
ORANG HEBAT tak terbentuk begitu saja tanpa ditempa benturan- benturan yang menempa dirinya, dengan cara yang sangat keras.
Kerasnya tempaan, akan menjadikan manusia memiliki kesadaran lebih. Dan, kesadaran lebih inilah sumber ia menjadi tahan banting, menjadi gigih, mampu bertahan, dan mau berproses untuk mencari celah.
Sampai akhirnya kita menemukan jalan ke luar, serta mendapatkan bekal memiliki pandangan hidup yang bijak, belajar dari kehidupan pengalaman sendiri, bagaimana kegigihan kita, kesabaran kita, berbuah manis dan membuat kita keluar dari himpitan kesulitan sebesar apapun.
Yaa, bagi mereka yang menyaksikan, mungkin cobaan yang kita alami itu bagai hantaman tsunami yang memporakporandakan adanya kehidupan. Tapi nyatanya, kita kokoh tetap bertahan, malah bisa mengatasi kesulitan itu satu persatu, hingga bisa kita urai semuanya, sampai tuntas, dan luar biasanya, cobaan itu bisa kita lewati.
Ajaib, dan nyata !
Kita bisa memenangkan pertarungan kehidupan, padahal kita di KO berkali-kali hingga jatuh bangun, namun kitalah yang meraih juaranya.
Itulah ujian kehidupan.
Asal kita punya semangat, tekad kuat, nyali yang mau diuji, mau terus bangkit pantang menyerah, insyaAllah kita mampu menghadapi semua rintangan kehidupan.
Maka coba berpikir positiflah pada setiap kejadian yang menimpa pada diri kita, jangan berburuk sangka dulu.
Harus senang kita mendapat ujian atau cobaan, karena Allah tahu kapasitas kita itu ia golongkan sebagai manusia hebat.
Diuji Allah berarti kita sedang sangat dekat-dekatnya dengan Dia yang maha hebat. Dan, saat kita diuji, berarti Allah sedang mewariskan ilmu, mewariskan pandangan, untuk menjadi seorang visioner, mewariskan keahlian, dan Dia menitipkan kehebatanNya untuk kita, agar kita bisa memiliki itu, hingga kita pantas pada akhirnya menerima anugrah dariNya.
Allah beri ujian, sudah barang tentu Allah siapkan jalan bagi kita meraih kebahagiaannya.
Tidak ada ceritanya Allah membuat hambanya terpuruk !
Kecuali hamba itu teledor, salah jalan, dan masuk pada jebakan setan, yang sebetulnya ia tahu dan sadar, bahwa ia telah salah langkah, namun tetap ia nekad malah menceburkan diri pada lubang kehancuran dirinya.
Maka berbahagialah kita dengan ujian-ujian kehidupan.
Apakah pernah kita di uji mengalami kepahitan hidup ?
Di PHK, atau tak punya pekerjaan, terpojokan, hidup serabutan, sekarang bisa makan besok entah bagaimana !
Putus harapan, anak istri ditimpa sakit, tak memegang uang, dan uang yang ada, ternyata hanya cukup untuk hari ini saja, sedangkan itu tak seberapa !
Kita miskin, hidup susah, tak dipercaya manusia, kita bodoh, bebal, dan lain sebagainya !
Kemudian dilalah kita tak bisa memproyeksikan masa depan, dijauhi teman, merasa menjadi manusia tak beruntung, dan banyak kepiluan yang seharusnya tak kita rasakan, tapi itu kita alami bak cerita sinetron yang kita sendiri ternyata sebagai pelakunya, sedangkan orang-orang di sekeliling kita, menyaksikan jalan cerita hidup kita yang miris, penuh duka dan nestapa ini dengan gamblang, riil. Ia menjadi saksi akan kejadian yang menimpa hidup kita, bak seorang penonton setia.
Itulah ujian Allah.
Kita belum beriman jika belum di uji.
Kita belum di percaya Allah jika belum teruji.
Maka bersyukurlah bagi orang yang sudah Allah Uji.
Ia menjadi lebih menghargai kehidupan, selalu bersyukur, dan memiliki keyakinan yang luar biasa akan keberadaan Allah yang ghaib, yang bagi kita, ia sangat dekat, dan selalu menjadi pelindung, pemelihara kebaikan diri kita.
Alhamdulillah.***